<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2728266448404398223</id><updated>2012-02-15T23:32:06.802-08:00</updated><category term='cerita silat'/><title type='text'>5 Harimau Muda by sieklie</title><subtitle type='html'>Cerita silat ini aku buat sebagai apresiasi aku terhadap kebudayaan, keindahan dan terima kasih aku kepada ranah Minang tempat aku dibesarkan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://julaicersil.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>sieklie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17612761808487395655</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2728266448404398223.post-2250540629175692840</id><published>2010-03-16T22:52:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T22:52:18.305-07:00</updated><title type='text'>Bagian IV : PARA GURU</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pagi-pagi sekali sudah terlihat kesibukan orang di Batang Kapeh, ada yang sudah bersiap-siap masak untuk sarapan, mencuci, mandi, jalan pagi sambil menghirup udara segar. Benar-benar suasana terasa tenang dan damai, orang-orang yang tinggal di rumah Wali Bumipun sudah bangun sejak tadi, dan di halaman belakang rumah sudah terdengar suara-suara orang yang sedang berlatih silat. Terlihat Wali Bumi sedang berlatih silat dengan Masnan, sedangkan Kahar dan Basri duduk memperhatikan mereka dari arah teras belakang rumah. Di atas meja kecil dengan tempat mereka duduk sudah tersedia 4 gelas kopi yang mengeluarkan asap mengepul dan 1 kendi berisikan air putih segar untuk mereka nikmati di pagi yang cerah ini. Tak lama Siti keluar dari rumah sambil membawa sepiring pisang goreng dan ketan putih dicampur kelapa dan gula untuk menemani mereka sambil minum kopi. Di belakang Siti, menyusul Aswin yang baru bangun dengan mata yang masih sayu memandang ke halaman belakang melihat ayahnya bersilat dengan paman Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Selamat pagi uda Basri dan uda Kahar, apakah tidurnya nyenyak semalam ?” Tanya Siti kepada mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Selamat pagi juga Siti, wah awak (kamu) terlihat segar dan cantik sekali. Kami bisa tertidur dengan nyaman semalam walaupun sempat juga berpikir tentang mimpi aneh uda Bumi.” Jawab Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Selamat pagi Siti.” Jawab Kahar,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya perkataan itu yang sanggup keluar dari mulutnya karena dia sedang sibuk meredakan detakan jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang dari biasanya, dia takut orang bisa melihat bajunya bergerak akibat debaran jantungnya yang menggila setelah melihat Siti yang pada pagi ini terlihat sangat cantik dan segar seperti yang dikatakan Basri. Mengenakan baju kurung krem lembut dan sarung songket coklat yang sepadan serta rambut yang dikonde kecil dengan anak-anak rambut yang mengitari wajah ayunya membuat gadis ini terlihat sangat cantik, pantas saja gadis ini menjadi salah satu dari wanita tercantik di ranah minang ini. Bahkan Basri yang sudah mempunyai isteri saja dan mencintainya bisa melihat betapa cantiknya dara ini apalagi Kahar yang memang sudah lama mencintai Siti rasanya jantungnya seakan mau meledak melihat senyum manis dari Siti menjawab sapaan mereka. Kisah mereka berdua akan penulis ceritakan pada bab yang lain, tidak kalah serunya juga kisah perjumpaan dan perpisahan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba Aswin berteriak,”Wah, ayah kena pukulan paman, yah ayah payah masak dak bisa balas pukul paman di rusuk kiri.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teriakan Aswin ini membuyarkan pikiran Kahar mengenai Siti tapi juga mengagetkan mereka dengan pernyataan Aswin tersebut, karena apa yang dikatakan oleh Aswin benar adanya seharusnya Bumi bisa mengatasi pukulan dari Masnan dengan menyerang rusuk kiri Masnan sehingga akan membuyarkan serangan tersebut karena yang bersangkutan buru-buru hendak melindungi rusuk kirinya. Kedua orang yang sedang berlatih itu otomatis menghentikan kegiatan mereka dan memandang Aswin dengan terkejut sekali bahkan Basri dan Kaharpun terlihat sedang memandang bocah bandel itu dengan sama kagetnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh tidak masuk akal anak sekecil itu bisa melihat kelemahan seseorang dari sebuah pertandingan silat, apalagi sang ayah yang ditegur itu malah merasa tidak percaya anaknya bisa mengetahui kelemahannya dalam ilmu silat. Saking penasarannya sang ayah menanyakan kepada anaknya,” Aswin, kenapa kau bisa tahu, ayah harus menusuk tulang rusuk kiri pamanmu?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tadi aku disuruh kakek Inal untuk memperhatikan pertandingan ayah dengan paman, lalu kakek menunjukan kelemahan ilmu silat ayah dan paman,” sahut Aswin yang sekarang kelihatan jauh lebih segar dari tadi, matanya berkilat penuh cahaya semangat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka menjadi maklum karena ada orang pintar yang melihat kelemahan ilmu mereka, jadi setidaknya mereka tidak terlalu malu jika seandainya benar-benar Aswin yang bisa melihat kelemahan itu. Lain halnya dengan Kahar, dia mempunyai pemikiran sendiri, biarpun Aswin dibantu oleh pendekar nomor satu seperti Datuak Inyiak Balang tapi belum tentu dia bisa melihat pertandingan tersebut karena gerakan yang dilakukan oleh kedua orang tadi sungguh cepat sekali kalau hanya dengan mata awam biasa hal itu akan memusingkan kepala mereka karena saking cepatnya gerakan mereka. Tapi Aswin mengatakan tadi bahwa dia disuruh memperhatikan pertandingan mereka dan diberi petunjuk tentang kelemahan kedua pesilat tersebut, itu artinya Aswin bisa mengikuti pertandingan tingkat tinggi tadi dengan matanya. Kahar semakin penasaran dengan kehebatan Aswin, dia jadi ingin menguji sampai di mana kelihaian pendekar nomor satu itu dalam mendidik Aswin sehingga dalam usia semuda ini saja dia sudah bisa menyaksikan pertandingan tingkat tinggi dengan baik sekali, ini bukan sebuah hal yang biasa terjadi, hanya orang-orang yang sudah mempunyai ilmu tenaga dalam yang tinggi yang bisa melihat pertandingan tersebut dengan jelas sekali. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aswin, paman mau tanya, apa tadi Aswin bisa melihat pertandingan ayahmu dengan paman Masnan?” Tanya Kahar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bisa paman, memangnya kenapa paman ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa kamu lihat dengan jelas?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jelas, paman.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kamu ingat dak gerakan yang dilakukan ayah kamu dan paman Masnan?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Yah, paman manalah Aswin ingat semua, hanya beberapa saja.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hmmm… bisa dak Aswin peragakan buat paman?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tapi paman, Aswin belum bisa gerakan itu nanti malah tambah salah lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Gak apa-apa, paman hanya mau tahu saja seberapa kuat ingatan kamu, boleh kan ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hmmm, baiklah paman akan Aswin coba.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu yang lain mendengar percakapan antara Aswin dengan Kahar menjadi semakin tertarik, dan merekapun mulai berpikir kenapa anak sekecil Aswin bisa mengikuti pertandingan silat tadi dengan jelas seharusnya hanya orang-orang yang sudah mempunyai tenaga dalam yang tinggi yang bisa melihat karena dengan penyaluran tenaga dalam tersebut ke mata mereka maka mereka bisa melihat pertandingan tingkat tinggi seperti tadi itu. Bahkan Bumi tidak mempercayai pendengarannya bahwa anaknya bisa melihat pertandingan tersebut dengan jelas, dia berpikir anaknya hanya membual saja, makanya dia ingin tahu apakah benar anaknya bisa mengingat gerakan yang dia dan Masnan lakukan selama pertandingan tersebut. Jika terbukti anaknya tidak bisa lakukan gerakan tersebut berarti anaknya telah berbohong dan dia merencanakan untuk menghukum anak bandel ini karena sudah berani berbohong kepada orang tua, kecil-kecil pintar berbohong apalagi sudah tua bisa tambah runyam urusannya nanti. Dia sudah siap dengan pikiran hukuman apa yang pantas bagi anaknya yang sudah berbohong ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aswin dengan baju piyamanya bergerak menuju lapangan tempat tadi ayahnya bersilat, sesampai di sana dia menggerak-gerakan tangan dan kakinya seperti ingin melemaskan otot-otot tangan dan kakinya, terlihat wajahnya sangat santai, tapi anehnya adalah sinar matanya seperti berkilat-kilat kehijauan tanda bahwa otaknya sedang berpikir. Setelah beberapa saat dia melakukan semua itu, tiba-tiba dia mengambil sikap diam membisu dengan merangkapkan kedua tangannya di dada sambil memejamkan matanya dia mulai menarik nafas perlahan-lahan dan membuangnya dengan perlahan juga. Mereka yang melihat gerakan-gerakan yang dilakukannya merasa tertarik sekali, bahkan Masnan mulai merasakan adanya kekuatan lain yang berpusaran di sekitar mereka, tambah lama kekuatan tersebut tambah besar dan bergerak menuju sekeliling Aswin, berputar di sana untuk beberapa saat. Yang lain tidak merasakan hal yang sama dengan Masnan, tapi Basri, Kahar maupun Bumi mulai merasakan akan terjadi hal yang luar biasa sebentar lagi, mereka menjadi waspada karena kuatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan… Aswin mulai menggerakkan tubuh, tangan dan kakinya, sesuai dengan gerakan yang dilakukan oleh Bumi selama terjadinya pertandingan, yang mengherankan semua gerakan yang dilakukan oleh Aswin sangat mirip sekali dengan gerakan yang dilakukan oleh ayahnya bahkan walaupun masih kelihatan kaku tapi sungguh sudah memadai sekali. Bumi merasa sangat heran sekali karena dia merasa tidak pernah mengajari ilmu silat kepada anaknya, baru akhir-akhir ini saja dia meletakan dasar-dasar silat kepada anaknya tapi belum berkembang sampai sejauh ini. Aswin melakukan semua gerakan ini dengan wajah berseri-seri gembira seperti seolah-olah dia sedang bermain-main saja, matanya terlihat berkilat-kilat sekali-kali seperti mengeluarkan sinar kehijauan. Orang yang melihat ini menyangka mata anak itu berkilat karena pantulan sinar matahari pagi yang membias pohon-pohon hijau yang ada di sekitar lapangan tersebut. Tapi bagi Masnan itu merupakan sebuah hal yang menakjubkan sekali, dia menjadi teringat perkataan gurunya bahwa orang yang bisa mengeluarkan kilat sinar kehijauan dari matanya itu menandakan bahwa dia orang yang istimewa yang memang ditakdirkan untuk menjadi orang yang luar biasa dalam ilmu kebatinan nantinya. Tanpa perlu bersusah payah lagi dia secara otomatis mempunyai dasar kekuatan kebatinan dalam dirinya yang mana orang lain harus memupuknya setengah mati dan makan waktu bertahun-tahun tapi orang tersebut tidak perlu melakukan hal tersebut, hanya diajarkan sedikit saja dia akan dengan cepat sekali menguasainya bahkan dengan dasar yang dia punya dia bisa mengembangkannya lebih hebat lagi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan konon kabarnya dengan larikan sinar mata seperti itu dia bisa membunuh dengan membakar hangus bangsa jin, setan, lelembut, siluman dan iblis dengan sekali pandang. Sedangkan terhadap manusia, tidak menyebabkan dia seperti bangsa jin hangus terbakar tapi bisa membuat mereka berhalusinasi yang menyebabkan kematian mereka seperti mereka bisa menusuk diri mereka sendiri setelah mereka memandang mata tersebut dan mendengar perintah dari si pemiliknya. Semakin tajam terlihat kilatan sinar hijau di mata orang tersebut akan semakin kuat tenaga batinnya, karena itu menandakan yang bersangkutan sudah bisa mengontrol tenaga batinnya dengan sangat baik, bisa menggunakannnya kapan saja dan di mana saja. Sungguh kekuatan batin yang sangat menggiriskan sekali, kalau di salah gunakan akan berakibat membahayakan terhadap lingkungan sekitarnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masnan yang tenggelam dalam pikirannya tidak menyadari bahwa Aswin sudah selesai memperagakan gerakan silat ayahnya waktu melawan dirinya, sekarang Aswin sedang bersiap-siap mau menirukan gerakan yang dilakukan oleh Masnan. Kahar segera menyenggol siku Masnan untuk melihat apa yang dilakukan oleh Aswin, Masnan terkejut dan tersadar dari perenungannya tadi dan memandang Kahar untuk menanyakan apa maksudnya, Kahar menjawab dengan memajukan dagunya ke arah lapangan. Alangkah terkejutnya Masnan melihat Aswinpun dapat menirukan gerakan silatnya dengan baik walau masih terlihat kaku, tapi semua gerakan tersebut benar sesuai dengan gerakan yang dilakukan Masnan ketika melawan Bumi. Basri lebih terkejut lagi dengan mengucek-ngucek matanya dia memandang Aswin lalu Masnan bergantian dengan perasaan tidak percaya melihat pemandangan itu. Dia merasa benar-benar tidak percaya Aswin bisa melakukan hal itu, tadinya waktu Aswin melakukan gerakan ayahnya dia berpikir bahwa sang ayah pasti pernah mengajarkan teori silatnya kepada anaknya walaupun belum pernah praktek, tapi kini anak tersebut bisa melakukannya dengan mantap dan nyaris sebaik yang dilakukan oleh Masnan membuat dia mau tidak mau harus mempercayai matanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lain lagi dengan pemikiran Bumi setelah dia dikejutkan dengan kepandaian anaknya menirukan gerakan silatnya kini dia lebih dikejutkan lagi karena anaknya bisa meniru juga gerakan yang dilakukan oleh Masnan, sempat dia tidak mempercayai semua ini. Tapi setelah dia pikir dan renungkan kembali percakapan tadi, dia sadar guru anaknya ada di sekitar mereka tentu sang guru yang membantu muridnya untuk bisa mengingat semua gerakan silat, mulailah dia tenang karena semua sudah masuk ke logikanya ibarat bermain puzzle dia sudah menempatkan puzzle terakhir pada tempatnya maka semua sudah sesuai dengan logikanya dan ini semua masuk akal serta tidak mengherankan lagi baginya karena dia tahu guru anaknya merupakan pendekar nomor satu di ranah minang ini tentu saja dibandingkan dengan dia, baik ilmu silat dan tenaga dalamnya jauh sekali bedanya. Dan sewajarnya sang guru bisa memberi petunjuk kepada muridnya untuk melakukan gerakan silat yang dia dan Masnan lakukan tadi. Mulai dia dengan tenang dan bibir tersinggung senyuman memandang anaknya bersilat, tapi biar bagaimanapun dia bangga juga walau mendapat petunjuk dari gurunya, anaknya bisa melakukan semua gerakan tersebut tanpa salah sedikitpun seperti seolah-olah anaknya pernah melatih ilmu-ilmu mereka walau belum sempurna. Padahal anaknya baru sekali ini melihat gerakan silat Masnan, kalau dirinya mungkin saja anaknya sudah pernah lihat gerakan yang dia lakukan waktu melatih muridnya yang lain, tapi kalau dia boleh jujur ilmu barunya yaitu “Tinju Bumi Tendangan Maut” merupakan sebuah kombinasi ilmu silat yang mengandalkan kecepatan kaki dan tinju yang belum pernah dia perlihatkan kepada orang lain, hari ini baru pertama kali dia keluarkan karena dia ingin menguji keampuhan dari ilmu tersebut. Dan ternyata anaknya mampu menirunya dengan sangat baik sekali. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar seruan kaget dari Masnan, ketika Aswin mulai melakukan gerakan silat yang terakhir digunakannya ketika melawan Bumi. Masnan mengeluarkan ilmu barunya bernama “Hempasan Angin Terbangkan Awan”, sebuah ilmu yang hebat sekali yang terpaksa dikeluarkannya ketika dia kewalahan menahan serangan ilmu baru dari Bumi. Ilmu ini didasarkan dengan tenaga dalam yang lembut untuk menahan tenaga dalam keras yang menyerang, karena ilmu baru dari Bumi didasarkan pada tenaga dalam keras (atau dalam ilmu silat Cina disebut tenaga Yang). Ilmu ini terlihat tenang dan lembut seakan tidak bertenaga tapi di balik itu kekuatan mendorongnya sangat kuat sekali, Bumi yang tidak menyangka di balik kelembutan ilmu itu tersembunyi tenaga dorongan yang dasyat, terkejut sekali dan ini yang menyebabkan dia telat mengambil tindakan untuk antisipasi gerakan dorongan tadi sehingga dia bisa terpukul oleh Masnan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masnan terkejut sekali dengan gerakan yang dilakukan Aswin karena menurut hematnya ilmu ini tidak gampang sekali dikuasai banyak perubahan dan perkembangan dalam ilmu ini sehingga bagi anak kecil seusia Aswin seharusnya tidak bisa menguasainya dengan cepat sekalipun di bawah bimbingannya langsung. Dia membutuhkan waktu 9 tahun untuk bisa mengembangkan ilmu itu sedemikian rupa, tapi Aswin dengan sekali melihat saja dia bisa melakukan gerakannya sampai ke gerakan 39 selanjutnya dia tidak meneruskan karena memang di jurus ke 39 lah pertandingan antara Bumi dan dia berakhir. Benar-benar anak yang mengagumkan sekali dalam usia 5 tahun dia bisa menghapal dan meniru semua gerakan yang dilakukan oleh 2 orang tanpa kesalahan sedikitpun. Masnan, Kahar dan Basri menjadi kagum sekali pada Aswin, mereka mengeluarkan pujian atas kehebatan Aswin. Baru Bumi mau buka suara menyanggah pujian teman-temannya untuk anaknya dengan memberitahukan kepada yang lain bahwa guru anaknya ada di sekitar mereka, terdengar suara Aswin berseru ke arah pohon cemara yang besar dan rindang di belakang lapangan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kakek, bagaimana gerakan silatku, aku mampukan hafal dan meniru gerakan silat ayah dan paman? Tadi kakek bilang mau taruhan sama aku bahwa aku tidak bisa menghafal dan meniru mereka berdua, ternyata aku mampu berarti aku menang yah kek… Horeeee… aku menang….” Kata Aswin dengan gembira sambil berjingkrak-jingrak kegirangan. “Itu artinya aku bisa menagih hadiah kemenanganku pada kakek….cihuyyy !” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar jawaban dari arah pohon tersebut, “Bagus sekali. Kamu memang bisa melakukannya, baiklah kakek akan memberikan kamu hadiah, kamu mau apa dari kakek.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh aneh sekali tidak terlihat ada orang di sekitar pohon itu, mereka berusaha mengerahkan mata mereka ke arah pohon supaya bisa melihat wajah pendekar nomor satu itu tapi tetap saja mereka tidak bisa melihatnya. Masnan memejamkan matanya dan mengerahkan tenaga batinnya untuk bisa membantu matanya melihat orang yang duduk di sekitar pohon tersebut. Setelah itu dia membuka matanya dan melihat memang di ujung dahan cabang pohon yang agak tinggi dia melihat seorang pria berkumis misai putih sedang duduk tenang seakan tidak takut akan dahan tersebut akan patah akibat berat tubuhnya, wajah pria tersebut tidak terlihat jelas akibat dia duduk membelakangi matahari. Segera Masnan merangkapkan kedua tangan di dadanya dan mengarahkan pandangan matanya ke arah pria tua itu, “Salam Sejahtera dan selamat bertemu, Datuak.” Masnan menerka inilah dia si pendekar nomor satu ranah Minang, Datuak Inyiak Balang sehingga dia langsung menyebut pria itu dengan sebutan datuak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang lain terbengong melihat ucapan dan gerakan Masnan ke arah pohon itu, bahkan Bumi mencolek Masnan,”Masnan, memangnya kau bisa lihat datuak itu? Aku tidak melihat adanya orang di sekitar pohon itu?” katanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ayah, masak tidak bisa melihat kakek ? Itu orangnya sedang duduk di dahan pohon sebelah kiri itu.” Kata Aswin keheranan karena ayahnya tidak bisa melihat kakeknya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kalian semua segera kerahkan tenaga batin kalian salurkan ke mata kalian lalu lihatlah ke arah pohon itu kembali.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera semua melakukan yang disuruh oleh Masnan, setelah itu mereka memandang ke arah pohon dan sekarang mereka memang melihat ada orang di sana tapi tidak terlihat jelas wajahnya. Segera mereka melakukan hal yang sama yang dilakukan oleh Masnan memberikan salam kepada orang tua itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Salam sejahtera untuk kalian semua. Maaf jika aku mengganggu kesenangan kalian, aku si orang tua ini paling senang melihat pertandingan silat jadi tanpa sadar sudah datang ke sini dan mencuri lihat pertandingan itu.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Datuak, kenapa tidak turun dan singgah ke rumah kami yang buruk ini, sekalian memperdalam perkenalan kita karena kami sudah lama mengagumi anda.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih Bumi, bukan maksud hatiku untuk menampik tawaranmu itu, hanya belum saatnya kalian lebih mengenal aku, ini kebetulan saja karena aku memang suka iseng melihat orang yang bersilat sehingga aku hadir di sini. Kalian juga harus mengerahkan tenaga batin untuk melihatku dikarenakan memang jasadku tidak ada di sini, yang hadir hanya rohku saja. “ terdengar senyuman dalam jawaban itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bagaimanapun sebagai ucapan terima kasihku pada undangan kalian, aku akan memberikan sepatah dua patah kata untuk kamu dan Masnan?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tentu saja boleh, kami senang sekali jika anda mau memberikan petuah bagi kamu yang muda ini,” sahut Bumi dengan cepat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Benar datuak silahkan saja, kami siap mendengarnya, “ kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Baiklah kalau begitu aku tidak perlu basa basi lagi, untukmu Bumi, belajarlah sifat unsur tanah dengan baik, perhatikanlah bagaimana tanah menjadi bagian dari kejadian alam sehingga kamu akan mengerti perbaikan apa yang harus kamu lakukan pada ilmumu yang terakhir itu. Dan aku melihat kamu harus memperdalam ilmu kebatinanmu juga, karena unsur tanah dalam ilmu terakhirmu sangat bagus sekali untuk digunakan ketika melawan bangsa kegelapan. Sudah saatnya aku memberikan kepadamu, buku yang dititipkan guruku untuk diberikan kepadamu, ilmu dalam buku ini sangat bermanfaat sekali buatmu untuk melatih muridmu melawan bangsa kegelapan. Nama ilmu itu Jubah Gaib Tanpa Bayangan, ilmu ini akan membantu kamu untuk memahami ilmu barumu, jika kamu sudah mengerti dengan baik, mulailah lebur ilmu barumu ke dalam ilmu Jubah Gaib Tanpa Bayangan sehingga ilmu kamu akan meningkat dengan sangat pesat sekali. Ilmu ini bisa kau gunakan untuk manusia dan juga bangsa kegelapan, setelah kau hafal dan mengerti isi buku ini maka kamu jangan heran buku itu akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu 3 bulan dari hari pertama kamu mulai membuka halaman pertama buku tersebut, jadi saranku hafal dan pelajarilah baik-baik isi buku ini setelah itu baru kau praktekkan. ” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba terdengar desiran angin yang bergerak cepat ke arah Bumi, segera dia membuka tangannya bermaksud untuk menangkis angin tajam itu, tapi terdengar datuak berkata,” Buka tanganmu Bumi dan terimalah buku ini.” &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera Bumi melakukan permintaan beliau, dan baru dia membuka tangannya, tiba-tiba di tangannya sudah ada sebuah buku tipis bersampul coklat. “Simpan dan pelajarilah buku ini baik-baik, didiklah muridmu nanti dengan dasar-dasar ilmu yang ada di buku itu dan ilmu barumu karena waktumu untuk mendidik dia tidak lama hanya 5 tahun saja jadi kamu harus serius mendidiknya dengan kedua ilmu pamungkas ini saja, ditambah ilmu lain yang berhubungan dengan pesan yang diberikan kakek guruku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bumi keheranan dengan pernyataan datuak, mengapa beliau bisa tahu mengenai mimpi anehnya itu, tapi kemudian dia ingat dengan siapa dia berhadapan dan dia menjadi maklum. Segera buku itu disimpan ke dalam kantong bajunya dengan hati-hati sekali dan berjanji dalam hati untuk sungguh-sungguh mempelajarinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih banyak datuak, kepercayaan datuak pada saya tidak akan saya sia-siakan dan pesan kakek pasti akan aku laksanakan dengan sebaik mungkin.” kata Bumi dengan penuh hormat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Untukmu Masnan, aku lihat ilmumu sudah berkembang lebih baik tapi terlalu banyak perubahan gerak yang kau lakukan untuk itu saranku perhatikanlah unsur angin di sekelilingmu dan lihatlah bagaimana mereka bergerak mendorong awan dengan lembut sehingga manusia tidak merasakan bahwa awan itu sudah berpindah tempat. Jika kamu sudah bisa melakukan hal itu dengan baik, maka kamu tidak memerlukan perubahan gerak sebanyak yang sekarang bahkan dengan jurus yang simple dan tidak banyak perubahan akan lebih efektif untuk mengalahkan musuhmu dengan cepat. Aku juga tahu ilmu kebatinanmu paling tinggi diantara teman-temanmu, oleh karena itu dalam waktu dekat ini ada seorang pertapa sakti yang akan datang untuk membantumu dalam ilmu kebatinan, saranku minta padanya untuk mengajarkan ilmunya yang bernama Halimun Senja Pengejar Roh, lalu kau gabungkanlah ilmu itu dengan ilmu barumu itu agar bisa membantu dalam menghadapi bangsa kegelapan.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih datuak, aku pasti akan melakukan seperti yang datuak sarankan.” Kata Masnan juga dengan perasaan hormat yang mendalam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendengar uraian dari Datuak ini, sebenarnya mereka berdua merasa tergetar hatinya karena anjuran dari Datuak benar-benar membantu mereka membuka mata mereka akan kelemahan dari ilmu masing-masing. Hanya dengan perenungan sebentar saja, mereka sudah merasakan manfaatnya dan menyadari bahwa mereka harus kerja keras dan berusaha lebih tekun lagi untuk menyempurnakan ilmu baru tersebut. Mereka tidak sadar telah berdiam diri cukup lama untuk merenungkan apa yang dikatakan oleh Datuak. Mereka berjanji dalam hati untuk melaksanakan sesuai dengan saran datuak dan diam-diam mereka bersyukur sekali ternyata secara tidak terduga mereka mendapat tambahan ilmu sakti lagi untuk menambah kedalaman ilmu silat dan batin mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang lain mendengarkan uraian Datuak, mulai juga memikirkan perkembangan ilmu silat mereka, seandainya saja mereka mendapat petunjuk juga dari datuak mungkin ilmu mereka juga akan berkembang seperti kedua teman mereka itu. Lain lagi yang menjadi pemikiran Aswin, dia mulai tidak sabar dengan semua ini, ingin segera mendapatkan hadiah dari kakek Inal. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena itu dia mulai dengan tidak sabar merengek kepada datuak,” Kakek, mana hadiah yang kakek janjikan untukku, aku mau pergi mandi, badanku sudah terasa lengket karena keringat.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Anak nakal, kau memang tidak sabaran sekali. Baiklah, buka mulutmu sekarang.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Cihuy, aku dapat buah enak lagi, baik kek. Ahhhh…” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru dia buka sebentar mulutnya terasa ada sebuah benda masuk ke dalam mulutnya dan rasa manis mengalir di lidahnya, langsung dia melonjak kesenangan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih kakek, sekarang aku mandi dulu yah kek,” langsung Aswin berlari ke dalam rumah untuk pergi mandi, dan Siti mengikuti bocah nakal itu karena kuatir dia akan kelamaan main air sehingga menyebabkan banjir di seluruh ruangan mandi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adapun benda yang dimasukan ke dalam mulut Aswin oleh Datuak, adalah buah langka yang bernama kaluang darah yang berasal dari Rimbo Kaluang, sebuah hutan yang sangat mengerikan untuk dikunjungi oleh manusia biasa. Banyak orang yang sudah datang ke tempat ini tidak ada satu juga yang kembali, baik pendekar-pendekar dari ranah minang sendiri bahkan sampai dari luar seperti pendekar dari tanah Java, pendekar dari Borneo pernah mendatangi Rimbo Kaluang tapi tidak satu juga kembali dari sana. Mereka seperti ditelan bumi dan tidak pernah kelihatan bayangannya lagi, sanak saudara dan teman mereka sudah menunggu di luar Rimbo tapi sudah berhari-hari bahkan berbulan-bulan tidak juga ada yang keluar. Ada yang coba masuk untuk mencari tapi tim pencari tersebutpun sepertinya hilang ditelan bumi, akhirnya tidak ada satu orangpun berani ke sana lagi. Sebenarnya para pesilat hendak memasuki wilayah Rimbo Kaluang ini dikarenakan ada legenda mengenai daerah ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut berita yang beredar di dunia persilatan bahwa di rimbo ini terdapat buah langka yang bernama kaluang darah makanya rimbo ini disebut Rimbo Kaluang. Buah ini sangat berkhasiat luar biasa sekali, selain membuat yang memakannya kebal terhadap racun tapi juga menambah tenaga dalam serta memberi kekebalan tubuh yang baik sekali terhadap penyakit-penyakit yang sering menimpa manusia seperti demam, flu, batuk dan lain-lain. Tapi makan buah ini tidak bisa sembarangan harus ada aturannya yang hanya diketahui jika mereka menemukan istana Damar Pelangi di dalam rimbo itu. Barang siapa yang bisa menemukan istana tersebut dan menguasai pedang Damar Pelangi maka orang itu akan bisa menjadi pemimpin dunia persilatan. Di dalam istana itu sendiri tersimpan 5 senjata maut yang pernah menggetarkan di dunia persilatan dan dunia kegelapan pada masa dulu yaitu Tongkat Kayu Kaluang, Lacuik (Cambuk) Bara Mentari, Saluang Kemala Biru, Golok Sabit Hitam, dan terakhir adalah Pedang Damar Pelangi. Mengenai senjata-senjata ini akan penulis kisahkan keistimewaannya setelah senjata itu dikuasai oleh tuannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain kelima senjata tersebut, di situ juga tersimpan 2 buku yang hebat sekali yaitu 1 buku silat yang menuliskan semua inti sari dari ilmu silat yang ada di dunia. Keistimewaan buku ini selain menuliskan inti sari ilmu silat juga mengajarkan cara menambah tenaga dalam dengan cepat tanpa perlu sampai berpuluh-puluh tahun jika sudah mengetahui rahasianya. Anehnya bagi yang membacanya bisa berbeda-beda cara mereka menafsirkan arti sajak-sajak yang digunakan sebagai petunjuk atas ilmu silat tertinggi dalam buku itu, sehingga peningkatan ilmu silat dan tenaga dalam merekapun jadi berbeda pula setiap orangnya tergantung pada kemampuan dan bakat yang bersangkutan. Dan 1 buku lagi berisikan cara-cara meningkatkan ilmu kebatinan tingkat tinggi dan mantra-mantra yang bisa digunakan untuk melawan bangsa kegelapan serta kekuatan dan kelemahan dari masing-masing jenis bangsa kegelapan itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditambah lagi ada berita yang lebih membuat orang tambah berbondong-bondong kesana, adanya harta karun yang disimpan dalam istana itu. Bahkan istana itu sendiri juga sangat indah bermandikan sinar warna warni seperti pelangi di saat matahari bersinar, dan pada malam hari jika mempunyai tenaga batin yang kuat akan bisa juga melihat istana itu di kelilingi sinar yang sangat indah sekali. Hanya orang yang berjodoh saja yang bisa memasuki istana ini dan mengambil ke 5 senjata serta mempelajari buku ajaib itu. Bahkan jin-jin, siluman, dan semua kuasa kegelapan yang ada di dalam rimbo itu tidak bisa mendekati istana Damar Pelangi, seakan-akan ada dinding kekuatan yang hebat sekali memagari istana ini sehingga siapapun tidak bisa memasukinya. Setiap bangsa kegelapan hendak mencoba menembus dinding kekuatan itu selalu hangus terbakar, bahkan untuk iblis yang mempunyai tingkatan tertinggi sekalipun tidak bisa memasukinya, begitu juga dengan manusia sekalipun dia merupakan pendekar jempolan jika tidak berjodoh dengan istana ini maka akan kena luka dalam yang parah sekali sehingga menyebabkan kematian akibat hantaman dari dinding kekuatan Damar Pelangi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jadi kenapa buah ini bisa berada di tangan Datuak Inyiak Balang dan diberi makan kepada Aswin ? Ini karenakan Datuak berhasil memasuki Rimbo Kaluang dan memasuki istana Damar Pelangi tersebut, memang beliau beruntung sekali bisa masuk ke istana itu tapi sayang sekali beliau tidak berjodoh dengan ke 5 senjata dan buku silat yang ada di sana serta harta karun yang ada karena untuk membuka pintu yang menyimpan harta karun itu dibutuhkan lima senjata berikut dengan tuannya yang sudah dilatih dengan buku silat yang tersimpan di sana. Biarpun begitu tetap tidak sia-sia Datuak masuk ke istana itu, di ruang utama bangunan itu di dindingnya tertulis syair-syair yang indah dan gambar-gambar bagus, jika orang yang melihatnya sudah mempunyai ilmu tenaga dalam dan batin tingkat tinggi akan bisa melihat bahwa gambar-gambar tersebut mengandung maksud karena di sana tergambar cara dan akibat jika memakan buah kaluang darah tanpa petunjuk seperti yang tertera di gambar tersebut. Sedangkan syair-syair itu ternyata menyimpan makna untuk 2 ilmu silat tingkat tinggi yaitu Ilmu Cakar Maut Harimau Dewa dan Ilmu Lompatan Kayangan Harimau Setan yang memang sudah sesuai sekali dengan dasar ilmu yang sudah dimiliki oleh Datuak. Ilmu tadinya diperkirakan sudah musnah bersama menghilangnya Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman, karena kedua ilmu merupakan salah satu dari ilmu pamungkas yang dimiliki oleh kedua manusia sakti ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan kedua ilmu inilah maka Datuak Inyiak Balang bisa menduduki sebagai tokoh nomor satu di dunia persilatan ranah minang, bahkan menjadi tokoh terkenal mumpuni juga di Tanah Java dan Borneo . Sedangkan mengenai buah kaluang darah yang tergambar di lukisan-lukisan yang ada di dinding, menggambarkan bahwa buah ini di satu sisi sangat baik sekali dimakan kalau tahu cara memakannya tapi jika tidak akan terjadi sebaliknya, barang siapa yang memakannya tanpa aturan maka semua lubang yang ada di tubuh orang tersebut akan mengeluarkan darah karena semua urat tubuhnya yang mengalirkan darah akan pecah akibat sel-sel darahnya membesar sehingga uratnya tidak kuat menampung membesarnya sel-sel tersebut. Buah Kaluang Darah bentuknya seperti donut kecil sekali sebesar buah ceri dan berwarna seperti darah bahkan tetesan airnya saja berwarna merah seperti darah manusia, berbau harum dan rasanya manis yang enak di lidah. Di dalam Rimbo Kaluang ini tanaman ini tumbuh subur hanya di taman belakang istana Damar Pelangi dikelilingi dengan rimbunan bunga racun Asmara Hitam. Tanaman ini hanya berbuah 10 biji dalam 7 tahunnya, jika sudah dipetik buah matangnya maka harus menunggu 7 tahun lagi baru dia berbuah lagi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buah Kaluang Darah ini dapat dimakan oleh anak kecil berusia 3 tahun dimana seluruh sel-sel darahnya belum terlalu terkontaminasi dengan zat-zat yang masuk kedalam tubuhnya tapi di satu sisi sel darahnya juga harus mempunyai sistem kekebalan bagus ini bisa dites dengan cara mengeluarkan darah anak itu dan mencampurnya dengan tetesan air rendaman buah itu, jika berwarna tetap merah muda maka aman untuk dimakan tapi jika berubah menjadi merah darah yang pekat sekali maka berarti anak itu tidak bisa makan buah kaluang darah. Sekali sudah makan buah kaluang darah maka otomatis system tubuh si anak akan bisa menerima buah ini sebagai makanan dan mencernanya untuk disalurkan ke seluruh tubuh. Hanya buah ini boleh dimakan 3 bulan sekali 1 butir tidak bisa dimakan sekaligus banyak karena tidak berefek bagus juga bagi yang memakan kalau dia kuat dia akan bertahan tapi jika tidak akan langsung meninggal dengan tubuh yang meledak akibat sel-sel darahnya membesar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan bagi orang dewasa, buah kaluang ini juga harus hati-hati memakannya, hanya boleh dimakan separuh saja setiap 6 bulan sekali artinya hanya boleh 1 buah 1 tahun, jika memakan lebih dia akan langsung meninggal saat itu juga karena reaksi sel-sel darah merah pada tubuh orang dewasa lebih cepat bereaksi terhadap buah ini dibandingkan anak-anak. Dan pertama kali Datuak Inyiak Balang datang ke istana tersebut hampir 30 tahun yang lalu dan saat itu buahnya sudah membusuk akibat kematangan dan sambil dia belajar ilmu silat yang ada di istana serta mempelajari riwayat istana dari lukisan yang ada di dinding, dia menunggu juga pohon kaluang berbuah. Tapi sayang belum sempat dia menikmati buah kaluang pada tahun kelima setelah kedatangannya dia menerima wangsit dari gurunya untuk menghancurkan kekuatan jahat yang mulai berkembang di ranah minang. Membutuhkan waktu hampir 4 tahun untuk menyelesaikan pertikaian yang terjadi saat itu. Saat dia balik ke istana buah itu sudah membusuk lagi, kembali dia bertapa di istana sambil menunggu buah kaluang matang. Kembali dia mendapat wangsit dari gurunya untuk pergi ke tanah Java dan Borneo, akhirnya setelah berkelana hampir 10 tahun lamanya, kira-kira 10 tahun yang lalu dia kembali ke istana untuk semakin memantapkan ilmunya dan menunggu kematangan buah. Untunglah ketiga kali ini dia berhasil mendapat buah kaluang yang matang sebelum gurunya memberi tugas baru untuknya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah buah matang sesuai petunjuk harus dipetik tidak dengan tangan tapi dengan menggunakan kain sutra hitam yang ada di meja sembahyang ruang dalam, karena kalau menggunakan tangan, akan kena racun bunga Asmara Hitam yang sangat berbahaya itu, kain ini digunakan untuk menutupi rimbunan bunga dan menjejakan kaki di atas kain lalu menggunakan ujung kain memetik buah kaluang, itu artinya si pemetik harus memiliki ilmu peringan tubuh yang bagus sekali sehingga bisa berdiri di atas rimbunan bunga yang kecil-kecil berwarna abu kehitaman itu. Setelah mendapatkannya di bungkus dengan kain sutra itu dan direndam dalam air kolam yang ada di tengah istana selama 10 hari, air itu sangat dingin sekali dan berkhasiat mengawetkan buah kaluang serta membersihkan serbuk racun bunga Asmara Hitam yang telah dinetralisir oleh kain sutra hitam itu. Baru kemudian bisa dipegang oleh tangan manusia dan dimakan. Jika ingin buah ini awet tidak rusak bertahun-tahun maka buah ini harus direndam dengan air kolam, dan kebetulan pada saat Datuak berkeliling melihat istana sampailah dia di dapur istana di sana dia melihat ada sebuah tabung kecil yang terbuat dari logam yang berwarna kebiru-biruan yang indah sekali karena tertarik dia mengambil tabung itu dan memeriksanya. Tabung itu terasa dingin sekali tapi berkat tenaga dalamnya yang hebat dia tidak merasakan hawa dingin dari tabung tersebut. Buah Kaluang yang telah dipetiknya disimpan di dalam tabung berikut dan diisi dengan air kolam sehingga suhu air kolam tersebut tetap terjaga dalam tabung itu. Dan kain sutra hitam yang sudah digunakan harus dilipat kembali dan diletakkan ke meja sembahyang kalau ini tidak dilakukan maka penggunanya akan hidup dalam bahaya karena roh jahat yang menyertai kain itu akan selalu mengganggunya sampai mati. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kain sutra hitam itu sendiri entah terbuat dari apa, sangat kuat sekali dan lentur serta rapat sekali tenunannya, sehingga terlihat sangat hitam sekali bahkan bila ditaruh di atas cahaya, dan cahaya tidak bisa menembus kain itu, oleh karenanya kain itu disebut Kain Tenun Siluman. Jika tidak ada cahaya maka kain ini benar-benar tidak terlihat sama sekali, sepertinya menyatu dengan kegelapan. Bangsa siluman, jin dan setan mengincar barang ini karena konon kabarnya ratusan tahun yang lalu kain ini merupakan kain kesayangan dari Maharaja Kegelapan yang paling sakti mandraguna dibandingkan dengan maharaja yang lain, yang dililit ke sekujur tubuhnya. Diyakini apabila mereka mendapatkannya maka mereka akan mendapatkan kesaktian dari Maharaja itu dan diangkat sebagai Maharaja Kegelapan yang baru karena kain ini merupakan salah satu symbol penguasa Kerajaan Kegelapan. Sedangkan bunga Asmara Hitam merupakan bunga lambang kerajaan Kegelapan, oleh karena itu bunga ini bisa dinetralisir dengan menggunakan kain Tenun Siluman. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama juga dengan 5 senjata utama itu hanya yang berjodoh saja bisa menggunakan kekuatan dari kain Tenun Siluman ini, manusia hanya bisa menggunakannya sebagai alat untuk mengambil buah kaluang darah, lain dari itu tidak ada gunanya sama sekali, sama seperti kain biasa, bahkan yang tidak kuat imannya bisa kerasukan roh jahat atau mati dengan tidak sempurna alias menjadi budak bangsa kegelapan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah hampir 7 tahun Datuak bertapa di sana, dia mendapat wangsit dari gurunya mengenai Aswin, maka keluarlah dia dari Rimbo Kaluang untuk mencari anak yang akan dilahirkan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan. Petunjuk gurunya juga yang menyuruh untuk memberikan buah kaluang darah kepada Aswin, karena buah ini benar-benar sangat berkhasiat sekali melawan racun, bahkan buah ini bisa menetralisir racun bunga asmara hitam. Rendaman buah kaluang darah bisa memunahkan bermacam-macam racun tapi dibutuhkan setetes darah dari orang yang sudah makan 2 atau lebih buah kaluang darah untuk bisa memunahkan racun bunga asmara hitam. Karena kelak Aswin akan memerlukan kekuatan buah kaluang darah untuk melawan sang Maharaja Kegelapan yang menggunakan Ilmu Tebaran Bunga Asmara Hitam. Makanya sejak bocah itu berusia 3 tahun setiap 3 bulan sekali Datuak memberikan buah ini kepada dia untuk dimakan, dan bocah ini sangat menyukainya, selalu merengek-rengek memintanya karena Datuak pusing menolak permintaan bocah bandel ini maka dibuatlah peraturan setiap Aswin bisa melakukan sesuatu yang hebat dalam 3 bulan maka dia diberikan buah kaluang ini. Dasar bocah kecil yang tidak mengerti apa-apa dia menyanggupi syarat tersebut tapi keesokannya dia lupa dengan penuh kesabaran akhirnya datuak berhasil membuat bocah ini mengerti arti perjanjian mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan hari ini sebenarnya sudah tiba waktunya Aswin harus memakan buah itu lagi dan kebetulan terjadi perestiwa itu maka sebagai imbalan dari perbuatan hebatnya dia diberikan hadiah buah kaluang darah oleh gurunya. Dia senang sekali dengan usianya yang bertambah, semakin dia mengerti bahwa dia harus melakukan sesuatu yang berkenan di hati gurunya agar bisa dapat hadiah buah enak itu dalam waktu 3 bulan sekali. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali kepada Bumi dan teman-teman serta Datuak Inyiak Balang, setelah memberi petunjuk kepada Bumi dan Masnan, segera Datuak ingin berlalu dari situ tapi belum sempat dia berlalu, Kahar buru-buru bertanya kepada beliau,”Datuak, jika berkenan bersediakah Datuak juga memberi petunjuk kepada saya mengenai ilmu silat saya?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kenapa harus saya, anak muda? Bukannya kamu sendiri sudah merupakan orang yang sudah diakui kesaktiannya?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Datuak, saya sangat menghormati anda dan sangat menghargai pendapat dari datuak. Saya ini apalah, tidak ada hebatnya hanya kebetulan saja ilmu saya lebih baik dari lawan saya selama ini, kalau saya melawan datuak sudah pasti saya kalah jauh. Oleh karena itu saya ingin sekali mendengar pendapat Datuak mengenai ilmu silat saya,” kata Kahar penuh dengan kerendahan hati.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Saya juga datuak, saya ingin sekali kalau memungkinkan datuak bisa memberi saran untuk ilmu silat baru saya ciptakan akhir-akhir ini,” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan menghela nafas, orang tua itu berkata,”Baiklah, aku akan membantu kalian karena kalianpun membawa misi untuk membantu mendidik anak-anak yang kelak akan menjernihkan kegelapan yang akan merasuki alam semesta ini. Cobalah engkau dulu, Basri, aku akan membantumu melihat kelemahan ilmu barumu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera Basri bergerak di lapangan dan langsung mengeluarkan golok yang tersampir di pinggangnya dan mulai bersilat memperagakan ilmunya yang baru bernama ilmu Kilatan Golok Pencari Emas, ilmu didasarkan pada kecepatan gerakan golok yang berkelebatan sehingga terlihat seperti adanya kilatan-kilatan kekuning-kuningan di sekitar tubuh Basri akibat energi tenaga dalamnya yang disalurkan ke goloknya. Ada 15 jurus golok yang diperagakan oleh Basri dan dia melakukannya sepenuh hati tidak tanggung-tanggung karena dia tidak mau rugi mumpung ada orang hebat yang bisa memberikan saran yang bermanfaat baginya. Setelah ke 15 jurus itu dimainkannya, dia berhenti dan mengusap keringatnya sambil memandang ke arah pohon tempat di mana Datuak duduk tenang berayun-ayun di dahan pohon. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar Datuak berkata,” Basri, ilmu sudah bagus sekali tetapi terlihat sekali engkau tidak mau rugi dalam melakukan setiap gerakan, malah hal ini menghambat perkembangan yang bagus pada ilmu itu. Apa kamu bisa bermain catur ?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan keheranan Basri menjawab,”Bisa datuak, kenapa?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Basri, ada kalanya di permainan catur kita harus mengalah untuk meraih kemenangan yang lebih besar, jika kita tidak melakukan hal itu kita tidak akan mendapatkan hasil yang memuaskan bahkan hanya bisa diam tidak bergerak-gerak menghabiskan waktu dan tenaga saja. Kenapa kita tidak melakukan pengorbanan yang tidak seberapa tapi bisa menghasilkan hasil yang jauh lebih baik dari sekarang?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Basri langsung memikirkan kata-kata Datuak itu, dan benar dia mulai merasakan adanya kelemahan yang menyolok mulai pada jurusnya yang ke 8 dan seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Basri, aku tahu kamu mempunyai ilmu peringan tubuh yang hebat kalau tidak salah nama ilmu itu ilmu Langkah Angin Menembus Badai, kenapa tidak engkau gabungkan ilmu langkah itu dalam ilmu baru itu, mungkin hasilnya akan jauh lebih baik lagi. Dan kau perlu meningkatkan ilmu kebatinanmu, aku tahu gurumu pernah memberikan padamu sebuah buku mengenai ilmu kebatinan, ilmu yang ada di buku itu namanya Mato Elang Jelajah Alam. Sebuah ilmu yang hebat sekali, kau harus mulai melatihnya dan kombinasikanlah ketiga ilmu itu sehingga kau bisa mendidik muridmu melawan bangsa kegelapan nantinya. ” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Basri terkejut sekali Datuak mengetahui bahwa gurunya pernah memberikan dia sebuah buku kepadanya, sebenarnya dia pikir ilmu kebatinan itu tidak terlalu perlu dipelajari sehingga dia lebih memfokuskan diri pada ilmu silat saja. Tidak pernah terpikirkan olehnya ternyata ilmu itu hebat sekali sehingga Datuak memberikan saran untuk mempelajarinya. Dia berjanji dalam hati sepulangnya dari sini dia akan langsung mencari buku itu di perpustakaannya karena dia mulai merasa pasti ada sebabnya sehingga Datuak meminta mereka semua meningkatkan ilmu kebatinan masing-masing. Tambah dipikir lagi saran dari Datuak, tambah semangat dia untuk cepat-cepat pulang membawa muridnya dan segera menyempurnakan ilmunya menjadi seperti yang dikatakan oleh Datuak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih banyak, Datuak, akan aku turuti semua saran yang datuak berikan padaku hari ini, mudah-mudahan di perjumpaan kita di masa datang, Datuak bisa melihat kemajuan ilmuku itu.” Kata Basri sambil merangkapkan kedua tangan di dada dan menundukkan kepala sebagai rasa hormat dan terima kasih. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bagaimana denganmu Kahar? Apa ada ilmu baru yang ingin kau minta petunjuk dariku?” Tanya Datuak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ada Datuak, aku menamakan ilmu ini Jentikan Bara Panah Api.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hmmmm nama yang berunsurkan api, berarti engkau bermain dengan energi panas. Baiklah aku akan lihat ilmumu itu.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kahar berjalan menuju ke lapangan, teman-temannya yang tadinya kelihatan masih sibuk dengan pikiran masing-masing sekarang mereka memandang ke arah Kahar karena mereka ingin tahu sampai di mana kehebatan ilmu saudara terkecil mereka ini. Jauh dalam lubuk hati mereka, mereka juga ingin bisa menyamai kesaktian adik mereka ini, karena mereka tahu adik mereka masuk ke daftar tokoh yang dianggap mumpuni oleh orang-orang di dunia persilatan, malu rasanya jika ilmu mereka jauh bedanya dengan sang adik. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan Kahar sedang konsentrasi menyalurkan tenaga dalamnya ke 2 tangannya, terlihat telapak tangannya berubah warna menjadi merah, dan mulailah dia bergerak jurus pertama dari Jentikan Bara Panah Api. Begitu dia mulai terasa hawa di sekitar lapangan tersebut berubah panas sekali, dan setiap jentikan yang dilakukannya seolah-olah seperti mengeluarkan percikan-percikan api yang bergerak seperti panah menuju sasaran yang ditujunya. Jurus ini terdiri dari 9 jurus yang mempunyai variasi gerakan yang sangat dinamis dan cepat sekali. Tidak terasa 9 jurus sudah selesai dimainkan oleh Kahar, terlihat peluh membasahi semua bajunya sehingga menjadi kuyub sekali. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hihihi… paman Kahar sudah mandi juga yah… mandi keringat….. ah bau… makanya jangan main panas-panas bisa cepat keringatan“ kata Aswin meniru ucapan Bundanya yang memarahi dia jika bajunya basah akibat keringat, sambil menutup hidungnya dan tertawa-tawa nakal, bocah ini sudah selesai mandi dan sarapan, langsung dia lari-lari ke belakang untuk melihat pamannya bersilat, dia tidak sempat melihat Basri tapi dia melihat gerakan Kahar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua orang yang mendengarkan seruan bocah nakal ini tersenyum simpul, dan Kahar yang menoleh ke arah Aswin ingin balas menggoda, batal melakukannya karena dia melihat Siti berdiri di belakang Aswin sambil tersenyum manis. Kahar merasa seluruh dirinya berubah menjadi merah akibat malu dilihat Siti dengan badan berkeringat seperti itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aswin yang melihat wajah dan leher Kahar memerah berpikir bahwa ilmu panas tadi masih bekerja di tubuh pamannya itu langsung menggoda lagi,” Wah paman Kahar sudah kayak manusia merah, …hmmmm… tapi gak enak kedengarannya… sudah kayak manusia api…hihihii…” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kahar mendengar perkataan tersebut tambah merah wajahnya, sehingga teman-temannya yang melihat hal itu tambah tertawa, yang paling keras tertawanya adalah Bumi karena dia dapat menduga apa penyebab memerahnya wajah Kahar. Datuak juga ikutan tersenyum melihat kenakalan Aswin yang polos dan lugu itu, dan dia menegur bocah nakal itu,” Aswin, kakekkan sudah bilang jangan menganggu orang yang lagi serius belajar silat, apa kamu lupa pesan kakek?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bukan begitu kek,”bantah Aswin, “Kan paman Kahar sudah selesai melakukan gerakan silatnya, dan badannya masih kelihatan merah seperti api, makanya aku ingin memanggil dia manusia api seru kan kek.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlihat datuak geleng-geleng kepala mendengar bantahan anak nakal ini, dia hanya bisa tersenyum saja dan berusaha untuk membantu Kahar memulihkan keadaan yang sedang mempermalukan dirinya itu, sedikit banyak Datuak dapat menduga bahwa Kahar menyukai gadis cantik yang berdiri di belakang Aswin sambil tersenyum manis itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hmmm, Aswin jangan banyak omong, sekarang kakek mau bicara sama paman Kaharmu. Kahar, aku sudah melihat ilmumu itu tadi, ilmumu sudah mendekati sempurna semua gerakan yang kamu lakukan benar-benar bermanfaat dan beerguna untuk menandingi ilmu lawan. Aku sudah tidak melihat hal lain yang bisa diperbaiki lagi, yang kamu perlukan hanya latihan untuk semakin memantapkan ilmu itu.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih atas pujian Datuak, tapi aku masih belum puas Datuak, aku masih merasa ada beberapa bagian yang harus aku perbaiki lagi sehingga ilmu ini semakin sempurna. Apakah aku perlu melatihnya dengan pasir yang dipanggang di kuali, Datuak, untuk memperkuat hawa bara yang aku keluarkan dari jentikanku?” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kahar, aku senang engkau tidak cepat puas dengan ilmumu itu, memang ada sedikit saran dariku tapi engkau membutuhkan waktu untuk melakukannya. Jika engkau punya waktu pergilah engkau ke kawah Gunung Merapi dari arah selatan dan akan kamu temui sebuah gua yang tidak sama dengan gua yang lain berhawakan panas, gua ini sangat dingin sekali, bertapa dan berpuasalah engkau disana selama 40 hari dan pelajari letupan-letupan api larva yang dikeluarkan oleh gunung merapi tersebut. Jika engkau mampu menyelami semua itu dalam 40 hari dan kau sudah sanggup membuat gua itu menjadi sama panasnya dengan gua yang lain, ini menandakan bahwa engkau sudah berhasil melatih ilmu tenaga dalammu untuk membuat ilmu barumu menjadi sempurna. Dan hasil tapamu kelak secara tidak langsung akan membantumu dalam ilmu kebatinanmu juga. Satu hal yang perlu kau ketahui pada dinding gua itu terukir sebuah ilmu kebatinan yang hebat untuk melawan bangsa kegelapan, ilmu ini hanya bisa kau dapat dengan membuat gua itu membara dan dengan menggunakan tenaga batin pada matamu maka ilmu ini baru bisa terlihat untuk dipelajari. Bahkan jika engkau benar-benar berbakat dalam melatih ilmu di dinding itu maka jentikan bara panah apimu itu benar-benar akan bisa mengeluarkan percikan panah api yang bisa membakar musuhmu baik itu bangsa manusia maupun bangsa kegelapan sesuai dengan seberapa besar tenaga dalam yang engkau keluarkan. “ kata Datuak. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terima kasih Datuak atas penjelasannya, saran Datuak akan aku laksanakan sesegera mungkin.”kata Kahar dengan posisi sama dengan Basri dalam memberi hormat. Sungguh tidak disangka-sangka olehnya bahwa kedatangan dia ke Batang kapeh akan mendapat tambahan ilmu yang hebat dan…….juga dapat tambahan hadiah special, bertemu dengan sang pujaan hatinya yang sudah lama dirindukan olehnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tidak usah kalian berterima kasih kepadaku, ini memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa untuk aku membantu kalian agar kalian bisa mendidik dan memberikan pondasi yang kokoh buat murid-murid kalian. Bumi, aku akan membawa pergi Aswin untuk melatih dia, nanti sore aku akan mengantarnya pulang kembali, sementara itu kalian laksanakanlah wangsit dari kakek guruku untuk mendidik 4 bocah lagi sebagai tulang punggung melawan kegelapan ” Terdengar suara Datuak yang semakin menjauh dari mereka. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka segera melihat ke arah pohon, dan memang Datuak sudah tidak ada di sana lagi. Begitu juga dengan Aswin yang sudah lenyap dari tempat dia berdiri tanpa mereka semua menyadari kapan Datuak membawa bocah itu pergi. Mereka semua bergidik dan meleletkan lidah saking kagumnya pada ilmu Datuak Inyiak Balang tersebut, tidak heran kenapa dia merupakan tokoh nomor satu untuk saat ini. Benar-benar seorang tokoh yang sangat mumpuni sekali kesaktiannya, dan teguran dari Datuak menyadarkan mereka tugas yang diembankan kepada mereka untuk diselesaikan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar Kahar berkata,” Wah uda-udaku ternyata diam-diam menciptakan ilmu silat baru yang hebat sekali, aku jadi kagum sekali dan artinya aku tidak boleh kalah dari uda-uda, harus lebih giat lagi belajar supaya tidak ketinggalan.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kau juga hebat sekali Kahar, bahkan datuak tidak menyebutkan kelemahan ilmu barumu seperti yang dia lakukan pada kami.” kata Bumi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ah uda Bumi, itu hanya kebetulan saja ilmuku lebih baik karena aku sudah menciptakan dan melatihnya sejak 3 tahun yang lalu, memang aku belum pernah mengeluarkan ilmu ini melawan musuh-musuhku karena aku masih belum percaya diri ilmu ini akan bisa menandingi mereka, aku masih merasa banyak kelemahannya di sana sini.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hari ini kita benar-benar harus bersyukur bertemu dengan orang hebat seperti datuak, aku merasa kita beruntung sekali beliau mau membantu kita dalam memberikan saran-saran untuk ilmu kita. Aku jadi bersemangat sekali untuk cepat-cepat pulang dan melakukan saran beliau.” Kata Basri dengan bersemangat. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iya, tapi kita jangan lupa juga pada pesan beliau untuk bisa mendidik murid special kita sehingga mereka tidak akan memalukan kita kelak dan bisa membawa nama harum kita di dunia persilatan.” Kata Masnan dengan tenang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Benar kata kalian, aku merasa karena kita diberikan tugas yang berat ini makanya sang Dewata memberikan kita tambahan ilmu lagi agar kita bisa membantu manusia mengusir kegelapan yang akan datang segera.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Uda Bumi benar, kita karena mengemban tugas penting maka datuak mau membantu kita menyempurnakan ilmu-ilmu kita, kalau dalam keadaan biasa belum tentu kita punya kesempatan untuk bertemu dan bisa pula mendapat saran dari beliau.” Sahut Masnan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka manggut-manggut membenarkan perkataan Masnan, sungguh kalau dipikir dan dikaji ulang semua ini ada hubungan sebab akibatnya. Oleh karena itu mereka harus benar-benar dan disiplin melatih diri mereka sebelum menghadapi prahara yang akan datang menjelang kelak. Sementara itu Basri mempunyai pemikiran lain lagi, dia merasa ada unsur keanehan dari saran-saran yang datuak berikan, dia melihat datuak memberikan saran berdasarkan unsur-unsur yang ada di alam semesta ini. Semakin dia pikirkan semakin dia melihat kejanggalan itu, dia diam berpikir keras mengapa ini terasa menganggu sekali. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kahar melihat kening Basri berkerut-kerut menjadi penasaran sekali ingin menggoda,”Sudahlah uda Basri, nanti saja dipikirkan saran datuak, mendingan sekarang kita mandi dan sarapan supaya kita merasa segar waktu ketemu dengan calon murid kita. Benar yang dikatakan Aswin, kita ini memang sudah mandi tapi mandi keringat.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Belum sempat Bumi menimpali kata-kata Kahar, Basri sudah bicara,”Bukan begitu Kahar, aku hanya merasakan sebuah keanehan saja dengan ilmu dan saran dari datuak. Kalian merasakan tidak keanehannya?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Hmmm… aku pikir hanya aku saja tadi yang merasa seperti itu. Benar yang engkau katakan Basri, aku merasa sepertinya kita diarahkan menyatu dengan unsure-unsur yang ada di alam menurut kitab-kitab kuno jaman dulu yang kita ketahui.” Sahut Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka jadi mulai memikirkan kembali saran dari datuak kepada mereka, mulai mereka merasakan keanehan dari saran itu seakan ilmu-ilmu mereka saling melengkapi satu dengan yang lain sehingga membentuk unsure-unsur alam yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Benar sekali uda Basri, tadi aku juga sempat merasa aneh tapi aku pikir karena ilmu aku didasarkan pada unsur api maka datuak ingin memperkuat ilmu aku dengan menyarankan aku bertapa di gunung merapi. Setelah dipikir kembali katakan memang ilmu aku didasarkan pada unsur api seharusnya cukup dengan melatih kekuatan tanganku pada pasir panas maka ilmu baruku bisa berkembang lebih baik. Tapi beliau menghendaki agar ilmu aku bisa benar-benar mengeluarkan percikan api, dan sampai aku harus bertapa dan berpuasa untuk meningkatkan ilmu kebatinanku, mulai aku merasa kita dipersiapkan untuk mendidik murid kita selain melawan manusia-manusia sesat tapi juga melawan bangsa kegelapan.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku juga merasa beliau mempersiapkan aku untuk menjadi unsur tanah, kalau tidak mengapa beliau menghendaki aku melihat pergerakan tanah dalam mempengaruhi sekitar kita? Aku merasa ini pasti ada sebabnya kenapa beliau mempersiapkan kita menurut unsur yang ada di alam semesta ini. Bagaimana menurutmu Masnan ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Memang benar kita dipersiapkan berdasarkan unsur alam, uda Bumi unsur tanah, Basri unsur logam, Kahar unsur api dan aku sendiri unsur angin. Masing-masing kita melatih seorang murid untuk bergerak berdasarkan unsur-unsur tersebut, sedangkan anak yang akan melawan sang angkara murka berjumlah 5 orang berarti ada 5 unsur yang akan dilatih menghadapi bangsa kegelapan. Ini artinya Aswin akan dilatih menjadi unsur yang paling nyata dan mempunyai kekuatan dinamis di alam semesta ini yaitu unsur air. “ kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kenapa harus 5 unsur ini?” Tanya Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Menurut guruku, konon kabarnya beratus tahun yang lalu, ada seorang maharaja kegelapan yang sangat sakti mandraguna, dia merupakan seorang tokoh kosen saat itu bahkan kesaktiannya melampaui pendahulu-pendahulunya. Dia malang melintang tanpa ada manusia atau bangsa kegelapan yang bisa menghancurkannya, apapun kehendaknya harus bisa terlaksana kalau tidak akan musnah menjadi debu dengan ilmunya. Benar-benar saat itu mengerikan sekali, bencana terjadi di mana-mana, manusia hidup dalam ketakutan sehingga penderitaan dan kesengsaraan manusia pada waktu itu diibaratkan seperti hidup segan matipun tidak bisa. Banyak manusia-manusia sesat yang bergabung dengan bangsa kegelapan untuk menikmati kesengan dunia, mereka inilah mengkhianati manusia lainnya untuk hidup dalam kesengsaraan. Setiap hari ada saja manusia yang mati berserakan di pinggir jalan, sementara itu bangsa kegelapan seolah-olah menguasai dunia ini dengan seenaknya saja. Kehidupan pada waktu itu sangat sulit sekali bagi bangsa manusia, hanya Tuhan yang tahu kapan semua ini akan berakhir. . .”sahut Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apa hubungannya semua ini dengan kita?” kata Bumi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sabar uda Bumi, dengarkan saja cerita uda Masnan dulu.”kata Basri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Maharaja memiliki 4 orang pembantu utama yang pilih tanding, mereka itu hanya 1 tingkat di bawah dia dalam ilmu kesaktian tapi dia punya kelebihan dibandingkan dari pembantunya yaitu dia bisa punya charisma wibawa pemimpin yang hebat sekali, semua bangsa kegelapan sangat memujanya dan bersedia mati demi dia tanpa pikir dua kali. Biarpun maharaja dan 4 pembantu utamanya sangat hebat sekali, tapi suatu ketika entah dari mana datangnya tiba-tiba muncullah dua orang manusia yang luar biasa kesaktiannya, mereka bisa mengalahkan 4 pembantu utama maharaja sekaligus. Dan bahkan pada akhirnya mereka berhasil membunuh maharaja itu, sehingga bangsa kegelapan menjadi musnah atau yang selamat melarikan diri entah ke mana, beratus tahun kemudian situasi dunia menjadi aman kembali sampai sekarang. Maharaja itu merupakan maharaja terakhir yang menguasai dunia kegelapan.” Cerita Masnan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Wah hebat sekali orang itu, siapa gerangan beliau dan memakai ilmu apa dia mengalahkan maharaja itu?” kata Basri penasaran. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Menurut guruku, tidak lama sesudah mengalahkan bangsa kegelapan, mereka itu menghilang dari peredaran, terdengar kabar mereka kembali ke tempat persembunyiannya untuk menyembuhkan dirinya yang terluka setelah pertempuran terakhir dengan maharaja kegelapan. Ilmu mereka menggunakan ke 5 unsur yaitu tanah, api, air, logam dan angin untuk mengalahkan maharaja dan 4 pembantu utamanya itu. Jadi aku rasa kita dibentuk atas 5 unsur itu juga dalam mendidik murid kita mungkin didasarkan pada legenda yang diceritakan oleh guruku ini. Aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak ada hubungannya tapi aku mempunyai firasat cerita ini benar-benar pernah terjadi dan sekarang kita mendapat kehormatan untuk memberikan pondasi dasar kepada calon murid kita untuk dipersiapkan menerima ilmu berdasarkan 5 unsur alam tadi guna mengalahkan bangsa kegelapan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tapi kenapa mesti 5 orang bukannya dulu mereka hanya berdua saja sudah mampu mengalahkan maharaja dan 4 pembantunya itu?”Tanya Bumi kepada Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Terus terang saja uda, aku tidak tahu kenapa seperti ini tapi aku yakin sekali pasti semua itu pasti ada maksudnya jadi kita harus bersabar dan menunggu apa yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Yang jelas saat ini selain melatih dan menyempurnakan ilmu silat &amp;amp; kebatinan, kita juga harus melatih murid-murid kita dengan sebaik-baiknya sesuai dengan amanat yang telah kita terima.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Yah, benar apa yang dikatakan oleh uda Masnan, sekarang adalah giliran kita berperan untuk mendidik calon-calon penghancur sang angkara murka, jadi kerjakan tugas kita dengan sebaik-baiknya saja.” Sahut Kahar. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku jadi tidak sabar lagi bagaimana kelak murid-murid kita menghadapi manusia-manusia sesat dan bangsa kegelapan. Mudah-mudahan mereka semua tidak akan mengecewakan kita dengan segala jerih payah yang kita berikan pada mereka.” Kata Basri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sudahlah, sekarang mendingan kita masuk untuk mandi dan makan siang, tidak terasa hari sudah menjelang siang, sebaiknya secepatnya kalian bertemu dengan calon murid kalian sehingga kalian bisa mengenal mereka dan mulai melatih mereka dan diri kalian sendiri karena waktu kita hanya singkat yaitu 5 tahun saja oleh karena itu kita harus bertindak cepat dan segera agar tidak membuang-buang waktu lagi.”kata Bumi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Benar, uda Bumi, sebaiknya sekarang segera uda menyuruh orang untuk memanggil mereka dan keluarganya agar bisa kami diperkenalkan karena kami ingin segera membawa mereka ke tempat kami untuk dilatih.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Baiklah Masnan, aku akan menyuruh orang memanggilkan mereka datang untuk bersama kita makan siang agar saling mengenal dengan baik sehingga timbul kepercayaan mereka pada kalian sehingga kalian bisa membawa murid kalian pergi. Sementara itu lebih baik kita juga segera mandi, karena aku mulai mencium bau-bau tidak sedap sedang beredar di sekitar kita, buktinya Siti sampai lari masuk ke dalam karena tidak tahan bau badan kita.”kata Bumi sambil tersenyum-senyum sambil mata jahilnya melirik ke arah Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benar saja habis dia berkata begitu langsung muka Kahar kemerahan karena malu sekali ketahuan sedang mencuri-curi pandang ke arah kepergian Siti yang masuk ke dalam untuk mempersiapkan makan siang. Masnan dan Basri mulai curiga dengan melihat tingkah Bumi dan Kahar, terlebih-lebih dengan senyum jahil Bumi menyebabkan muka Kahar memerah karena malu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kini aku mengerti darimana Aswin memperoleh kejahilannya, buah memang jatuhnya tidak jauh dari pohon.”goda Masnan kepada Bumi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iya uda, malahan aku merasa ada sesuatu istimewa terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari tapi sudah tercium baunya. Jangan-jangan kita tertipu dipaksa datang ke sini yang katanya untuk membicarakan usaha kita tapi ada maksud lain yang kita tidak tahu nih.” Sambung Basri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bertambah merah dan salah tingkah Kahar mendengar ledekan dari teman-temannya ditambah lagi Bumi semakin lebar senyum menggodanya. Karena tidak tahan buru-buru Kahar masuk ke dalam maksudnya melarikan diri dari godaan teman-temannya, tapi siapa sangka ini malah menambah godaan dari udanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Lihat saja itu Basri, ada yang sudah tidak tahan ingin kelihatan ganteng di depan mata sang pujaan hati, buru-buru mau mandi padahal ingin mengejar bayangan sang juwita.”sahut Bumi dengan menahan tawa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tambah cepat jalan Kahar ke dalam untuk menghindari godaan teman-temannya yang sekarang sepertinya kompak ingin menggodanya bersama-sama, dari pada tambah berlarut-larut dan membuat mukanya memerah mendingan menulikan telinga dan langsung berjalan pergi. Karena kalau diladeni bisa tambah panjang urusan dan bisa terbongkar isi hatinya yang belum bersedia dia ceritakan pada orang lain. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini tampaknya Masnan dan Basri sudah mulai bisa menduga maksud kata-kata bersayap Bumi yang ditujukan kepada Kahar, sepertinya saudara kecil mereka ini sudah jatuh cinta dengan ipar Bumi yang memang cantik jelita itu. Lelaki mana yang tidak tertarik dengan Siti, hanya pria yang tidak normal saja yang tidak menyukai gadis itu. Mereka sudah berbahagia berkeluarga, kalau mereka masih sendiri tidak menutup kemungkinan juga hati mereka akan tertawan oleh dara seperti Siti. Jadi mereka bisa memaklumi kenapa adik mereka bisa seperti sekarang ini tingkah lakunya, dia masih muda, tampan dan berilmu tinggi, gadis mana yang bisa menolak pria seperti Kahar. Tapi mereka semua tahu selama ini Kahar sepertinya tidak memperdulikan gadis-gadis yang jatuh cinta kepada dia, seakan-akan hatinya tidak mengenal dengan apa artinya cinta. Bukan berarti selama ini Kahar menunjukan tanda-tanda menyukai pria, dia menerima dan memberi perhatian lebih kepada para gadis-gadis tapi sebatas teman saja tidak lebih dari itu. Bnyak dari gadis-gadis itu salah sangka dengan semua itu, bahkan ada beberapa dari gadis-gadis itu yang minta pertolongan mereka untuk membuat Kahar menerima mereka, tapi sayang tidak pernah sekalipun mereka melihat hati Kahar tergerak seperti sekarang ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini membuat mereka senang sekali, karena sudah lama mereka prihatin kepada adik mereka ini kapan akan menikah sedangkan usia sudah tidak remaja lagi. Sekarang melihat semua ini, ketiga laki-laki ini saling memandang sehingga tercipta pengertian diantara mereka untuk membantu sang adik untuk mendapat sang pujaan hati. Mudah-mudahan tidak lama lagi mereka bisa merayakan sebuah hajatan yang meriah untuk sang adik. Bumi merasa senang sekali bisa memenuhi amanat isterinya untuk mencarikan pendamping yang cocok buat adik iparnya itu. Dan dia merasa Kahar merupakan pilihan yang sangat sempurna buat Siti, dia akan menanyakan pada Siti bagaimana pendapatnya tentang Kahar karena dia pernah melihat Siti curi-curi pandang pada Kahar dan selalu tersipu malu setiap kali matanya bertemu dengan mata Kahar. Itu artinya sang gadis juga menyukai Kahar, jadi tinggal mencari cara saja bagaimana mendekatkan Kahar dengan Siti. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah sesaat mereka segera menyusul Kahar untuk masuk ke dalam dan mandi bersiap-siap untuk makan siang dan bertemu dengan calon murid mereka. Bumi segera memanggil muridnya yang sedang bertugas membersihkan halaman depan untuk memanggilkan 4 anak tersebut berikut dengan keluarganya untuk diundang makan siang bersama. Sementara murid itu memanggil mereka, mereka semua pergi basuh diri dan berganti pakaian. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapakah sebenarnya keempat anak yang akan mereka didik itu ? Apakah benar mereka dipersiapkan untuk mewakili unsur tanah, api, angin dan logam dalam melawan kerajaan kegelapan ? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2728266448404398223-2250540629175692840?l=julaicersil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julaicersil.blogspot.com/feeds/2250540629175692840/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/2010/03/bagian-iv-para-guru.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default/2250540629175692840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default/2250540629175692840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/2010/03/bagian-iv-para-guru.html' title='Bagian IV : PARA GURU'/><author><name>sieklie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17612761808487395655</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2728266448404398223.post-2457837059517958264</id><published>2010-03-16T21:40:00.000-07:00</published><updated>2010-03-16T21:40:37.544-07:00</updated><title type='text'>Bagian III : Mimpi Yang Aneh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sambil menikmati makan malam bersama mereka berbincang-bincang hal-hal yang ringan dan sambil mengingat-ingat masa lalu, tapi dalam hati masing-masing tetap tidak bisa menghilangkan kejadian tadi. Aswin dengan santainya makan tanpa merasa terganggu dan Siti pura-pura mnyibukan diri membantu Aswin makan, karena sebenarnya dia merasa malu, sejak tadi dia merasa Kahar mencuri-curi pandang padanya. Sedangkan yang lain sibuk dengan makanan dan pikirannya masing-masing, tapi mereka berdua tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan tingkah laku mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wali Bumi bukanlah orang yang buta apalagi bodoh yang tidak bisa melihat dan merasa ada apa-apa diantara kedua orang ini. Oleh karena itu diam-diam dia memperhatikan mereka berdua dan tertawa dalam hati melihat tingkah laku mereka berdua. Dia merencanakan nanti jika ada waktu senggang dia akan menanyakan kepada Kahar mengenai hal ini, karena kalau memang keduanya saling jatuh cinta dia akan dengan senang sekali bisa mengikat tali persaudaraan yang lebih erat dengan Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan dia merasa bahagia bisa membantu adik iparnya mendapatkan seorang calon suami yang begitu baik, dia sangat berterima kasih selama ini kepada adik iparnya karena sudah membantu dia membesarkan Aswin dan mengurus rumah tangganya dengan baik, sampai-sampai lupa untuk menikah padahal usianya sudah termasuk kategori perawan tua untuk ukuran masa itu. Bukan tidak ada orang yang melamar iparnya, malahan saking banyaknya kadang-kadang membuat dia pusing tujuh keliling.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang-kadang dia merasa tidak enak hati karena selalu merepotkan iparnya dengan segala masalah yang ada di rumah tangganya walau iparnya tidak pernah keberatan membantunya. Oleh sebab itu dalam hati dia bertekat akan berusaha mewujudkan perjodohan Siti dengan Kahar, dia tidak akan seberani ini mencampuri urusan percintaan orang lain jika dia tidak yakin bahwa keduanya mempunyai perasaan yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda Bumi, mengapa tersenyum-senyum sendiri, bagilah ke kami apa yang ada di pikiran uda,” kata Basri sambil memandang wali Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ah tidak Basri, aku sedang berpikir mengenai suatu hal yang lucu saja, tapi untuk saat ini belum bisa aku bagikan kepada kalian. Nantilah jika sudah saatnya pasti kalian juga mengetahuinya.” kata Bumi dengan misterius.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Begitu yah, Uda!, ngomong-ngomong, Uda sudah mendidik Aswin dengan dasar-dasar ilmu silat ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Dari dia umur 3 tahun aku sudah mengajarkan padanya ilmu pernafasan untuk membantu dia memupuk tenaga dalamnya. Ada apa Masnan, kenapa kamu menanyakan hal ini ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Bagaimana kemajuannya, Da?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Menurutku cukup baik karena sekarang dia bisa duduk bersemedi sampai 3 jam lamanya. Dan sejak bulan lalu aku sudah mulai ajarkan kuda-kuda dan ilmu dasar silat padanya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Hmmm…mmmm… baguslah anak seusia dini mungkin diajarkan ilmu pernafasan biar dia bisa mempunyai tenaga dalam yang baik.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Masnan, ada apa kamu menanyakan hal ini? Kamu jangan buat uda tambah penasaran.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Begini uda, aku bermaksud untuk mengambil anak uda menjadi muridku, apa uda keberatan ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Eh, tunggu dulu uda Masnan, aku juga ingin Aswin menjadi muridku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aku juga tidak keberatan kalau Aswin mau menjadi muridku.” kata Kahar pula.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ha .. ha… ha…, anakku yang mantiko (bandel sekali) ini ternyata banyak yang berminat menjadikan murid, ini benar-benar merupakan sebuah keberuntungan bagi anakku.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Maaf uda, bukan maksud kami meremehkan kepandaian uda tapi kami merasa ilmu kami yang tidak seberapa ini harus ada pewarisnya. Kami melihat Aswin bertulang bagus dan mempunyai bakat untuk menerima pelajaran ilmu silat dari kami. Sayang kalau bakat seperti ini tidak dibina dengan sebaik-baiknya.” kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Putar-putar kata kamu, Masnan, tetap saja bilang aku tidak becus mendidik anak ini.” kata Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda, sabar dulu janganlah berang (marah) aku tidak bermaksud seperti itu…”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Jadi maksudmu apa ?” potong wali Bumi dengan wajah cemberut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Basri, kamu bantulah aku bicara kepada uda Bumi, biasanya kamu kan pandai membujuk orang.” kata Masnan menggaruk-garuk kepalanya kebingungan salah tingkah takut telah menyinggung perasaan kakak angkatnya itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”He..he..he… Uda Masnan ini, penyakitnya kalau sudah buang sampah, awak (kita) yang disuruh bersihkan, betul dak, Kahar.” goda Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlihat Kahar manggut-manggut sambil tersenyum mendengarkan candaan Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba Aswin bertanya,”Ayah, apa maksud paman Masnan mengambil murid, aku tidak mengerti ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wali Bumi masih dengan cemberut menjawab,” Pamanmu Masnan ini ingin mengambil kamu sebagai muridnya, karena katanya ayah tidak becus mendidik kamu, anak nakal.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aduh, uda bukan begitu maksudku… uda janganlah berburuk sangka begitu.” kata Masnan tambah panik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat Masnan panik dan berkeringat dingin, wali Bumi yang tidak tahan melihatnya, langsung tertawa terbahak-bahak karena bisa mengerjai Masnan, hal ini sudah lama sekali tidak dia lakukan yaitu menggoda adik-adik angkatnya. Sekarang Masnan baru sadar sudah masuk jebakan sang uda, dan akhirnya dia ikut tertawa tapi dengan tawa yang miring karena jengkel dikerjai udanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Sekarang aku mengerti dari mana Aswin dapat sifat jahil itu, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.” gerutu Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Masnan…Masnan… janganlah terlalu serius begitu, hidup ini sudah terasa sulit, santailah sedikit, dunia tidak akan berhenti berputar dengan kita tertawa..” kata Bumi geli.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Nah, kita sudah selesai makan bagaimana kalau kita pindah ke ruangan keluarga, biar kita bisa santai ngobrolnya, tidak tegang seperti tadi. Siti, minta Uni (kakak perempuan) Anik bawakan kopi buat kami dan kamu serta Aswin ikut kami.” kata Bumi, dia sudah mulai menjalankan perannya sebagai mak comblang, dia ingin Siti dan Kahar bertemu sesering mungkin sehingga ada kesempatan untuk mendekatkan hati mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siti mendengarkan perkataan udanya hanya menganggukan kepala sambil membawa Aswin ke belakang untuk mencuci mulut dan tangannya yang kena makanan serta mengganti baju anak ini dengan baju tidur, supaya nanti kalau dia mengantuk, tidak susah lagi ganti-ganti bajunya. Karena anak ini kalau sudah mengantuk langsung pulas, jika harus tukar baju lagi biasanya bisa berakibat anak ini ngambek saking kesal tidurnya terganggu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan Kahar yang mendengar Siti akan ikut ngobrol dengan mereka, merasa jantungnya berdebar tidak karuan antara senang, bingung, cemas, pokoknya semua perasaan bercampur menjadi satu. Tapi yang paling penting dia merasa bahagia karena masih bisa memandang wajah sang pujaan hati lebih lama lagi. Dia seakan-akan tidak ada puasnya melihat Siti, serasa dunia penuh warna dan hatinya terasa ringan serta ingin tersenyum terus, tapi dia tahu tidak bisa sembarangan bertindak karena kalau ketahuan oleh yang lain, entah bagaimana dia harus menjelaskan, lagi pula akan ditaruh ke mana mukanya jika cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja, belum lagi jika bicara semua perbuatannya terhadap Siti selama mereka berkenalan dulu, rasanya dia ingin menghilang dari permukaan bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang mereka sudah ada di ruang tengah sambil menikmati kopi mereka, dan kebetulan pula mereka adalah pria-pria yang tidak suka mengisap rokok dan makan sirih, mereka hanya penikmat kopi dan tuak (minuman keras) yang sekali-kali mereka minum kalau sedang berada di luaran bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah sejenak mereka duduk dengan diam dan santai, Basri mulai membuka pembicaraan,”Uda Bumi, bagaimana dengan usul kami tadi, kami hendak ambil puteramu sebagai murid kami, uda bisa pilih salah satu dari kami yang menurut uda pantas menjadi guru putera uda.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wali&amp;nbsp;Bumi merasa menghadapi dilema, di satu sisi dia tidak ingin berpisah dengan anaknya walaupun anaknya nakal tapi tetap menjadikannya sebagai penghiburan dan pengisi hatinya yang sepi sejak ditinggal oleh isteri tercinta. Tapi di lain pihak dia sadar dan merasa bangga bahwa tokoh-tokoh ternama di dunia persilatan seperti adik-adik angkatnya ini ingin menjadikan anaknya sebagai murid mereka. Tetapi memilih salah satu dari mereka itu lebih memusingkan kepala karena dia tidak ingin menyinggung perasaan adik-adiknya itu. Dia sudah mengangkat saudara dengan mereka, dan mereka memposisikan diri menjadi adik-adik angkatnya didasarkan pada usia dia yang memang lebih tua dari yang lain bukan dari peringkat ketinggian ilmu silat dan kepandaian lainnya. Dibandingkan dengan Basri, dia tidak bisa menyamai kecerdikan adiknya yang satu ini, dengan Masnan dia kalah dalam hal tenaga dalam, apalagi dengan Kahar dia kalah segala-galanya dari segi ilmu silat maupun tenaga dalam, adik mereka yang paling muda ini memang mempunyai ilmu silat dan tenaga dalam yang paling mumpuni diantara mereka. Tapi yang membuat dia selalu bangga menjadi kakak mereka adalah mereka tidak pernah mempermasalahkan dan membangga-banggakan kepandaian mereka, mereka tetap menghormati dia dan selalu minta pendapat dia untuk hal-hal yang mereka rasa mereka memerlukan pendapatnya dalam mengambil keputusan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Basri, aku pada prinsipnya tidak keberatan kalian menjadi gurunya Aswin, tapi kalau disuruh pilih salah satu aku susah jadinya, belum lagi kalian pasti ingin membawa Aswin ke rumah kalian untuk dilatih, sedangkan dia masih terlalu kecil untuk jauh-jauh dari aku dan Siti.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda, jangan menguatirkan kami akan tersinggung nanti jika uda memilih salah satu diantara kami menjadi guru Aswin, kami akan menerimanya dengan lapang dada karena kami yakin pasti uda sudah memikirkan terbaiknya bagi putera uda. ” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Uda, kami berjanji pada uda untuk tidak merasa tersinggung atau marah pada uda, kalau uda memilih salah satu dari kami, tenang saja uda, kami kan bukan lagi anak-anak yang sedang memperebutkan mainan, tapi kami sungguh-sungguh ingin membantu uda untuk memberikan putera uda yang terbaik, bukan begitu uda Masnan dan uda Basri ?” sambung Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masnan dan Basri manggut-manggut membenarkan perkataan Kahar. Mereka melihat uda mereka merasa kebingungan dengan permintaan mereka, karena itu mereka mempertegas maksud mereka untuk tidak membuat uda mereka susah dalam mengambil keputusan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kahar, uda sangat berterima kasih kepada kalian yang mau membantu uda untuk mendidik Aswin, uda yakin seyakin-yakinnya bahwa maksud kalian murni selain mempunyai pewaris ilmu kalian, juga kalian ingin membantu aku mendidik anakku. Kalian sendiri sudah lihat kan tadi tingkah laku anakku, aku hanya kuatir nanti dia akan sangat merepotkan kalian saja.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siti dan Aswin diam saja mendengarkan pembicaraan ini, jauh dalam lubuk hati Siti tidak bersedia dipisahkan dari Aswin tapi dia tidak bisa menentangnya juga karena dia bukan ibu kandung Aswin semua merupakan keputusan ayahnya sebagai orang tua kandung Aswin, selain itu semua ini untuk kebaikan Aswin juga. Jadi dia lebih memilih untuk diam saja menunggu keputusan kakak iparnya itu karena dia tahu pasti uda Bumi tidak akan mengambil keputusan yang akan mengecewakan semua orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Baiklah adik-adikku, beri aku waktu untuk berpikir yang terbaik bagi kita semua, bagaimana ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tidak masalah uda, ambilah waktu untuk berpikir, kami percaya uda pasti bisa memberikan keputusan yang baik untuk semuanya. Hanya sementara kami menunggu, kami akan merepotkan uda sekeluarga dengan kehadiran kami, apa uda tidak keberatan ?” tanya Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aduh, kalian ini seperti orang yang tidak kenal uda saja, kami sudah biasa kedatangan tamu, jadi tidak pernah merasa repot dengan semua ini, apalagi kalian jadi tamu, aku malah tambah senang karena ada teman ngobrol dan latihan silat… yah siapa tahu nanti malah ada yang bisa menetap di sini…” jawab Bumi sambil tersenyum simpul dan melirik Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kahar yang merasa tersindir pura-pura ambil gelas kopinya untuk menutupi mukanya yang semburat merah karena malu. Cepat-cepat dia berusaha membelokan arah pembicaraan agar dia tidak merasa terpojok dengan sindiran sang uda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Oya mengenai masalah tadi uda, mungkin uda perlu menyelidiki siapa gerangan kakek Inal menurut Aswin itu. Karena terus terang saja walau dia tidak bermaksud jahat tapi aku tetap penasaran siapa gerangan dia, aku merasa semua ini mempunyai latar belakang yang tidak biasa.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;”Apa yang kamu katakan itu benar Kahar, aku juga merasakan hal yang sama, di dunia ini tidak ada yang terjadi tanpa sebab, pasti ada latar belakangnya. Apa uda tidak merasakan keanehan yang terjadi di sekeliling uda selama ini ? Atau keanehan yang terjadi pada anak uda ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlihat wali Bumi berpikir sambil mengelus-elus dagunya, terus dia mengambil kopinya seperti sedang mencari-cari jawabannya di dalam hirupan kopi itu. Tiba-tiba dia menggebrakan gelas kopinya ke meja…bruk… kopinya berceceran di atas alas meja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Basri, karena kamu bicara begitu aku baru teringat, kira-kira sebulan yang lalu, pagi hari sebelum aku mengajarkan kuda-kuda kepada Aswin, aku pernah mencoba menyalurkan tenaga dalamku ke tubuhnya, maksudku untuk membantu dia memperlancar jalan darahnya sebelum dia mulai latihan ilmu silat. Kamu tahu Basri, terjadi sebuah keanehan…” terdiam sejenak Bumi setelah mengatakan hal ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Apa yang terjadi uda?, jangan bikin kami mati penasaran dengar cerita uda.” kata Masnan dengan tidak sabar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Sabar Masnan, aku lagi mencoba mengingat kejadian aneh itu, tadinya aku pikir ini kejadian yang biasa terjadi makanya aku melupakannya. Tapi setelah dipikir-pikir lagi hal ini tidak merupakan hal biasa terjadi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali wali Bumi terdiam sambil berpikir keras, yang lain berusaha sabar menunggu Bumi meneruskan ngomongnya. Cukup lama juga dia terdiam sambil serius memandang anaknya, ini membuat yang lain mulai tidak sabar lagi. Sedangkan Aswin yang dipandang ayahnya seperti itu malah membalas menatap dengan mata yang bersinar tenang dan berkilauan jernih. Tapi akhirnya anaknya tidak tahan ditatap seperti itu oleh ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ayah, kenapa ayah menatap aku seperti itu, apa di hidung Aswin tumbuh tanduk ?” kata anak itu sambil mulai memandang hidungnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua yang mendengar tersenyum, dan suasana mencair menjadi lebih santai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Bukan hidung kamu tumbuh tanduk, tapi di kepala kamu tumbuh dua tanduk.” kata Bumi menggoda anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buru-buru Aswin meraba-raba kepalanya untuk memastikan ucapan ayahnya itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ah ayah, mana ada tanduk di kepalaku, emangnya aku setan makanya punya 2 tanduk di kepala?” rengek manja Aswin kepada ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya Aswin sudah tidak betah duduk diam-diam mendengarkan ayahnya berbincang-bincang dengan teman-temannya, tapi seperti anak-anak lain seusia dia, dia juga mau tahu apa yang dibicarakan para orang-orang yang lebih tua. Oleh karena itu dia membetahkan dirinya dengan cara melatih mengatur pernafasannya sesuai petunjuk kakek Inal. Ilmu pernafasan yang diajari kakek Inal memang berbeda dari yang diajarkan ayahnya, dia dapat melakukannya di mana saja dalam keadaan apa saja tanpa harus dalam posisi tertentu, karena itu dia lebih menyukai latihan yang diberikan oleh kakek Inal dibandingkan oleh ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi kakek Inal tetap menyuruh dia melatih ilmu pernafasan yang diajarkan ayahnya, karena itu sangat bagus untuk melatih kesabaran dan ketenangan. Dia tidak mengerti maksud kakeknya itu, tapi dia tetap melakukannya karena merasa nyaman setelah melakukan semedi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka sekarang dalam keadaan duduk di kursi bundar di samping Bundanya dan mengambil sikap duduk tegak lurus, sedangkan kedua tangan dilemaskan dan diletakan di atas lutut. Perlahan-lahan dia menarik nafas melalui hidung dan mengeluarkannya melalui mulut, kemudian lama kelamaan dia mulai mengatur peredaraan hawa murni tubuhnya mengikuti gerakan pernafasannya. Lalu dia mulai menarik nafas bertambah pelan dan jarak tarikan nafas pertama dengan berikutnya lebih lama, seperti pernafasan orang yang lagi tidur dengan tenang, ini dilakukannya perlahan-lahan dan terus menerus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut kakek Inal, kalau dia rajin melatih ilmu pernafasan ini, dia akan bisa lama menyelam di air, karena dia bisa menahan dan menyimpan nafas dengan waktu yang lebih panjang dari orang normal lainnya. Hal inilah kenapa dia mau mempelajari ilmu pernafasan, karena ilmu ini awalnya cukup susah dibutuhkan konsentrasi yang baik untuk melakukannya. Apalagi untuk anak kecil lebih terasa susah, melatihnya dengan mata terbuka sehingga bisa melihat sekelilingnya, belum lagi masalah jika dia terburu-buru atau konsentrasinya buyar, dadanya akan terasa sakit sekali. Oleh karena itu dia sangat berhati-hati melatih ilmu pernafasan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini dia bisa melakukan karena tidak ada kejadian atau pembicaraan yang menarik ditambah lagi orang-orang dewasa yang berbincang-bincang sepertinya tidak memperdulikannya sehingga dia merasa enak untuk melatih ilmu pernafasan ini. Tapi sekarang karena sang ayah sedang memperhatikan dia, makanya sebelum dia bertanya tadi dia sudah mulai menarik hawa murninya kembali ke perut dan dengan santainya bicara pada sang ayah tanpa takut ada akibat sampingan karena sudah melakukan ilmu pernafasan tadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda, kami menunggu apa yang aneh pada Aswin.” kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Begini, waktu uda salurkan tenaga dalam uda kepada Aswin, awalnya uda tidak merasakan apa-apa tapi lama kelamaan uda merasa tenaga dalam uda seperti tersedot tapi pelan-pelan sekali atau lebih tepatnya kalau diberikan perumpaan seperti kendi yang tiba-tiba airnya habis, padahal kalau dilihat sepintas kendi tersebut tidak ada lubang yang mengakibatkan kebocoran, tapi jika kamu memasukan air ke dalam kendi baru kamu akan bisa melihat ternyata ada lubang yang sangat kecil yang mengeluarkan air, semakin banyak kamu masukan air maka semakin deras pula air yang keluar di lubang yang kecil itu tadi. Nah, aku merasakan hal yang sama terjadi pada tenagaku pada saat kualirkan ke Aswin. ”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Maksud uda bagaimana, kami tidak mengerti, sudah jelas tenaga dalam uda tersedot keluar kan uda sedang mengalirkan tenaga dalam ke tubuh Aswin ?”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Benar Masnan, bagaimana ya cara menjelaskannya ?” kata Bumi sambil menggaruk-garuk kepala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Maksud uda Bumi itu begini uda Masnan, Uda bumi menyalurkan tenaga dalamnya tiga bagian tapi sepertinya tenaga yang tersedot keluar bukan tiga bagian lagi tapi malahan lebih banyak. Bukan bagitu maksud uda Bumi ?” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang diantara mereka berempat, Basrilah yang paling cerdik dan pintar melihat keadaan, mungkin karena dia mempunyai kehidupan dan latar belakang pedagang, karena itu dia harus bisa dengan cepat memahami keinginan orang lain supaya barang dagangannya laku.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;” Benar seperti itu maksudku Basri, aku merasa tenagaku merembes keluar lebih dari yang aku salurkan, seperti ada yang menyedot keluar tenagaku memang awalnya tidak terasa sekali karena kecil sekali rembesan itu tapi deras dan terus menerus, makanya lama kelamaan aku merasakannya juga.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Pada waktu itu apa uda tidak memikirkan keanehan ini ?” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Tadinya aku tidak memikirkannya lebih lanjut karena aku tidak merasakan sekali pengaruhnya, hanya setelah aku menarik tenaga dalamku aku merasa kelelahan dan tenagaku berkurang, aku pikir lumrah hal itu terjadi karena kebetulan saat itu aku baru habis bertempur melawan perampok. Tapi ketika aku mengulangi proses ini keesokan harinya, aku mulai merasa aneh dan ini berlangsung terus setiap aku menyalurkan tenagaku padanya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;”Aneh juga ?! Aku belum pernah mendengar ada orang yang bisa menyedot tenaga dalam orang lain seperti yang uda alami.” kata Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Selain merasa kelelahan apa uda merasakan hal lainnya, tidak ?” kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali Bumi mengingat-ingat kejadian setelah itu, pelan-pelan dia menggeleng-geleng kepalanya sambil mengerutkan keningnya, ”hanya … tapi entah ini dapat dikatakan ada hubungannya dengan tersedotnya tenaga dalamku atau tidak ?” gumam Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Maksud uda ? ” kata Basri ikut-ikutan mengerutkan keningnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;"Uda, katakan saja, kita sama-sama bahas apakah itu aneh atau bukan ?” kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;”Kira-kira sebulan yang lalu, waktu aku tidur, antara sadar dan tidak sadar aku merasa didatangi oleh seorang pria yang gagah dengan wajah yang berwibawa dan berkumis tebal didampingi seekor harimau yang gadang (besar) sekali dan terlihat angker. Mereka datang dan mengajak aku bicara, yang aneh adalah harimau itu juga bisa bicara, aku sempat kaget dan takut, tapi saat itu rasanya aku tidak bisa bergerak untuk melarikan diri.” kata Bumi, lalu dia terdiam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Apa katanya uda ?” kata Basri penasaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Hah… aku baru teringat.” kata Bumi sambil memandang aneh ke arah adik-adiknya dan anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Kenapa aku bisa lupa perkataan orang tua itu ?” kata dia sambil menggaruk-garuk kepalanya kebingungan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda….!!!” kata Masnan tidak sabar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang lain juga mulai tidak sabar dan penasaran mendengar kata-kata Bumi yang terputus-putus tidak jelas maksudnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda, kenapa uda memandang kami begitu aneh.” sekali ini Siti yang bertanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Eh iya, uda kenapa memandang kami begitu.” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Hmmm … tiba-tiba aku ingat isi mimpi itu, padahal dari saat bangun sesudah mimpi itu sampai tadi aku sama sekali tidak ingat bermimpi seperti itu. Tapi setelah aku berusaha ingat-ingat kembali baru aku teringat kembali mimpi itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Begitu yah, uda. Berhubung uda sudah ingat mimpinya, bisa uda ceritakan kepada kami ?” kata Masnan tidak sabar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Seperti yang aku katakan tadi, aku didatangi seorang pria tua sekali dan seekor harimau besar. Mereka berdua mengajak aku duduk di sebuah pohon yang rindang sekali, setelah itu pria itu memperkenalkan dirinya, dia bernama Satyawarman dengan gelar Sutan Bagindo Inyiak dan harimau di sebelahnya bernama Sulaiman dengan gelar Panglima Harimau.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Sutan Bagindo Inyiak dan Panglima Harimau, kata uda Bumi?” potong Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Iya benar, kenapa Masnan ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aku pernah mendengar legenda tentang mereka dari kakekku yang juga diceritakan oleh kakeknya, mereka merupakan orang-orang sakti yang mumpuni sekali di jamannya. Satyawarman masih keturunan raja, tadinya dia yang merupakan calon kuat pengganti raja tapi entah karena apa tiba-tiba dia menghilang dan tidak kedengaran lagi beritanya, tidak lama panglima kerajaan saat itu yang bernama Sulaiman juga menghilang.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aku tidak pernah mendengar kisah ini sebelumnya, wah ini tambah seru saja, aku jadi tambah penasaran, hayo uda Masnan lanjutkan, untuk sementara uda Bumi dengarkan dulu, sesudah itu giliran uda Bumi yang ceritakan mimpinya.” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;”Baiklah aku lanjutkan. Tidak lama setelah hilangnya mereka, di dunia persilatan muncul seorang sakti yang suka menumpas kejahatan dan selalu didampingi oleh seekor harimau. Setiap kemunculan orang itu selalu sendirian dan tidak disangka-sangka tiada yang sadar atau tahu kehadirannya, tapi jika terjadi pengeroyokan dalam jumlah besar maka akan ada harimau yang membantunya.” kata Masnan sambil tangannya mengambil gelas kopi untuk meminumnya, karena dia merasakan tenggorokannya mulai kering karena bicara terus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemudian dia melanjuti ceritanya,” Kejadian ini tambah menggemparkan ketika tentara kerajaan mengalami musibah, bertempur melawan musuh dan mereka terdesak hebat. Tiba-tiba mereka mendapat bantuan dari orang itu dan harimaunya, dan yang lebih anehnya lagi baik orang sakti itu dan harimaunya sangat ahli dalam strategi perang. Orang sakti itu bisa memberikan aba-aba dengan menggerak-gerakan bendera kerajaan untuk melaksanakan perintahnya kepada prajurit secara tepat dan suara auman yang dikeluarkan harimau itu merupakan cara komunikasi perang yang suka digunakan Panglima Sulaiman untuk memulai melaksanakan aba-aba dari bendera.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Jadi walaupun mereka tidak melihat kedua orang itu tapi mereka merasa harus mematuhi dan melaksanakannya. Saat para prajurit ditanya, kenapa bisa mematuhi aba-aba dan perintah itu, mereka berkata, mereka merasa seperti sedang bertempur didampingi oleh Pangeran Satyawarman dan dipimpin oleh Panglima Sulaiman. Memang kedua orang yang menghilang itu merupakan para ahli strategi perang, setiap peperangan yang dipimpin oleh mereka selalu berakhir dengan kemenangan. Entah mulai kapan beredar berita bahwa orang sakti itu adalah Satyawarman dan harimau itu adalah jelmaan panglima Sulaiman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi benar atau tidaknya tiada yang tahu karena setiap orang yang pernah bertarung dengan mereka, tidak pernah melihat jelas wajah orang sakti itu dan mereka juga tidak pernah melihat adanya harimau di sekitar mereka, hanya mendengar suara aumnya saja, lalu tiba-tiba di saat-saat genting mereka bisa melihat berkelabat bayangan harimau di dekat mereka, dan harimau itu juga jago bertempur, banyak diantara mereka terkapar kesakitan kena terjang dan cakar harimau, sedangkan yang pernah bertempur langsung dengan orang sakti itu, selalu melihat gerakan silatnya seperti gerakan harimau. Makanya oleh orang-orang aliran sesat mereka dijuluki Bayangan Setan dan Harimau Setan, sedangkan kerajaan dan aliran putih memberi mereka julukan Sutan Bagindo Inyiak (panggilan hormat untuk harimau) dan Panglima Harimau, karena jika benar mereka itu adalah Pangeran Satyawarman dan Panglima Sulaiman maka julukan ini sangat cocok dengan mereka.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali tangan Masnan meraih gelas kopinya, tapi sayang kopi di gelas sudah habis, dia meletakan kembali gelasnya. Segera Bumi berteriak,”Uni Anikkk, tolong bawakan kopi ke sini.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tergopoh-gopoh pelayan yang bernama Anik itu keluar dari dapur sambil membawa ceret kopi yang masih keluar asap dari corongnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Pak, ini kopinya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Tolong uni tuangkan ke gelas itu dan sesudahnya letakan di tengah meja, biar nanti kami bisa ambil sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah dia menuangkan kopi ke gelas Masnan, langsung Masnan mengambil dan meminumnya untuk membasahi tenggorokannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ah nikmat rasanya. Nah itulah sekelumit cerita yang aku dapatkan dari kakekku, mengenai siapa gerangan orang sakti dan harimau itu, siapa sebenarnya mereka tidak ada yang tahu sampai saat ini. Makanya mendengar cerita uda didasarkan dari pengakuan mereka, aku jadi yakin akan kisah mereka itu. Uda Bumi, sekarang giliranmu menyambung ceritamu tadi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Tapi mengapa mereka datang dan bicara pada uda Bumi, apa maksudnya?, Uda lanjutkan lagi ceritanya, kami penasaran.” tanya Kahar&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba,”Uuuaaahhhh. Bunda, aku ngantuk. Ayah, boleh aku kembali ke kamar duluan?” kata Aswin dengan suara yang terdengar mengantuk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;”Eh yah, sekarang sudah jauh malam, iya, Aswin kamu sudah boleh tidur. Siti, kamu bisa mengantarkan Aswin ke kamarnya, kalau kamu sudah mengantuk boleh tidur juga.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Baiklah uda, permisi uda semua, kami mau tidur dulu, hayo Aswin ucapkan selamat malam.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Selamat malam ayah dan paman semua, sampai jumpa besok pagi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya Siti masih ingin mendengarkan kelanjutan cerita Bumi, tapi dia merasa malu bergabung dengan mereka, kalau tadi ada Aswin jadi tidak terlalu kentara kehadirannya diantara mereka, tapi setelah Aswin tidak ada dia merasa tidak ada tameng dia melawan rasa malunya karena senang Kahar suka curi-curi pandang ke arahnya. Dia pikir lebih baik dia tidur dan mungkin nanti bisa tanya ke Bumi kelanjutan ceritanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kahar yang melihat Siti hendak berlalu untuk pergi tidur merasa senang dan kecewa juga, senang karena dia bisa lebih santai melepaskan ketegangannya dan kecewa karena tidak bisa memandang wajah sang pujaan hati. Tapi dia juga tahu besok dan sampai beberapa hari lagi masih bisa memandang wajah Siti.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Selamat malam juga Aswin, Siti!” balas Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Hmmm… selamat tidur.” kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Baiklah, selamat malam, Siti, cepat kamu gendong dan bawa Aswin ke dalam, matanya sudah terpejam.” kata Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Selamat malam.” kata Kahar pelan dan matanya tidak berani memandang Siti, hanya memandang punggung Aswin saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Melihat itu Bumi merasa geli dan ingin menggoda adiknya, tapi dia menahan karena tidak enak mempermalukan Kahar di depan yang lain dan lagian dia belum tahu apakah Siti juga menyukai Kahar, kalau dilihat dari sikap Siti ada tanda-tanda ke arah itu tapi karena memang Siti orangnya pendiam dan pemalu maka tanda-tanda itu terlalu samar. Dia ingin mempertegas dulu perasaan Siti sebelum mulai menggoda mereka berdua di depan yang lain, karena dia tidak ingin menyakiti perasaan kedua orang yang disayangi seperti adik sendiri ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah Siti dan Aswin berjalan menuju ke dalam, Bumi segera mengangkat ceret untuk menuangkan isinya ke gelas yang lain dan gelasnya. Mereka sama-sama angkat gelasnya dan minum kopi yang sudah mulai dingin itu, lalu meletakan kembali gelasnya ke meja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda, sekarang sudah bisa lanjutkan ceritanya, terus terang saja hatiku mengatakan bahwa cerita uda itu ada sangkut pautnya juga dengan kami.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Eh Kahar, kenapa kamu bisa berpikir begitu?” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Coba uda pikir, kenapa uda Bumi tiba-tiba bisa ingat mimpinya setelah kita mendesak dia dan uda lihat tidak tatapan aneh dari uda Bumi kepada kita tadi ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Hmmm benar juga, tapi anehnya kenapa kamu bisa menyangkutkan mimpi uda Bumi dengan kita ?” kata Masnan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda Bumi, benar tidak perkataanku, atau instingku salah ?”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Kahar, engkau memang pria pintar, tidak salah kamu dipercayai kerajaan menjadi penyelidik, karena kehebatan cara kamu berpikir untuk merangkai-rangkai kejadian yang terjadi.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Jadi maksud uda Bumi, apa yang dikatakan Kahar itu benar ? Apa mimpi uda ada sangkutan dengan kami !” kata Basri kaget juga, dalam hati dia harus mengakui kepintaran adiknya ini, dia memang cerdik dan dengan cepat bisa membaca situasi tapi dibandingkan dengan Kahar, dia merasa rendah diri karena kemampuan adiknya dalam merangkai perestiwa-perestiwa yang terjadi sangatlah hebat ini menandakan kecermatan dan ketelitian dia dalam memandang sebuah persoalan atau kejadian. Dia hanya cermat dan teliti selama itu menyangkut dengan uang, di luar itu sepertinya otaknya tidak bisa bekerja baik. Dia tidak iri akan kehebatan adiknya ini karena dia tahu setiap orang punya kelebihan dan kelemahan juga, yang jelas kalau menyangkut uang adiknya kalah jauh dari dia.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Makanya dia bisa sekaya sekarang karena kecerdikan dia dalam mengelola usaha dan keuangannya, semua saudaranya mengakui kehebatannya karena itu mereka mempercayai dia untuk mengelola keuangan mereka. Uang mereka digabungkan dan ditambah dengan uangnya, dia buka sebuah toko keperluan sehari-hari di Teluk Kabung, dan usaha ini sangat laris dan banyak pelanggan yang datang ke tempat ini. Selain tentunya usaha-usaha dia yang lain tersebar sampai ke Muaro Bungo (Jambi) dan Sinabang (Sumatera Utara).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kali ini juga pertemuan mereka sebenarnya pertemuan rutin setiap tahunnya untuk membahas masalah toko dan pembagian keuntungan. Kebetulan pertemuan sekali ini dilakukan di tempat Bumi, setelah beberapa kali dilakukan di tempat dia. Mereka sering juga bertemu tapi biasanya karena ada persoalan-persoalan yang mereka membutuhkan bantuan yang lain. 2 bulan yang lalu mereka juga baru bertemu karena Kahar meminta bantuan mereka untuk mencari informasi mengenai perampok bernama Urang Rante (Orang Rantai julukan yang diberikan kepada narapidana, karena kaki mereka diikat dengan rantai) dari Sitiung.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Benar sekali, supaya kalian tidak penasaran sekarang aku lanjutkan ceritanya. Setelah dia memperkenalkan diri dia melanjutkan pembicaraan…..” Wali Bumi mulai membayangkan kejadian di mimpinya dan menceritakan kepada saudaranya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang diceritakan Bumi, mereka duduk di bawah pohon yang rindang, di atas akar pohon yang menonjol keluar dan keadaan di sekeliling mereka hijau dipenuhi dengan rumput dan pepohonan lainnya. Suasana sangat tenang dan teduh sekali, Bumi tidak tahu di mana mereka berada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Cucuku, Bumi, mungkin kamu kaget dengan pertemuan kita. Baiklah, aku akan langsung saja bicara terus terang supaya kamu tidak tambah bingung dengan kehadiran kami. Bumi, perlu kamu ketahui anak laki-laki kamu itu adalah anak yang terbekati oleh Yang Maha Esa. Dia merupakan anak yang dipilih untuk melawan sang angkara murka, seperti ketika jaman aku masih hidup, akupun ditakdirkan untuk melawan iblis yang dilahirkan untuk memberi kekacauan di dunia ini. Dan perlu kamu ketahui lawan-lawan anakmu sudah dilahirkan, bahkan diantara mereka ada yang sudah dilahirkan 1 tahun lebih awal dari anakmu. Tapi jika kamu bertanya kepadaku siapa saja mereka, aku tidak bisa memberi jawaban karena itu merupakan rahasia alam dan kehendak sang Maha Kuasa. Aku hanya tahu bahwa aku harus mempersiapkan anakmu dan beberapa anak lain untuk menghadapi mereka.” kata Pangeran Satyawarman dengan menghela nafas dalam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Maksud kakek, ada beberapa anak selain anakku yang akan menumpas kejahatan ? Siapa mereka ?” kata Bumi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Bumi, kamu sudah mengenal mereka, yaitu Bastian, Saiful, Burhan, dan Karim, mereka juga murid-muridmu.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Hah, mereka ?” kata Bumi tercengang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ini semua sudah diatur oleh alam, sejak kecil mereka sudah dipertemukan agar bisa saling mendekatkan diri dan sehati dalam menghadapi sang angkara murka. Karim akan menjadi patih kanan bertugas sebagai mata-mata, sedangkan Saiful yang akan menjadi patih kiri bertugas sebagai ahli pembuat senjata rahasia, Burhan yang akan menjadi pemimpin dari kelompok ini, Bastian akan menjadi penasehat sekaligus ahli strategi dan Aswin yang sebenarnya pemimpin utama tetapi karena karakternya suka seenaknya sendiri maka akan susah untuk menyuruh dia memimpin tim ini. Mereka semua akan kami didik secara langsung setelah 10 tahun mereka digembleng oleh guru-guru mereka yang berarti kemampuan dasar mereka sudah menjadi lebih matang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Jadi, maksud kakek, kelima anak itu akan menjadi pewaris ilmu harimau kalian, dan mereka nantinya akan mempunyai kemampuan yang berimbang ?!.” tanya Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;”Mengenai apakah kemampuan mereka berimbang kelak, itu juga masih merupakan rahasia alam, yang aku tidak dapat meramalkannya. Yang jelas kami menerima wangsit dari Yang Maha Kuasa bahwa kami harus melatih kelima anak itu sesuai dengan bakat dan kemampuan mereka. Tetapi sebelum mereka kami latih, mereka harus melewati tahap persiapan akan dasar-dasar tenaga dalam dan ilmu-ilmu silat. ”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Maafkan aku, kakek, aku masih tidak mengerti maksud kakek karena terus terang saja kepintaran dan kecerdikanku pas-pasan saja.” kata Bumi malu-malu.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ha..ha…ha… Bumi, aku senang kepada manusia seperti kamu, polos, jujur, apa adanya dan tidak malu untuk bertanya. Baiklah, aku akan menjelaskan lebih lanjut padamu.” kata Pangeran Satyawarman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Bumi, dalam wangsit yang aku terima, kelima anak ini sebelum di didik oleh kami, akan didik terlebih dahulu orang lain yang sudah digariskan untuk mempersiapkan mereka supaya kelak bisa menerima ilmu harimau dari kami. Adapun anakmu sudah dipilih oleh Datuak Inyiak Balang untuk dijadikan pewarisnya, ini merupakan suatu keberuntungan bagi anakmu karena dia juga merupakan murid dari perguruan kami sehingga mungkin kelak anakmu tidak akan mengalami kesulitan untuk ilmu-ilmu yang akan kami wariskan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kaget sekaligus bangga Bumi mendapat tahu bahwa puteranya dipilih oleh pendekar nomor satu seluruh ranah Minang untuk dijadikan muridnya, karena penasaran dia mengajukan pertanyaan kepada Pangeran Satyawarman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Kakek, kenapa bisa pendekar nomor satu itu memilih anakku sebagai pewarisnya, apakah atas petunjukmu ?” tanya Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Bukan Bumi, kami tidak pernah memberikan petunjuk apapun kepada dia untuk mengambil puteramu sebagai pewaris. Tapi perlu kamu ketahui cucu muridku Datuak Jangek Kuniang mempunyai sebuah keahlian khusus yang dia dapat dari tanah seberang yaitu ilmu perbintangan dan meramal. Jadi dialah yang menuntun cucu muridnya Datuak Inyiak Balang untuk mengambil Aswin sebagai muridnya. Kakek Inal yang kelak disebut-sebut anakmu itu adalah dia, nama dia waktu mudanya adalah Zainal, tapi dia menyebut dirinya Inal.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aku tahu Bumi, kamu pasti senang sekali anakmu menjadi murid tokoh utama di ranah ini.” kata Sulaiman dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bumi sampai terlonjak kaget karena tiba-tiba mendengarkan suara manusia yang dikeluarkan oleh seekor harimau. Pangeran merasakan keterkejutan Bumi dan merasa kasihan melihat wajahnya yang memucat melihat ke arah Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Kakanda Sulaiman, janganlah kamu menakut-nakuti Bumi, rubahlah penampilanmu menjadi manusia kembali.” kata Pangeran dengan pelan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Baiklah, Yang Mulia Pangeran”, sahut Sulaiman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Wessss… bummm…asap timbul mengelilingi harimau itu, tiba-tiba di tempat tadinya ada seekor harimau duduk, sekarang berubah menjadi seorang pria seumuran Bumi yang gagah perkasa dengan kumisnya yang melintang menambah keangkeran pemilik wajah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Bumi menatap terpana atas kejadian itu, sambil mengucek-ngucek matanya dia memandang wajah pria gagah itu. Wajah itu mirip sekali dengan kakek moyang isterinya, yang lukisannya tergantung di rumah mertuanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Jangan kaget Bumi, memang lukisan yang tergantung di rumah mertuamu itu adalah aku. Jadi anakmu masih mewarisi darahku di tubuhnya dan darah paduka Pangeran. Karena mertua laki-lakimu merupakan hasil pernikahan dari keturunanku dan keturunan paduka Pangeran. Mungkin kau bertanya dalam hati kenapa mertuamu hanya memiliki lukisanku tapi tidak mempunyai lukisan paduka Pangeran?, itu dikarenakan lukisan paduka Pangeran disimpan di istana Pagaruyuang dan tidak diperkenankan dipamerkan kepada khalayak umum.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bumi semakin terheran-heran dan kagum kepada kedua orang sakti ini yang bisa meraba apa yang menjadi pemikiran dia. Sekaligus dia semakin merasa bangga karena pernah menikahi keturunan dari kedua orang hebat ini. Sekarang dia tidak heran lagi akan kehebatan mertua laki-lakinya itu karena dia merupakan keturunan dari kedua orang hebat ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tapi Bumi, kamu jangan besar kepala dengan semua ini dan lupa diri, biar bagaimanapun dirimu adalah dirimu, pada saat kamu meninggal nanti segala embel-embel yang melekat padamu kini tiada artinya, jadi selalu mawas diri dan rendah hatilah selalu seperti sekarang ini jangan berubah.” kata panglima Sulaiman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Aku berjanji kakek, aku akan selalu mawas diri dan tidak tinggi hati dengan semua yang ada padaku. Jika aku melanggarnya kakek berdua boleh menghukum aku, dan aku tidak akan melawan sedikitpun.” Sahut Bumi.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Baguslah kalau begitu, kembali ke masalah kita tadi, Bumi, sebagaimana yang telah aku katakan tadi bahwa anakmu akan menjadi murid dari cucu muridku, oleh karena itu aku minta kau mengizinkannya dan kau boleh tetap mewarisi ilmu pamungkasmu kepada anakmu itu. Ilmu-ilmu apapun yang diberikan kepada anakmu tidak akan menjadi masalah bagi dia karena memang dia dipersiapkan sedemikian rupa untuk bisa menerima ilmu-ilmu yang kelak akan kami wariskan kepadanya dengan harapan nantinya dia benar-benar mempunyai kemampuan dan kehebatan silat maupun tenaga dalam yang bisa menandingi sang angkara murka itu.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Ilmu-ilmu yang kami berikan kepadanya nanti merupakan ilmu yang sangat berat dan dibutuhkan kecerdasan pikiran dan kematangan tindakan, juga harus dilengkapi dengan hati yang tulus dan berbudi luhur. Oleh karena itu kami mengharapkan kau bisa menanamkan budi pekerti dan ketulusan hati padanya sejak dini agar kelak dia dewasa, dia akan menjadi seorang pendekar yang berbudi luhur dan membela kebajikan.” Kata Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang setelah Panglima Sulaiman berubah wujud kembali menjadi manusia, lebih banyak beliau yang berbicara sedangkan Pangeran Satyawarman mendengarkan saja.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sambung panglima Sulaiman,”Kamu mempunyai kesempatan untuk mendidik anakmu sampai dia berusia 8 tahun saja, karena setelah itu kami akan meminta Zainal membawanya pergi untuk dilatih lebih lanjut di perguruan kami supaya dia lebih konsentrasi.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kamu tentu juga ingin tahu mengenai nasib anak-anak yang lain?, sebelumnya perlu engkau ketahui kelak banyak orang yang ingin menjadi guru untuk anakmu termasuk adik-adik angkatmu. Tapi takdir menentukan lain adik-adik angkatmu akan menjadi guru dasar bagi anak-anak yang lain. Tugasmu adalah mempertemukan adik-adik angkatmu dengan anak-anak itu, biarkan mereka memilih diantara anak-anak itu siapa yang akan menjadi murid mereka. Khusus Karim, engkau akan dapat mendidiknya bersama dengan Aswin karena dia harus engkau yang mendidiknya langsung. Setelah mereka mendidik ketiga anak yang lain selama 5 tahun, kamu harus membawa mereka kembali ke sini, karena akan datang guru lain yang akan mendidik mereka.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejenak Sulaiman terdiam setelah bicara panjang lebar atas uraiannya, suasana terasa hening, kemudian terdengar suara Bumi bertanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kakek, bolehkah aku bertanya lebih lanjut?” tanya Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Apakah engkau ingin tahu kenapa Karim harus engkau yang didik ? Dan siapa gerangan yang akan menjadi guru selanjutnya dari anak-anak itu ?, Benar tidak, Bumi ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali Bumi merasa sedikit gentar karena tokoh-tokoh di depan dia itu bisa membaca pikirannya, sehingga dia merasa harus berhati-hati kalau memikirkan sesuatu, takut mereka marah setelah tahu apa yang dia pikirkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bumi, kamu jangan gentar karena kami bisa membaca pikiran kamu, jika pikiranmu bersih engkau tidak harus takut dengan hal ini.” Kata Pangeran Satyawarman dengan senyum dikulum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Baiklah Bumi, aku menjawab pertanyaanmu itu supaya kamu tidak penasaran. Mengenai kenapa Karim harus kamu didik dikarenakan kami tahu kamu adalah mata-mata bagi kerajaan di masyarakat (istilah jaman sekarangnya agen rahasia), Tidak banyak yang tahu mengenai pekerjaanmu ini bahkan keluarga dan para saudara angkatmupun tidak mengetahuinya. Ini saja sudah membuktikan kehebatan kamu sebagai seorang mata-mata yang diutus langsung oleh baginda. Kamu bisa menipu orang lain dengan penampilan kamu yang terkesan lugu dan sederhana itu.” Kata Sulaiman dengan tersenyum simpul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata Bumi ini mempunyai pekerjaan sampingan selain sebagai wali nagari, tidak heran dia sering pergi ke luar kota karena dia harus pergi menyelesaikan tugas yang diberikan baginda dan melaporkan hasilnya. Inilah salah satu lagi kehebatan dari Bumi adalah dia bisa menyembunyikan identitas dirinya dari orang lain. Memang kehebatan dari seorang mata-mata itu diukur dengan kemampuan dia membaur dalam masyarakat tanpa mereka menyadari siapa sebenarnya dia. Dalam hati Bumi semakin salut kepada kedua tokoh mumpuni ini, karena mereka bisa mengetahui apa yang dikerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Kami ingin Karim mempunyai kemampuan seperti kamu, kami juga tahu mendidik anak itu untuk menjadi sehebat kamu tidaklah mudah, tapi tidak apa kami ingin dia mendapatkan dasar-dasarnya dari kamu, setelah dia mendapat didikan dari kamu selama 5 tahun, akan tiba masanya sama dengan anak-anak lain, dia bertemu dengan guru berikutnya. Sedangkan siapa gerangan guru selanjutnya bagi anak-anak itu, ada beberapa orang yang kamu pernah dengar namanya seperti Datuak Saluang Maut, Pandeka Tinju Lautan dari Pulau Bulan, Dewi Kipeh (Kipas) Matohari, Dua Serigala Putih dari Sungai Dareh, dan ada beberapa yang lain.” Kata Sulaiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, kakek, mereka adalah tokoh-tokoh legendaries berpuluh tahun yang lalu, sungguh hebat mereka masih hidup sampai sekarang, mungkin umur mereka sudah di atas 80 tahun. Kakek, bagaimana dengan Aswin, apakah dia juga akan menerima pendidikan selanjutnya dari guru lain yang hebat-hebat juga seperti nama yang telah kakek sebutkan tadi ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Khusus untuk anakmu ada sedikit perbedaan, karena dia sudah dipilih langsung oleh Zainal, maka pendidikannya akan terus berlanjut tanpa terputus. Dan kau jangan kuatir anakmu akan kalah hebatnya dibandingkan dengan anak-anak yang lain, karena sewaktu berada di tempat Zainal nanti, dia akan bertemu dengan guru-gurunya yang lain.” kata panglima Sulaiman.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Syukurlah Aswin akan dididik oleh orang hebat juga, aku berharap dia tidak mengecewakan kelak.”.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Setelah mereka dididik selama 5 tahun oleh guru-guru selanjutnya, maka kami akan datang menjemput mereka untuk kami didik Tentang perhitungan 5 tahun itu dimulai saat kedatangan adik-adik angkatmu ke rumahmu dan Aswin serta Bastian berusia 5 tahun, sedangkan anak yang lain berusia 6 tahun. Jadi tepat di usia 15 tahun nanti Aswin akan mulai kami didik sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidak terasa berapa lama mereka bicara, tiba-tiba terdengar kokok ayam memanggil sang surya untuk memancarkan sinarnya di ranah minang ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Bumi, itu pertanda sudah saatnya kami pergi, ingatlah baik-baik pesan kami ini kepadamu, kami yakin kamu mampu melaksanakannya. Setelah ini kamu akan melupakan pembicaraan kita ini, pada saatnya nanti kamu akan mengingatnya kembali dan kami harap kamu bisa menceritakan hal ini pada adik-adik angkatmu tetapi hanya hal-hal yang memang perlu mereka ketahui saja, kami yakin kamu bisa melaksanakannya secara bijaksana.” Kata Pangeran Satyawarman dengan nada halus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tapi entah kenapa Bumi merasakan nada halus itu sepertinya mempunyai kekuatan magis membuat dia mematuhi perintah terselubung itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kembalilah kamu, Bumi, laksanakanlah tugasmu dengan sebaik-baiknya, kami mengandalkanmu agar bisa terselesaikan dengan baik sesuai permintaan Sang Maha Kuasa.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu keadaan tempat mereka duduk dilingkupi oleh kabut, dan kedua tokoh itupun menghilang. Dan tiba-tiba Bumi terjaga dari tidurnya tanpa dia tahu apa yang membuat dia terbangun secara mengejutkan itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Begitulah mimpiku itu adik-adikku, setelah mereka menghilang dan aku terjaga tapi aku tidak bisa mengingat mimpi itu sampai tadi kita berbicara. Mungkin sudah saatnya semua tahu apa yang akan terjadi nantinya. Dan aku senang ternyata anakku akan menjadi murid tokoh-tokoh utama yang mumpuni”,kata Bumi, tentunya ada beberapa bagian dari mimpi itu yang tidak dia ceritakan kepada yang lain seperti bahwa dia seorang mata-mata, kakek Inal yang dimaksud anaknya adalah Datuak Inyiak Balang, dan ada beberapa bagian lagi sesuai dengan nalurinya untuk tidak menceritakannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Tokoh utama di dunia persilatan ? Siapa gerangan dia uda, apa mereka tidak katakan siapakah orang menjadi guru anakmu itu ?” tanya Masnan penasaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Mereka hanya bilang nanti pada waktunya kita akan tahu siapa gerangan tokoh itu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua terdiam mendengar jawaban Bumi, mereka masih merasa takjub mendengar kisah mimpi Bumi yang sudah meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan, tapi tetap masih terselubung misteri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Uda, apa anak-anak yang lain tinggal di dekat sini? Dan apakah masih mempunyai orang tua ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Mereka memang tinggal di sini, Karim tinggal bersamaku dan kedua orang tuanya ada di tanah seberang, kedua orangtua Saiful masih ada asli penduduk sini. Sedangkan Burhan anak yatim piatu yang sekarang dibesarkan oleh keluarga mamaknya (paman/kakak dari ibu), Bastian hidup bersama ibunya. Mengapa engkau tanyakan hal ini Basri ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;”Uda, seperti yang dikatakan para sesepuh, kalau memang benar aku akan mengambil salah satu dari anak-anak itu menjadi murid, pasti aku akan membawa dia pergi, apakah orang tuanya tidak keberatan dengan itu ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Benar juga sih, tapi mungkin kalau diberi penjelasan mereka akan mengerti dengan sendirinya. Kalau perlu aku akan bantu menjelaskan kepada penanggung jawab mereka.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar di luar kentongan dipukul sebanyak tiga kali, ini berarti sudah hampir menjelang subuh. Mereka memerlukan istirahat dan perenungan atas kejadian dari tadi siang sehingga malam begini, agar mereka lebih bisa menerima situasi yang telah terjadi sekarang ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Dik, kalian pasti sudah lelah dan butuh istirahat, bagaimana kalau kita semua pergi tidur dulu, pembicaraan ini akan kita lanjutkan nanti, Aku juga akan mengundang anak-anak itu datang ke sini supaya kalian bisa melihat mereka dan siapa tahu mereka memang berjodoh dengan kalian.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Baiklah uda, aku pikir juga itu yang terbaik, dengan istirahat siapa tahu kita bisa lebih berpikiran jernih dan membantu permintaan dari para sesepuh itu.” sahut Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Selamat malam uda, kami tidur dulu.” kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Selamat malam juga, mudah-mudahan besok tidak terjadi hal-hal yang mengagetkan seperti hari ini.” sahut Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera semua berlalu dan berjalan menuju kamar mereka masing-masing sawmbil membawa pemikiran yang bermacam-macam sehubungan dengan mimpi dari Bumi itu. Tak lama suasana rumah semakin hening dan tenang, yang terdengar hanyalah suara koor para jangkrik untuk mengiringi sang rembulan yang semakin lama semakin bergerak menuju ke peraduannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nun jauh di luar sana ada seseorang yang tidak tidur malam ini, bahkan di benaknya terjadi kesibukan merancang rencana ini itu untuk menggemparkan dunia persilatan, sebentar terlihat keningnya berkerut dalam dan mata yang berkilat-kilat penuh kebencian, sebentar berubah cerah bahkan sampai membuat dia tertawa kecil dengan mata yang memancarkan kelicikan dan kekejaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di hadapan dia terdapat sebuah tempat tidur yang indah dengan 4 tiang penyangga yang terdapat ukiran ular yang sedang merayap naik dan melilit tiang itu. Sungguh sebuah ukiran yang sangat indah dan tidak ternilai harganya. Dikelilingi dengan kelambu yang putih berenda transparan yang sangat halus sekali jahitannya. Ruangan tidur inipun besar, dindingnya dihiasi dengan lukisan indah yang dibuat oleh pelukis terkenal dari seberang. Semua perabotan yang ada baik bangku, meja, lemari yang terdapat di kamar itupun merupakan hasil pahatan sangat halus dan indah, di setiap kakinya ada ukiran ular yang sedang membelilit kaki meja atau bangku tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sungguh yang empunya kamar pastilah orang kaya raya melihat isi dalam kamar tersebut penuh dengan hasil karya manusia yang luar biasa indahnya. Dari semua yang indah ini ada satu hal yang mengganggu yaitu wajah orang yang ada di kamar itu, wajahnya sungguh menyeramkan dengan adanya bekas luka yang memerah menjijikan karena masih berair nanah di sekeliling pinggiran luka tersebut, kerusakan wajah itu dari kening kanan sampai tengah dagu, ditambah lagi dengan mata kanannya yang sudah tidak ada lagi sehingga terlihat hanya rongga hitam yang mengerikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaliknya wajah di sebelah kirinya merupakan wajah seorang pria yang sangat tampan dengan mata hitam yang mempunyai pinggiran kebiru-biruan dan berbulu mata hitam lentik. Pasti dulunya sebelum wajah itu rusak, dia merupakan seorang pria yang sangat tampan sekali, entah apa penyebab sehingga wajah itu sekarang begitu mengerikan. Orang ini mempunyai tubuh tinggi kekar dengan warna kulit yang sawo matang, tapi sayang kakinya kecil tidak sepadan dengan besar tubuhnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di atas tempat tidur itu terlihat sosok bocah kecil yang sedang tertidur pulas, raut wajahnya tampan dengan hidung yang tinggi mancung dan berkulit terang. Wajah itu terlihat tidak seperti wajah orang setempat, lebih tepat dikatakan anak ini bukanlah dari ranah ini tapi dari dunia lain sana. Sesekali orang yang sedang duduk itu melemparkan pandangannya kepada bocah ini dengan tatapan memuja. Sungguh sebuah pemandangan yang ganjil sekali, anak kecil dengan raut wajah yang mempesonakan, didampingi oleh orang dewasa yang bertampang mengerikan benar-benar bumi dan langit perbedaannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapakah gerangan kedua orang ini, apakah hubungannya dengan 5 harimau muda kita ? Bagaimana sebenarnya hubungan Kahar dan Siti ?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2728266448404398223-2457837059517958264?l=julaicersil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julaicersil.blogspot.com/feeds/2457837059517958264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/2010/03/bagian-iii-mimpi-yang-aneh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default/2457837059517958264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default/2457837059517958264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/2010/03/bagian-iii-mimpi-yang-aneh.html' title='Bagian III : Mimpi Yang Aneh'/><author><name>sieklie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17612761808487395655</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2728266448404398223.post-2697564705032620324</id><published>2010-03-12T19:09:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T19:09:07.352-08:00</updated><title type='text'>Bab II : Ula Sirah Ameh</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pagi-pagi sekali sudah berdatangan beberapa perempuan ke rumah wali nagari Bumi membawa beberapa macam panganan kesukaan Aswin untuk diberikan pada bocah ini. Mereka ingin memastikan bahwa Aswin baik-baik saja, tidak mengalami demam atau kesakitan yang sangat. Bahkan tetua Nurdin menyempatkan diri menjenguk anak ini sebelum pergi ke Kayu Aro untuk menjual hasil kerajinan tangannya ke sana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak lama semakin banyak penduduk yang datang silih berganti untuk menjenguk Aswin, bocah ini sangat senang sekali menerima perhatian semua orang dan menikmati makanan yang diberikan mereka sambil sekali-kali meringis menahan sakit di pantatnya. Sang ayah hanya bisa melihat dan tidak bisa protes kepada penduduk atas perlakuan mereka pada Aswin. Tapi dalam hati para penduduk dan ayahnya terbesit keheranan kenapa Aswin tidak mengalami demam seperti pada umumnya anak-anak jika sedang kesakitan. Malah wajahnya berseri-seri sehat seperti tidak dalam kondisi sakit, para penduduk hanya berpikir seorang wali nagari yang sakti mandraguna seperti Wali Bumi pasti juga punya obat yang ampuh untuk sembuhkan anaknya, dan si anak sendiri pasti punya kekuatan yang lain dari anak biasa karena berayahkan seorang pendekar ternama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anak nakal ini mewarisi kecerdikan sang ibu, keberanian sang ayah, sedangkan dari segi sifat dia mengambil sifat periang ibunya dan sifat adil ayahnya. Berhubung dia memang anak yang jahil dan iseng, dia tidak mengakui rasa sakit di pantatnya sudah tidak ada lagi, bahkan pada saat dia bangun tadi pagi diapun merasa heran kenapa di pantatnya sudah tidak ada jejak bekas pukulan dan tidak merasakan sakit lagi. Karena senang perhatian semua orang maka dia pura-pura masih kesakitan di bagian pantat. Tapi saat pengasuhnya datang mau mengobati pantatnya dia berkeras menolaknya dan ingin mengobatinya sendiri, dia tidak mau banyak pertanyaan dari pengasuhnya mengenai kesembuhannya karena dia sendiri tidak tahu jawabannya di samping itu dia masih ingin menikmati perhatian orang-orang padanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Teman-teman mainnya, Burhan, Bastian, Karim dan Saiful juga datang untuk menjenguk dia, dan mereka duduk di sana menemani Aswin menerima limpahan sayang dari orang dewasa, sedikitpun tidak ada perasaan iri hati atau dengki kepada Aswin, mereka malahan tertawa-tertawa melihat kelakuan Aswin. Mereka tahu teman mereka ini memang jahil dan iseng tapi sangat baik hati, setia dan berani membela mereka jika terjadi suatu masalah, bahkan suka menghibur mereka jika ada yang menangis karena dimarahi atau dipukul oleh orang tua mereka, pokoknya Aswin bagi mereka merupakan teman yang disenangi dan secara tidak sadar mereka sudah menganggap dia sebagai pimpinan mereka. Walau orang lain melihat bahwa Burhan yang berperan sebagai komando mereka tapi sebenarnya secara tidak sadar anak-anak ini tahu yang selalu tampil di setiap situasi genting adalah Aswin, dan dialah sebenarnya pemimpin mereka dengan semua ide kreatif seorang anak yang suka membuat situasi sesuai dengan keinginan hatinya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan mereka juga tahu sebenarnya Aswin tidak dalam kesakitan karena pada saat sepi dari orang-orang dewasa, Aswin dengan terkikik geli memperlihatkan pantatnya pada teman-temannya. Mereka heran kenapa pantat Aswin mulus tidak seperti habis dipukul, ketika mereka menanyakan hal ini, dia tidak bisa menjawab, pikirnya pasti ada seseorang mengobati dia waktu dia sedang tidur tadi malam, kejadian ini sudah terjadi beberapa kali tapi selalu jika bundanya tidak ada di tempat untuk mengobatinya..&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anehnya lagi kadang-kadang waktu dia tidur, dia bermimpi ada seseorang memasukan sesuatu ke mulutnya, lalu mengurut-urut tubuhnya, dan pada saat dia bangun keesokan harinya badannya terasa segar dan nyaman sehingga sering membuat dia ingin berlari-lari mengelilingi nagari ini. Kejadian ini sudah berlangsung lama, yang dia sendiri tidak tahu pasti kapan mulai orang itu memasuki kehidupannya, dia merasa mempunyai pelindung yang akan selalu menjaganya, akibatnya dia menjadi semakin nakal dan percaya diri, ini menimbulkan keberanian dalam dirinya untuk melakukan hal-hal yang oleh anak seusia dia tidak berani lakukan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekarang teman-temannya selain menemani Aswin, juga tertawa-tawa geli melihat bagaimana tingkah Aswin dilimpahi kasih sayang oleh para orang dewasa itu, bagi mereka ini merupakan tontonan yang mengasyikan. Apalagi melihat tingkah Aswin yang sengaja seolah-olah pantatnya masih sakit bekas pukulan itu, dia benar-benar menikmati perhatian dan kasih sayang yang mereka limpahkan kepadanya. Dia tidak merasa bersalah menerima semua perhatian ini, karena dia tidak pernah memintanya, tapi mereka yang baik hati memberikan kepadanya, jadi dia merasa wajar saja dengan tidak mengatakan pada mereka bahwa dia sudah sembuh dari bekas pukulan di pantat semalam itu. Benar-benar pemikiran seorang anak yang mempunyai egosentris yang besar walau di balik itu semua dia juga mempunyai kualitas kebaikan dalam dirinya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semua penduduk di daerah itu tahu siapa Aswin dan mereka sangat menyayanginya serta melindungi anak ini jika kenakalannya menyebabkan kemarahan sang ayah. Ibu anak ini sudah lama meninggal sejak Aswin berusia 2 tahun, dia dibesarkan oleh adik ibunya yang bernama Siti, yang oleh Aswin dipanggil Bunda. Dari sang bunda inilah Aswin menerima pendidikan membaca, menulis dan dasar-dasar pengenalan ilmu pengobatan serta dasar-dasar ilmu mengatur barisan. Siti sendiri merupakan seorang perempuan yang terpelajar dan cukup dikenal di dunia persilatan karena keahlian pengobatannya, dia dinamakan Dewi Tangan Dingin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Banyak sudah orang persilatan yang disembuhkan Siti, dan mereka merasa berhutang budi pada sang perempuan nan cantik ini. Orang menamakan dia Dewi Tangan Dingin karena memang Siti ini selain seorang perempuan yang cantik nan rupawan, berkulit hitam manis dan mempunyai tangan yang dingin sejuk setiap menyentuh orang yang sakit, sehingga mereka menamakan dia sesuai dengan keahliannya itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kakaknya yang bernama Sabai Nurleila merupakan ibu kandung Aswin juga sangat terkenal di dunia persilatan dengan gelar Dewi Kuniang (Kuning) nan Cadik (cerdik), dia berkulit kuning bersih, keistimewaan sang kakak adalah daya ingatnya dan kecerdikannya dalam membaca situasi-situasi yang terjadi (alun takilek ala tabayang) menjadikan dia seorang ahli strategi perang yang hebat, anak kesayangan bupati Painan yaitu Sutan Gadang Merapi yang juga merupakan ayah dari kedua perempuan hebat ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Walaupun mereka mempunyai penampilan dan keahlian yang berbeda tapi kedua wanita ini saling sayang menyayangi dan saling melindungi satu dengan yang lainnya. Sang kakak mewarisi ilmu dan sifat sang ayah yang tegas dan periang tapi dikaruniai kecantikan sang ibu yang unik karena mempunyai darah keturunan Tionghoa sehingga mempunyai kulit kuning bersih, sedangkan sang adik mewarisi keahlian dan sifat sang ibu yang pendiam dan lembut tetapi mewarisi kecantikan khas orang Minang dan berkulit gelap seperti sang ayah, ini menyebabkan mereka mempunyai kecantikan dan ciri khas masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Inilah sekelumit latar belakang dari keluarga isteri wali nagari Bumi, Aswin sangat menurut kepada Bunda Siti dikarenakan pernah membuat Bundanya menangis akibat kenakalannya, dan dia merasa takut kehilangan Bundanya dan dadanya terasa sakit setiap mengingat air mata sang Bunda, sejak saat itu dia selalu menurut kepada Bundanya karena tidak ingin melihat Bundanya menangis lagi. Tapi dengan kejadian itu secara tidak sadar membekas dalam hatinya, ini menimbulkan trauma. Setiap melihat seorang perempuan menangis sedih, dia merasa cemas dan sakit di dadanya, kelemahan yang tertanam dari kecil ini yang kelak pada saat dia dewasa akan menyebabkan banyak masalah yang memusingkan kepalanya.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya kenapa Siti sampai menangis dikarenakan pada saat Aswin berusia 5 tahun pernah membawa pulang sepasang ular kecil yang berkulit sangat indah sekali berwarna merah gelap berbintik-bintik keemas-emasan yang gemerlap kalau di lihat dalam kegelapan dan di kanan kiri atas kepala ular tersebut ada tonjolan kecil seperti tanduk. Dengan penuh kebanggaan dan senyum lebar serta mata yang berbinar-binar, dia menunjukannya pada sang bunda sepasang ular tersebut, langsung saja sang bunda terbelalak matanya dan tidak berani bergerak di tempat saking terkejut dan takutnya melihat kedua ular yang ada di tangan Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ukuran ular ini tidak besar hanya sejengkal tangan pria dewasa dan mempunyai lingkaran tubuh kira-kira sebesar jari kelingking wanita dewasa. Kenyataannya adalah kedua ular itu merupakan ular langka yang jarang bisa ditemukan di muka bumi ini, ular ini hanya bisa ditemukan 20 tahun sekali karena saat itu mereka keluar untuk mencari pasangan mereka, setelah itu mereka akan menghilang dan tidak ada yang tahu ke mana. Di dunia persilatan orang tahu keganasan ular ini, banyak tokoh-tokoh persilatan mati akibat ular itu, bahkan banyak juga penduduk di sekitar bukit Barisan yang merupakan tempat kemunculan ular itu yang meninggal akibat ular ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masa kawin ular ini hanya berlangsung selama 20 hari lamanya, maka dari itu orang-orang yang ingin menangkap ular ini hanya mempunyai waktu selama 20 hari, jika mereka gagal mereka harus menunggu 20 tahun lagi. Banyak tabib-tabib terkenal dan orang-orang persilatan yang ingin menangkap ular ini, tapi tidak semudah yang mereka perkirakan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Anehnya entah kenapa populasi ular ini sangat sedikit sekali konon dari kabar yang beredar di dunia persilatan setiap 20 tahun sekali ular akan muncul di permukaan untuk mencari pasangannya dan paling banyak hanya muncul 30 ekor ular, jika ular-ular ini tidak menemukan pasangannya maka mereka akan mat dengan tubuh yang mencair setelah lewat 20 hari dari masa pencarian tersebut. Mungkin karena itu makanya populasi ular ini sangat sedikit ditambah lagi ular ini hanya bertelur 1 butir telur saja setiap kali mereka sudah menemukan pasangannya. Benar atau tidaknya kabar yang beredar tidak ada yang tahu tapi memang inilah kenyataan yang terjadi, semuanya merupakan misteri alam yang tidak dapat dimengerti oleh manusia.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Khasiat ular ini sangat baik sekali, darah dan dagingnya bisa memberi kekebalan terhadap racun apa saja kepada yang memakannya, sedangkan kulitnya mereka akan buat menjadi senjata beracun dan tanduknya jika dicampur dengan daging Kodok Lawa dari hutan Rimbo Kaluang akan bisa meningkatkan tenaga dalam yang memakannya dengan cepat karena campuran ini bisa membantu membuka semua jalan darah yang tersumbat yang biasanya harus dilakukan oleh ahli silat yang mempunyai tenaga dalam tinggi selama bertahun-tahun. Benar-benar binatang langka pilihan tidak heran banyak sekali orang yang ingin menangkapnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tetapi kebalikan dari semua khasiatnya yang hebat ular ini merupakan jenis ular yang paling ditakuti karena mempunyai 3 jenis racun yang sangat ganas dan berbahaya pada tubuhnya. Racun yang pertama merupakan air liur (bisa) ular tersebut jika manusia atau binatang kena bisanya akan langsung mengalami sakit yang luar biasa di sekujur tubuh seperti disayat-sayat dan tidak sampai hitungan ke 20 biasanya yang kena racun tersebut langsung meninggal dalam keadaan kulit berubah menjadi merah seperti orang kena bintik demam berdarah, pecah semua pembuluh darah yang ada di tubuh&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Racun kedua adalah yang ada di bawah kulitnya, jika ular tersebut merasa dirinya dalam bahaya karena orang bermaksud menangkapnya dengan menggunakan tangan telanjang, maka dia akan mengeluarkan lendir dari tubuhnya dan jangan harap manusia tersebut bisa hidup normal lagi. Karena di bawah sisik kulitnya terdapat semacam lendir yang beracun sekali, jika dipegang oleh tangan maka racun lendir itu akan masuk melalui pori-pori tangan ke dalam tubuh orang tersebut. Akibatnya tidak berapa lama seluruh syaraf yang ada di tubuh menjadi kaku seperti membeku dan seluruh tubuh tidak dapat berfungsi normal, dan orang itu akan menjadi seperti manusia tumbuh-tumbuhan, hanya bisa bernafas tapi tidak bisa bergerak. Ini merupakan siksaan yang paling mengerikan, dibilang hidup tapi mati, dibilang mati tapi masih bernafas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Racun yang ketiga adalah uap yang dikeluarkan oleh hidungnya, begitu terhirup pada manusia atau binatang akan langsung mati karena paru-parunya sudah hancur di dalam tubuh. Keganasan ular ini sangatlah terkenal sekali dan karena keindahan kulitnya maka orang-orang menamakannya Ula Sirah Ameh (Ular Merah Emas).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan belum ada obat yang dapat menyembuhkan racun-racun tersebut bahkan Tabib sakti seperti Tabib Mato Tigo yang merupakan kakek guru Siti adalah seorang tabib yang sangat hebat, orang yang sekarat dapat dihidupkannya kembali, pun tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong orang yang kena racun Ula Sirah Ameh ini. Karena itu sejak sekitar 20 tahun yang lalu Tabib Mato Tigo menghilang dari dunia persilatan, menurut kabar yang beredar, beliau ingin mengabdikan dirinya untuk menemukan pemunah racun ular ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tapi kini Aswin bisa memegang kedua ular tersebut dengan tenang dan santai tanpa cedera apapun juga. Di samping merasa ketakutan, sang bunda merasa heran dan kagum kenapa ular ini bisa melilitkan badannya ke tangan Aswin yang mungil tersebut tanpa melukai si anak itu sendiri, yang lebih anehnya lagi bahkan salah satu dari ular tersebut terlihat seperti kucing yang sedang menggesek-gesekan kepalanya ke jari-jari Aswin, sedangkan temannya menjulurkan lidahnya yang berwarna keemasan keluar menjilati tangan Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sewaktu Aswin bergerak untuk mendekati sang bunda, langsung bundanya berseru, ” Aswin, jangan mendekat, berdiri di situ dan jangan bergerak!”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aswin langsung terdiam dan tidak berani bergerak, tapi karena penasaran dia bertanya,” Bunda, kenapa aku tidak boleh bergerak?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kamu diam di situ sebentar bunda mau ke ruang sebelah, jangan ikuti bunda.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Baik, Bunda.” jawab Aswin sambil mengerutkan alisnya saking bingung melihat sikap bundanya yang aneh tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian Siti langsung berjalan pelan-pelan menuju keluar sambil matanya tidak lepas memandangi ular yang ada di tangan Aswin. Dengan penuh kecemasan dan ketakutan yang hampir membuat lututnya lemas, dia tetap berusaha berjalan ke ruang sebelah yang merupakan ruang keluarga di mana ayah Aswin sedang menerima tamunya. Begitu keluar dari pintu secepat kilat dia berlari mencari wali nagari Bumi, &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wali nagari Bumi sedang menerima 3 orang tamu yang merupakan teman seperjuangan ketika dia masih aktif di dunia persilatan, dengan santai dan tertawa-tawa mereka mengenang masa lalu waktu masih menikmati pertualangan di dunia persilatan. Adapun teman-teman wali nagari Bumi bukan orang sembarangan merupakan tokoh-tokoh yang terkenal di pemerintahan dan di dunia persilatan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang duduk di sebelah kanan wali nagari Bumi berperawakan sedang dengan wajah bulat dan mata yang bersinar cerdik bernama Basri Surian atau lebih dikenal dengan sebutan Rangkayo dari Sijunjuang, julukan ini diberikan karena dia merupakan orang yang sangat kaya yang berasal dari kota Sijunjuang selain itu dia dikenal sangat dermawan dan berilmu silat tinggi, dengan jurus pedang Mato Manikam Pedang Bakilek (Mata menikam pedang berkilat) sudah termasuk tokoh yang susah dicari tandingannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tokoh kedua yang duduk di sebelah kiri wali nagari Bumi berperawakan tinggi besar dengan kumis melintang di atas bibir menambah kejantanan dari wajah yang boleh dikatakan termasuk gagah ini bernama Masnan Asar bergelar Tangan Malaikat, tidak kalah terkenalnya, dengan ilmu Manyilang Tangan Bumi Tarengkek (Menyilang Tangan Bumi Terangkat) yang bersumber dari kekuatan tenaga dalamnya yang sudah mencapai tingkat tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tokoh ini telah menggemparkan dunia persilatan ranah minang sejak 20 tahun yang lalu dan telah banyak penjahat yang tewas di tangannya diantaranya Iblis Duo Muko, Buyuang Gapuak (Pemuda Gendut) dari Pasaman, Datuak Siluman Gata (Datuk Siluman Genit) yang merupakan tokoh-tokoh dunia hitam yang sangat ditakuti.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sejak 10 tahun yang lalu beliau telah memangku jabatan sebagai wakil jenderal pasukan Garuda Malayang, sebuah pasukan khusus yang bertugas menjadi pengawal pribadi raja. Kebanyakan wakil jenderal ini selalu bertugas sebagai mata-mata raja dan mengurus segala keperluan raja yang tidak resmi di luar lingkup istana, sedangkan jenderal pasukan ini selalu berada di dalam istana untuk melindungi raja. Pasukan ini merupakan pasukan pilihan dan sangat terkenal karena kehebatan serta keberanian mereka melindungi sang junjungan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan tamu yang terakhir kebalikan dari kedua tamu sebelumnya, berwajah tampan dan pembawaannya begitu halus dan tenang selalu tersenyum seakan dunia ini penuh kedamaian yang bernama Kahar Nias, masih saudara jauh dari raja Minangkabau yang bertahta sekarang dan menjadi orang kepercayaan raja dalam menyelidiki dan menyelesaikan kasus-kasus yang tidak bisa ditangani oleh kerajaan seperti kasus di dunia persilatan ini, serta mempunyai gelar Sutan Mudo Barangin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fungsi dan tugasnya berbeda dengan Masnan, kalau Masnan merupakan pegawai resmi kerajaan sedangkan Kahar pegawai tidak resmi kerajaan karena dia masih keluarga jauh raja, dalam tugas merekapun bebeda walaupun masih ada sangkut pautnya. Tugas Masnan lebih bersifat melindungi raja dan keluarganya dari musuh-musuhnya sedangkan Kahar lebih bersifat ke arah penyelesaian persoalan yang menyangkut kasus-kasus dunia persilatan tapi mempengaruhi tatanan pemerintahan seperti pembunuhan patih kerajaan oleh orang dunia persilatan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sebenarnya Kahar Nias merupakan tokoh yang paling disegani diantara mereka berempat walaupun usia dia yang paling muda tapi ilmunya yang paling tinggi dengan ilmu Mangawang Awan Basurek Angin (Mengambang Awan Bersurat Angin) merupakan gabungan dari ilmu peringan tubuh tingkat tinggi dan ilmu jari maut yang bergerak seakan-akan seperti sedang menulis di angin, menjadikan dia menduduki peringkat 4 dari tokoh-tokoh berilmu tinggi yang ada di dunia persilatan saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peringkat yang beredar di dunia persilatan sekarang ini dihembuskan oleh Datuak Kaba Bajalan (Datuk Kabar Berjalan). Entah dari mana dia bisa menilai peringkat orang-orang yang ada di dunia persilatan, menurut kabar yang beredar beliau ini merupakan tukang cerita keliling yang suka menceritakan kisah-kisah yang terjadi di dunia persilatan. Dia bisa mendapatkan kabar apa saja yang terjadi di dunia persilatan, bahkan rahasia yang berusaha ditutupi oleh orang pun dia bisa mengetahuinya. Memang dia menjalin hubungan dengan banyak kalangan baik dari golongan putih maupun golongan hitam bahkan dikabarkan dia cukup dekat dengan salah satu penasihat kerajaan yaitu Sutan Mamacik Langik (Sutan Memegang Langit).&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan kebanyakan cerita yang dia sampaikan merupakan kebenaran, sehingga membuat orang ingin selalu mengetahui kisah yang diceritakan olehnya, secara tidak langsung dia membuat orang-orang yang ada dalam kisahnya menjadi orang terkenal. Bahkan ada beberapa orang yang mendekati dia supaya bisa dikisahkan olehnya kepada orang lain, tapi sayang Datuak ini mempunyai keunikan sendiri, dia hanya menceritakan kisah-kisah penting yang menurutnya mempengaruhi kehidupan manusia baik itu dari dunia persilatan maupun dari pemerintahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tidak gampang untuk menemukan orang ini di jalanan, kadang-kadang bisa ditemukan di warung makan, di mana nanti dia akan bercerita kisah-kisahnya sebagai biaya ganti makan di warung itu atau bisa jadi dia ditemukan di tempat-tempat keramaian sedang membuat panggung untuk menceritakan kisah-kisahnya sebagai hiburan dalam bentuk boneka tangan. Dan setiap kehadirannya selalu ditunggu-tunggu, karena banyak kisahnya yang membuat orang mengerti apa yang sedang terjadi di dunia persilatan atau dalam pemerintahan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berdasarkan kisah yang baru-baru ini beredar, Datuak Kaba Bajalan mengisahkan tentang 5 tokoh teratas yang ada di dunia persilatan saat ini yaitu Datuak Inyiak Balang (Datuk Harimau Belang) yang merupakan tokoh nomor satu dan paling misterius, tidak jelas di mana tinggalnya, dia tidak bisa memberikan keterangan lebih banyak mengenai tokoh ini. Tapi kenapa dia berani menempatkan tokoh ini nomor satu karena beliau pernah seorang diri menggempur 5 datuk sesat yang berilmu mumpuni dengan segala kesaktian tingkat tinggi yang mereka miliki, kelima tokoh sesat itu tewas. Padahal mereka bukanlah tokoh sembarangan, merupakan tokoh papan atas bahkan hanya sedikit orang saja yang bisa tandingi 1 saja diantara mereka bisa dihitung dalam lima jari, tapi ini sekaligus 5 orang mengeroyoknya, bisa dibayangkan kehebatan dari Datuak Inyiak Balang ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan tokoh-tokoh yang lain dia bisa memberikan keterangan mengenai asal muasal mereka berikut dengan ilmu dan guru mereka serta kehebatan-kehebatan mereka selama bekecimpung di dunia persilatan. Yang menduduki posisi kedua merupakan tokoh dari golongan hitam yang sangat ditakuti bernama Gadih Bungo Rampai (Gadis Bunga Rampai) yang bernama asli Zubaidah, karena tragedi masa lalunya yang buruk menjadikan dia seorang iblis wanita yang paling dihindari oleh tokoh-tokoh lain di dunia persilatan. Tokoh wanita ini tinggal bersama pengikut-pengikutnya di sebuah teluk bernama Teluk Tapang dan menghuni sebuah rumah gadang yang megah.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tokoh ketiga bernama Eman Papatiah gelarnya Datuak Samuik Baracun (Datuk Semut Beracun) yang berdiam di Lubuak Mato Kuciang (Lembah Mata Kucing). Merupakan tokoh yang sangat ahli dalam ilmu racun, dia tidak termasuk golongan manapun, semua perbuatan dia hanya didasarkan pada kesenangan dia semata. Jika dia lagi senang siapapun orang yang mengganggunya akan bisa lolos dari racunnya, tapi sebaliknya jika dia sedang sedih atau marah siapapun orang yang ada disekitarnya akan dikerjai dia, apalagi kalau orang tersebut memang mencari perkara tidak nanti orang itu bisa hidup tenang seumur hidupnya. Tokoh ini jarang membunuh orang tetapi orang yang kena racunnya jangan harap bisa hidup normal lagi, ada yang setiap hujan akan mengalami siksaan kedinginan yang hebat, ada yang lumpuh separuh badan, ada yang harus mengabdikan diri padanya seumur hidup karena harus minum penawar darinya setiap bulannya, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Peringkat keempat tadinya diduduki seorang dari golongan hitam yaitu Bujang Lapuak (Perjaka Tua) dari Kiambang tapi setelah dia dikalahkan oleh Kahar maka posisi ini tergantikan sedangkan Bujang Lapuak tidak pernah lagi muncul di dunia persilatan akibat luka parah yang dideritanya, tidak ada yang tahu apa penyebab terjadinya pertempuran antara kedua tokoh ini. Banyak kabar angin yang beredar yang menjadi penyebab perkelahian ini karena seorang perempuan, tapi siapa perempuan itu tidak ada yang tahu. Dan Datuak Kaba Bajalanpun belum jelas mengenai hal ini memang dia mendapat beberapa berita tapi selama dia merasa belum terang duduk persoalannya, biasanya dia tidak akan berani membeberkan kisahnya ke masyarakat luas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan yang terakhir adalah Nini Aluih (Perempuan halus) atau nama aslinya Rosnah merupakan penghuni Telaga Dewi di Gunung Singgalang, terkenal karena senjata rahasianya yang berbentuk segitiga (seperti bumerang kecil jaman sekarang), sebesar setengah telapak tangan, senjata ini dinamakannya Sagitigo Babaliak (Segitiga Berbalik), walaupun kecil tapi mematikan sekali dilepaskan tidak ada yang melesat mencari sasarannya dan ilmu kebatinnya (ilmu hipnotis jaman sekarang) belum ada yang bisa menandinginya, untungnya tokoh ini merupakan tokoh golongan putih. Perempuan ini juga terkenal kecantikannya dan merupakan tokoh yang jarang sekali muncul di dunia persilatan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah sedikit menceritakan tokoh-tokoh terkenal yang akan meramaikan kisah seru ini dengan keterlibatan mereka pada petualangan Aswin, anak laki-laki yang ditugaskan sang dewata untuk menyelematkan dunia dari kekejaman para manusia sesat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika Siti sampai di ruangan tersebut dengan wajah berkeringat dan pucat pasi seperti itu membuat keempat laki-laki menghentikan pembicaraan mereka dan menoleh dengan heran kepada Siti. Wali nagari Bumi beranjak berdiri dan menanyakan, ” Dinda Siti, ada apakah ? Kenapa dikau seperti dikejar setan di siang bolong begini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan terengah-engah, Siti menjawab,” Uda, celaka sekali, si Aswin bermain-main dengan bahaya.”, ” Uda masih menyimpan sarung tangan baja pemberian kakek Uda dulu ?, ” Saya hendak pinjam uda, cepat ambil uda! jangan sampai terlambat.” seru Siti dengan ketakutan yang semakin kuat. Wali nagari Bumi masih bingung memandang Siti tapi dia tetap bergegas bergerak menuju kamarnya, karena dia percaya tidak ada hal yang bisa membuat iparnya ini panik seperti ini jika tidak ada hal-hal yang benar-benar menguatirkan. Sempat terlintas di benaknya, apa yang telah diperbuat Aswin sehingga bibinya ketakutan seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tak lama dia keluar dari kamar dan buru-buru ke ruang tengah di mana yang lain sedang menunggu, terdengar Kahar berbicara menanyakan ada apa gerangan sehingga Siti bisa panik seperti itu. Tapi Siti saking panik dan gemetaran seluruh tubuh malah tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, dia hanya bisa menatap Kahar seperti orang terkesima saja. Semakin tidak enak perasaan wali nagari Bumi semakin dia mempercepat langkahnya untuk mendekati mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ini Siti, sarung tangan yang kamu mau.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buru-buru Siti merampas sarung tangan tersebut dan langsung berlari kembali ke ruang sebelah, tapi kali ini dia diikuti oleh keempat laki-laki yang penasaran tersebut. Sampai di depan pintu, Siti berhenti dan berusaha menenangkan dirinya sebelum masuk dan kemudian pelan-pelan mendorong pintu untuk masuk ke dalam ruangan. Dan dia langsung terpaku kaku di tempat dan tidak mampu bergerak hanya bisa memandang terbelalak ke dalam dengan ketakutan yang sangat mencekam dan tidak lama terlihat tubuhnya bergetar dengan hebatnya.. Terlihat di dalam ruangan Aswin sedang bermain-main dengan ular-ular tersebut sambil tertawa-tawa. Dia sedang meniup-niup kedua ular tersebut berganti-gantian sambil mengeluarkan suara siulan yang berirama dan anehnya sepertinya kedua ular tersebur menikmati permainan ini bersama Aswin, ekornya melilit tangan Aswin dan setengah tubuh mereka berdiri meliuk-liukan badannya seperti menari di udara dan terlihat lidah-lidah mereka yang menjulur keluar seakan hendak menjilatin wajah Aswin.. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setiap siulan berirama yang dikeluarkan oleh Aswin langsung kedua ular tersebut bergerak sesuai dengan irama siulan itu. Wajah Aswin yang tampan terlihat semakin menggemaskan dan berseri-seri setiap melihat gerakan kedua ular, bahkan dia menambah tinggi dan cepat nada siulannya dan semakin ular itu bergerak tambah cepat seperti kegelian, yang paling menakjubkan adalah setiap ular itu bergerak seakan ada kemilau cahaya mengikuti gerakan mereka, ini disebabkan oleh pantulan cahaya matahari ke kulit mereka yang memang indah merah dengan bintik-bintik emas yang cemerlang. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan dan langka sekali bisa terjadi dalam hidup bagi yang melihatnya, perpanduan keindahan dan bahaya yang mematikan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Keempat pria yang masuk belakangan segera mengenali ular yang menjadi mainan di tangan Aswin, dan mereka hanya dapat memandang takjub dengan pemandangan luar biasa di depan mereka dan hanya bisa terpaku di tempat tidak tahu harus bagaimana. Sedangkan sang ayah merasa tidak mampu bernafas normal saking ketakutan melihat ular di tangan anaknya, yang sewaktu-waktu bisa membinasakan anak tunggal kesayangannya itu. Hati ayah mana yang tidak merasa sakit melihat anaknya bermain-main dengan bahaya tetapi tidak bisa melakukan apa-apa karena takut bisa mengejutkan ular itu dan menyebabkan kematian anaknya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sempat lima orang ini menghela nafas berat dan keringat keluar dengan derasnya dari tubuh mereka. Kehadiran Siti bersama ayah dan teman-temannya tidak disadari oleh Aswin karena dia sedang menikmati permainnya, dan mereka melihat kejadian aneh ini semakin mereka tercengang dengan mata semakin terbelalak tak percaya. Mungkin karena naluri merasa ada orang di sekitarnya Aswin menolehkan kepalanya ke pintu dan melihat lima orang berdiri di sana diam mematung sedang memandang dia dengan mata terbelalak. Tanpa sadar langsung dia menghentikan siulannya karena heran melihat lima orang dewasa itu yang sedang menatap dia seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ayah, kenapa ayah menatap aku seperti itu.” ditatapnya mata sang ayah dengan heran dan bingung yang terbias di matanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wali nagari Bumi seperti tersadar dari mimpi, dengan suara serak menahan perasaan, ” Aswin, di mana kamu menemukan ular-ular tersebut.” ”Cepat buang ular tersebut keluar.” ”Tidak, tidak jangan kagetkan ular tersebut, ayah akan menyelamatkan kamu.” dengan gugup wali nagari Bumi mencoba berbicara kepada anaknya, tapi semua orang tahu bagaimana paniknya wali nagari Bumi dengan kejadian ini sehingga dia seperti menceracau bicaranya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kenapa ayah, memangnya ada apa dengan temanku ini?”, ” Lihat ayah, mereka sangat lucu dan cantik sekali bergerak-gerak seperti pelangi di bawah sinar matahari.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ingin sekali wali nagari Bumi meneriakan kepada anaknya bahwa ular itu bisa menyebabkan kematian anaknya tapi dia tahu tidak bisa melakukannya karena takut ularnya menjadi terkejut. Dia hanya bisa buka mulut tapi tidak keluar sepatahpun kata dari mulutnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya Kahar yang paling cepat pulih ketenangannya segera berkata kepada Aswin,” Anak baik, di mana kamu dapat ular itu ?” ” Dia tidak mengigit kamu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan heran Aswin menjawab,” Paman, ular ini tidak bakal menggigitku karena dia merupakan temanku yang baik.” ”Benarkan, teman?” kata Aswin sambil memandang ular yang ada di tangannya itu. Dan anehnya ular itu sepertinya mengerti apa yang dikatakan anak itu segera mengangguk-anggukan kepalanya kepada Aswin. ”Lihat paman, mereka tidak mencelakakan aku.” kata Aswin kepada Kahar dengan senyum manisnya sehingga memunculkan dekik di pipi montok itu. Bagi yang melihat keadaan Aswin mau tidak mau orang harus mempercayai omongannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kembali Kahar menanyakan kepada Aswin di mana dia menemukan ular ini? Aswin menceritakan bahwa dia menemukan kedua ular ini sewaktu dia bermain di hutan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sang ayah yang sudah bisa menenangkan dirinya berkata,” Di hutan mana maksud kamu?” ”Mana ada hutan di dekat rumah kita ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Hutan yang di dekat bukit berbaris itu, ayah.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wali nagari Bumi tercengang mendengarnya karena hutan itu jauh dari rumah mereka jika ditempuh dengan kuda yang bagus baru bisa ditempuh dalam waktu setengah hari tapi bagaimana anaknya bisa sampai ke sana karena anaknya tidak bisa menunggang kuda, belum pernah diajarkan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bagaimana kamu bisa sampai ke sana karena hutan itu jauh dari rumah kita ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aku sering main ke sana kok ayah, bersama kakek Inal.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kakek Inal?” ” Siapa dia ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kakek Inal, masak ayah tidak kenal?” dengan heran Aswin bertanya kepada ayahnya. ”Kakek kenal dengan ayah dan kakek sering datang ke sini ajak aku keluar bermain ke hutan itu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semakin bingung wali nagari Bumi dengan jawaban anaknya, ingin dia membentak anaknya karena berpikir anaknya berbicara sembarangan saja, tapi dia tahu walaupun anaknya bandel tidak sekalipun anaknya berbohong padanya, setiap perbuatannya pasti diakui olehnya baik itu perbuatan baik maupun perbuatan yang membuat dia akan dihukum oleh ayahnya tetapi tetap dia akan mengakuinya dengan berani.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kenal di mana kamu dengan kakek Inal?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kakek datang ke sini, waktu itu ayah dan bunda sedang pergi, jadi aku berkenalan dengan kakek dan bicara lama sekali sambil menunggu kalian pulang. Tapi ayah dan bunda tidak pulang-pulang juga jadi kakek akhirnya pergi.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada kami mengenai kakek Inal?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Karena kakek bilang kalau ayah atau bunda tidak tanya tidak usah bilang, tapi kalau ditanya aku harus jawab jujur. Makanya aku tidak ceritakan kepada ayah, karena ayah tidak bertanya kepadaku.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wali nagari Bumi yang mendengarkan jawaban anaknya hanya bisa menghela nafas saking geregetan. Cepat dia tersadar,” Sudah berapa lama kamu bermain dengan kakek Inal ?, dan apakah kakek Inal tahu mengenai ular-ular ini ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sambil merenung-renung dan mengerutkan dahinya, Aswin sedang berpikir sudah berapa lama dia bermain dengan kakek Inal. Lalu katanya dengan perlahan, ”Aku bermain dengan kakek sudah lama sekali sejak aku usia 3 tahun, karena sekarang aku berumur 5 tahun maka berarti sudah 2 tahun aku bermain bersama kakek.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Masnan yang dari tadi diam saja sudah penasaran akan anak ini, dia melihat tajam pada Aswin dan dia menemukan bahwa anak ini bertulang bagus dan tampaknya mempunyai bakat yang sangat baik untuk memperoleh pelajaran tenaga dalam. Dia menyukai dengan yang dia lihat ada dalam diri anak ini, kemudian dia benar-benar memandang wajah anak ini dan dia terkejut ketika memandang mata anak tersebut dia menemukan sepasang mata yang begitu jernih tapi mengandung kekuatan batin yang kuat sekali. Belum pernah seumur hidupnya melihat mata seorang anak seperti ini, biasanya dia menemukan mata seperti ini pada diri pertapa-pertapa tua yang sudah meninggalkan hal-hal keduniawian.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terdengar lanjutan perkataan Aswin,” Kakek tahu. Bahkan kakek bilang aku boleh menjadikan ular ini temanku karena mereka akan patuh dan setia menemani aku sebab aku adalah tuan mereka.” kata Aswin dengan tersenyum kepada kedua ular itu kembali ular itu mengangguk-anggukan kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian Masnan seperti tersadarkan, dari tadi dia sudah merasa ada sebuah kekuatan di dalam ruangan ini ternyata kekuatan itu memancar dari diri anak ini dan menyelimuti keseluruhan diri anak ini baik dari dalam maupun dari luar tubuhnya, sebuah aura kekuatan yang dashyat sekali. Dia dapat merasakannya karena dia pernah belajar ilmu kebatinan dari gurunya, ilmu yang bisa menahan pengaruh jahat yang memancar dari orang lain atau bisa dibilang ilmu hipnotis dan halusinasi jaman sekarang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sekarang banyak tokoh yang bisa ilmu halusinasi ini dan salah satu tokoh yang paling ditakuti akan ilmu ini adalah Nini Aluih karena kehebatannya mampu membuat orang berhalusinasi berkelahi dengan naga padahal dia berkelahi dengan temannya atau dia bisa mempengaruhi orang tersebut untuk membunuh dirinya sendiri. Sehebat apapun ilmu orang tersebut jika dia tidak mempunyai batin yang kuat maka dia akan terjerumus akibat ilmu ini. Makanya dunia persilatan memberikan gelar Nini Aluih kepadanya karena kemampuan dia yang seperti hantu mempengaruhi orang lain untuk berbuat sesuai dengan kehendaknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dulu ketika gurunya mengatakan bahwa ada orang-orang tertentu yang ditakdirkan mempunyai kekuatan diri yang dasyat tidak seperti orang biasa lainnya, dia tidak mempercayainya karena dia merasa bahwa kekuatan itu dibangun oleh orang tersebut sendiri seiring dengan kepercayaan diri yang berkembang, bukan merupakan pemberian dari alam. Tapi kini dia mau tidak mau harus mempercayai perkataan gurunya itu akan kebesaran Tuhan menciptakan umatNya, seiring dengan itu dia kembali teringat percakapan dia dengan gurunya mengenai aura kekuatan ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kekuatan ini sangat hebat sekali, tidak bisa disalah gunakan, apabila terjadi bisa malapetaka yang akan menimpa manusia. Karena itu orang yang memiliki kekuatan ini harus mempunyai kepribadian yang baik dan bagus akhlaknya. Ketika dia menanyakan kepada gurunya mengenai bagaimana bentuk kekuatan tersebut, gurunya hanya berkata tidak bisa menggambarkan kekuatan itu dengan jelas, tapi dapat merasakannya saja dengan kekuatan batin. Jika engkau sudah berhadapan dengan orang yang memiliki kekuatan itu maka engkau akan tahu. Gurunya pernah berkata bahwa dia pernah menemukan orang yang mempunyai kekuatan seperti itu, dan untungnya orang tersebut tidak melakukan hal-hal yang bisa merugikan atau menjadi penyebab malapetaka bagi orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan kini dia tahu dia sudah menemukan orang yang seperti dikatakan oleh gurunya, mempunyai aura kekuatan yang sangat dasyat. Maka sekarang dia tidak heran kenapa anak itu bisa bermain dengan ular ganas tersebut tanpa kuatir bakal dicelakai, karena sang ular juga mungkin merasakan kekuatan dasyat yang ada dalam anak ini dan merasa takluk.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dalam hati Masnan sudah bertekat untuk menjadikan bocah ini muridnya, agar dia bisa mendidiknya dengan baik. Tapi ternyata bukan Masnan saja yang mempunyai pemikiran seperti itu, bahkan Basir dan Kahar mempunyai keinginan yang sama. Apalagi melihat keberanian dan kecerdasan yang memancar dari wajah lucu dan menggemaskan itu, sungguh sangat menarik sekali. Diam-diam dalam hati mereka sudah bermaksud membicarakan hal ini kepada sang ayah sesegara mungkin. Yang terpenting sekarang bagaimana mengatasi keadaan yang sedang berlangsung dan mereka bisa berbicara dengan ayah anak ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah mengetahui keadaan, Masnan dengan tenang berkata kepada Aswin, ” Anak yang baik, kenapa sekarang kamu menunjukan teman-temanmu itu kepada kami.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Aku ingin menunjukan keberanianku tidak kalah dengan uda Pendi, uda Nasrul, uda Dasta, ayah selalu memuji-muji keberanian mereka bisa menangkap ular, padahal ular itu jelek sekali tampangnya. Akupun mau ayah memuji aku juga, tapi aku tidak mau bawa ular jelek seperti itu, maka aku bawa temanku yang indah ini.” jawab Aswin sambil tersenyum lucu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Siapa mereka, uda ?” tanya Basri kepada Bumi&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Wali nagari Bumi yang menjawab pertanyaan itu, ” Mereka itu murid-muridku, Nasrul adalah anak teman kita Diram.”.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Maksudmu Diram anak Patih Badik Patui (Petir), yang meninggal karena peperangan tempo hari ?” tanya Basri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Benar, dia bersama ibunya tinggal tidak jauh dari sini, sekitar 6 rumah di sebelah kanan rumahku. Anaknya senang bermain dengan Aswin, nanti aku ceritakan pada kalian mengenai mereka, saat ini bagaimana caranya agar ular itu tidak membahayakan siapapun.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aswin, mereka itu jauh lebih tua dari kamu, Dasta saja yang paling muda sudah berusia 15 tahun. Dan mereka bawa pulang adalah ular sawah, tidak seperti ular-ularmu itu.”kata sang ayah dengan perasaan bercampur aduk antara marah, kagum, senang, takut, kuatir, geli. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Memangnya kenapa dengan ularku ini ayah ? Mereka kan tidak mengganggu siapapun.” protes Aswin kepada ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Belum sempat sang ayah menjawab, tiba-tiba Siti teringat cerita kakek gurunya, ular-ular ini sangat suka bersembunyi kecuali kalau memang ada hal yang menarik baru mereka akan keluar dari sarangnya. Dan biasanya ular ini tidak akan jauh-jauh pergi dari sarangnya kecuali bila saat mereka keluar mencari pasangan. Berarti Aswin tahu sarang mereka sehingga dia bisa memulangkan mereka kembali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aswin, lihat ular-ular ini sudah capek main sama kamu, kenapa sekarang tidak kamu kembalikan dia ke sarangnya ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aswin menggerakan kedua tangan ke arah wajahnya untuk melihat ular-ular itu dengan lebih jelas, dia melihat ular-ularnya menjulurkan lidahnya ke arah Aswin seperti ingin menjilati wajahnya, kembali kelima orang dewasa yang melihat itu menahan nafas, takut tiba-tiba ular itu mematuk wajah Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bunda benar, temanku sudah capek, baiklah aku akan memasukan mereka kembali ke rumah mereka.” kata Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Segera Aswin memindahkan ular yang ada di tangan kanannya ke tangan kiri, sehingga kedua ular itu ada di tangan kiri mungil milik Aswin, tangan kanannya mengambil tas yang ada di meja dan membukanya, mengeluarkan sebuah tabung dari bambu yang berlingkaran kira-kira sebesar lingkaran pergelangan kaki pria dewasa dan mempunyai panjang kira-kira 2 jengkal tangan pria dewasa. Dia membuka tutup tabung itu dan menyodorkan ke arah kedua ular itu, anehnya ular itu langsung bergerak masuk satu persatu, setelah itu Aswin menutup tabung itu dan dengan lembut meletakkan tabung itu di atas meja.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah itu dia berbalik ke arah kelima orang di belakangnya dengan wajah tersenyum cerah dan mata yang bersinar-sinar terang. Tapi segera senyumnya hilang diganti dengan kebingungan karena melihat bundanya tiba-tiba meledak tangisannya dan tubuhnya tidak berhenti gemetaran limbung mau jatuh, untung dengan sigap tubuhnya ditangkap Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kahar serba salah ingin melepaskan tubuh Siti takut dia jatuh, tidak dilepaskan dia yang merasa panas dingin dan jantung berdetak kencang tidak karuan, semakin lama Siti semakin keras tangisnya dan tidak bisa berhenti, tubuhnya bergoyang terus, dan Kahar akhirnya tidak tahan untuk tidak memeluk Siti karena iba melihat keadaannya, Siti meletakan kepalanya bersandar di bahu Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan Aswin yang terkejut melihat keadaan Bundanya, berlari menubruk kaki Siti sambil dengan mata berlinangan air mata, dia ikut-ikutan ingin menangis melihat Bundanya seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bunda….., bunda….” kata Aswin sambil menarik-narik celana panjang ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bunda kenapa menangis, siapa yang jahat pada bunda, bilang pada Aswin, bunda!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bunda, …. Bunda…, jangan menangis… Bunda, kalau Aswin nakal membuat Bunda sedih katakan Bunda, Aswin berjanji tidak nakal lagi dan selalu mendengar perkataan Bunda.” terdengar suara Aswin mulai serak ikutan sedih melihat bundanya menangis.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mendengar suara Aswin yang hampir menangis itu, Siti berusaha sekuat tenaga menahan isak tangis itu, setelah agak mereda baru dia sadar ternyata dia di pelukan Kahar, dan langsung dia cepat merenggut dirinya dari dekapan Kahar, terlihat pipinya semburat memerah karena menahan malu. Untuk mengalihkan rasa malunya buru-buru dia jongkok dan melihat mata Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aswin, bunda tidak apa-apa. Aswin, tidak suka melihat bunda menangis ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya Bunda, Aswin tidak suka melihat Bunda menangis, dada Aswin terasa sakit, Bunda. Kenapa Bunda menangis apakah karena Aswin nakal? Aswin berjanji Bunda, untuk mendengarkan kata Bunda dan tidak buat Bunda menangis lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Sayang, benarkah janji kamu itu?’&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya Bunda, Aswin berjanji mulai sekarang menurut kata Bunda.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kalau begitu kita kaitkan jari, dan Aswin tidak boleh langgar janji.” kata Siti sambil mengulurkan jari kelingking kanannya ke arah Aswin, segera Aswin mengeluarkan juga jari kelingkingnya untuk dikaitkan pada bundanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Sekarang bisakah bunda mengatakan apa kenakalan Aswin, sehingga Bunda menangis?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aswin, tadi bunda ketakutan lihat kamu bermain dengan ular itu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Memangnya kenapa bunda dengan teman-temanku itu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Sayang, kamu tahu ular itu sangat berbahaya dan bisa membunuh manusia ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aku tahu, kakek Inal sudah mengatakan padaku mengenai ini, tapi kakek Inal juga sudah mengajari aku untuk menjadi tuan dari ular itu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Begitukah ?” sahut Siti terheran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya, kata kakek biarpun mereka temanku tapi aku harus tetap waspada dan tidak boleh menyakiti mereka. Harus menyayangi dan merawat mereka dengan baik.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mereka menjadi tertarik untuk mengetahui bagaimana kakek Inal itu mengajari Aswin untuk menguasai sepasang ular tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena merasa penasaran, Basri langsung bertanya kepada Aswin,”Bagaimana caranya untuk menguasai ular tersebut, Nak ? Apakah kakek itu yang mengajari kamu ?.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Ayah, siapakah para paman ini ? “ kata Aswin dengan senyum di bibir.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aswin, mari ayah perkenalkan kamu dengan teman-teman ayah, yang berdiri di samping kanan kamu dengan ikat kepala biru namanya paman Masnan, di sebelah kiri ayah ini Paman Basri dan di samping Bunda kamu namanya Paman Kahar, cepat kamu beri hormat kepada teman-teman ayah ini.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Segera Aswin merangkapkan kedua tangannya dan membungkukkan badannya kepada teman ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Salam kenal dan hormat kepada para paman, namaku Aswin, anak wali nagari Batang Kapeh, Sutan Manenggang Bumi, usiaku 5 tahun.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Salam kenal juga untuk kamu, anak pemberani.” Kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“O ya, teman-teman ini adik iparku namanya Siti Nurindah, dia tinggal di sini bersama kami, Siti, ini teman-teman uda.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siti lalu memberikan salam kepada mereka dengan merangkap kedua tangannya di dada dan membungkukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, kemudian yang lain membalasnya dengan sikap yang sama.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Uda, adik iparmu ini, bukannya si Dewi Tangan Dingin, yang ahli obat-obatan itu ?” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Hmmm… benar sekali, mata kamu jeli sekali Basri.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Siapa yang tidak kenal dengan Dewi Tangan Dingin, banyak sahabat-sahabat kami pernah merasakan tangan dinginnya mengobati mereka, belum lagi bicara mengenai kecantikannya, di dunia ini ada 5 perempuan cantik, iparmu salah satunya.” sambung Masnan sambil tersenyum.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semakin merah merona wajah Siti mendengar pujian itu, sambil menundukan kepala karena malu dia menjawab, ”Ah…, uda Masnan bisa saja, mana mungkin saya yang jelek ini termasuk 5 perempuan cantik dunia persilatan! Bisa jadi tertawaan orang banyak nanti.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Melihat Siti yang semakin tersipu dan menunduk malu, Bumi merasa kasihan maka dia buru-buru mengalihkan pembicaraan kepada anaknya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Nah Aswin, kamu jawab pertanyaan Paman Basri itu. Ayah juga mau tahu bagaimana kamu bisa menguasai ular yang berbahaya itu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Dengan siulan “&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Dengan siulan ???, maksud kamu ??”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Iya, dengan siulan paman Basri.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Masak, hanya dengan cara begitu saja?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Benar paman dengan cara itu, kakek Inal mengajari aku.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kamu bisa praktekkan untuk paman?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Tentu saja. Sekarang Aswin akan menyiulkannya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mula-mula terdengar siulan yang pelan mendayu-dayu membelai telinga yang mendengarkan, lalu tambah lama tambah tinggi bunyi siulan tersebut sehingga kemudian yang terdengar hanya seperti hembusan angin tajam dari mulut bocah itu tapi tidak ada bunyi yang keluar. Tabung yang ada di meja mulai bergetar mendengar siulan Aswin semakin lama semakin keras getarannya, dan mendadak terdengar suara buk…buk…buk seperti ada sesuatu yang membentur dinding tabung seiring dengan siulan yang tidak terdengar bunyinya oleh telinga manusia, tapi bagi ular tersebut merupakan siksaan yang menyakitkan di kepalanya sehingga tidak tahan sakit mereka membenturkan kepalanya ke dinding tabung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu Aswin menghentikan siulannya, dan segera membuka tabungnya untuk mengeluarkan kedua ular tersebut. Terlihat kedua ular itu lemas seperti tidak bertenaga, kepalanya terkulai jatuh di tangan Aswin, segera Aswin meniup kedua ular itu bergantian pelan-pelan dan lembut sekali. Tidak lama kedua ular itu bisa berdiri dengan tegak kembali dan memandang Aswin dengan mengeluarkan lidahnya seakan-akan menyampaikan salam. Aswin tetap meniup kedua ular itu sampai dia melihat kedua ular itu sudah bisa meliuk-liukan badannya kembali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Maaf , teman-teman, bukan aku hendak menyakiti kalian tapi ayah dan para paman ingin mengetahui apa sebabnya kalian tidak bakal menyakiti aku.” kata Aswin lembut kepada kedua ular itu. Dan anehnya kedua ular itu mengangguk-anggukan kepalanya kepada Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah itu dengan hati-hati Aswin memasukan kedua ular itu ke dalam tabungnya. Kemudian dia berpaling menatap kembali kepada ayah, bunda dan teman ayahnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Begitu cara kakek Inal mengajari aku untuk menaklukan kedua ular itu. Siulan tadi membuat kedua ular itu kesakitan hebat di kepalanya dan lama-lama dia lemas karena tidak kuat menahan sakit, karena itu kakek bilang kalau kedua ularku ini nakal harus dibunyikan siulan seperti tadi jadi mereka tidak akan bisa berbuat macam-macam lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Hmmm…mmmm…, apa kamu bisa mengajari paman siulan tadi?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Boleh saja, kata kakek Inal, jika memang ada orang yang mempunyai kemampuan untuk bersiul seperti aku, tidak masalah aku mengajarinya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Benarkah, begitu kata kakek Inal?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya, paman Masnan.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Apa kakek Inal tidak mengatakan yang lain lagi mengenai kamu mengajari siulan itu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kata kakek Inal, siulan itu hanya bisa dikeluarkan oleh hawa murni yang bersih dan kuat dari dalam diri orang tersebut, jika tidak mempunyai jangan coba-coba melakukannya malahan nanti bisa binasa karena kedua ular tersebut menjadi marah dan akan mengeluarkan racunnya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Coba kamu ajarkan kepada paman, siapa tahu paman juga bisa seperti kamu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Baiklah paman Masnan, tapi izinkan aku meletakkan tabung ini di tempat tidurku.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Silahkan.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aswin berjalan menuju tempat tidurnya dan mengambil sebuah kotak yang berlubang di sekitar badan kotak tersebut lalu menaruh tabung ular ke dalam kotak dan menutupnya. Lalu menutupi kotak tersebut dengan sebuah kain yang berwarna hitam dan meletakkannya di samping bantal kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu segera dia berjalan menuju meja dan kursi yang ada di tengah ruang tidurnya, sementara dia mengurus sepasang ularnya itu, ayahnya mempersilahkan tamu-tamunya untuk duduk di kursi sekeliling meja yang ada di ruangan itu sambil menunggu Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aswin berjalan mendekati Bundanya, yang wajahnya masih terlihat sebentar pucat sebentar merah setiap matanya berbenturan dengan mata Kahar yang sedang sembunyi-sembunyi menatap dia dengan penuh kerinduan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siti mengulurkan tangannya dan mengangkat Aswin untuk duduk di pangkuannya, biasanya diperlakukan seperti ini Aswin tidak menyukainya dan memprotes sang Bunda yang memperlakukannya seperti adik bayi, padahal dia sendiri masih di kategorikan balita. Tapi kali ini dia tidak protes bahkan dengan senangnya duduk di pangkuan sang bunda setelah sebelumnya mengusap wajah sang bunda dan mencium pipinya. Sitipun jadi senang dengan perlakuan Aswin dan mencium pipi montok Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bunda, Aswin janji tidak akan buat Bunda sedih dan menangis lagi serta akan menurut apa yang dikatakan Bunda.” terdengar Aswin berusaha menyakinkan sang bunda dengan janji dia sebelumnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya, bunda tahu, anak Bunda mana mungkin ingkar janji, yang ingkar janji adalah tikus.” kata sang Bunda dengan tersenyum manis kepada Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terdengar helaan nafas seseorang, dan kemudian disusul terdengar tertawa ditahan dari sang ayah. Mereka segera menoleh memandang Wali Nagari Bumi dan teman-temannya. Terlihat sang ayah sedang menahan tawa memandang Kahar diikuti oleh kedua temannya yang tersenyum simpul melihat Kahar yang memerah mukanya salah tingkah. Dan Siti yang melihat itupun ikut-ikutan memerah pipinya karena malu, sengaja dia menyembunyikan mukannya di belakang kepala Aswin. Rupanya Kahar terpesona memandang senyum Siti sehingga tanpa terasa menghela nafas untuk melonggarkan dadanya yang terasa sesak&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Buru-buru Kahar bertanya kepada Aswin untuk menghilangkan malunya,” Aswin, kamu mau mengajarkan kami ilmu siulan tadi kan ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Baiklah paman, kata kakek Inal jika tidak bisa jangan memaksakan diri karena bisa berakibat terganggunya hawa murni yang ada. Bila paman merasa darah bergolak kencang dan jantung terasa mau meledak segera hentikan siulannya, kalau tidak paman bisa terluka dalam. ”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Hah, bisa sampai seperti itu?” kata Masnan tercengang.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dia merasa siulan ini merupakan sebuah ilmu tenaga dalam untuk mengatur pernafasan seseorang sehingga bisa mengeluarkan siulan seperti yang dilakukan Aswin dan yang bisa digunakan untuk menekan lawan yang mempunyai ilmu seperti Ilmu Lawa Tabang (kelelawar Terbang) dan ilmu Ikan Lacuik (Ikan Pecut) yang mengandalkan kekuatan suara yang menusuk gendang telinga untuk membuyarkan kosentrasi dan menekan musuh.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya, paman, bagaimana ? apa kita mulai sekarang ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terlihat kelima orang dewasa itu menganggukkan kepalanya tanda setuju untuk mulai pengajaran ilmu tersebut. Jika ada orang yang lewat melihat keadaan ini pasti dia bisa terpingkal-pingkal tertawa melihat lima orang dewasa yang mempunyai ilmu yang hebat tapi menerima ajaran bagaimana bersiul dari seorang bocah berusia lima tahun. Tapi bagi yang mengerti pasti akan mau mengikuti pelajaran ini karena merupakan sebuah ilmu yang sangat berguna buat mereka.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Baiklah paman, kita mulai, pertama paman pejamkan mata rasakan hawa yang ada di dalam tubuh paman, setelah itu pelan-pelan hawa itu ditarik ke arah paru-paru, buatlah paru-paru paman terasa mengembang karena hawa itu mengisi paru-paru paman. Terus kembalikan lagi hawa itu ke perut, lakukan itu sebanyak 3 kali setelah itu kumpulkan hawa murni tersebut kembali ke paru-paru biarkan sesaat lalu mulailah menghembuskan udara keluar dari mulut, pelan-pelan lalu naik terus nada siulannya sampai hembusan udara yang terjadi karena hawa murni yang keluar membentuk siulan.” sambil menjelaskan Aswin mempraktekkan kata-katanya. Mereka melakukan sesuai petunjuk Aswin, mula-mula semuanya lancar sampai pada ketiga kali menarik nafas ke paru-paru, tiba-tiba mulai Siti merasakan dadanya terasa sesak dan pemandangan matanya terasa gelap, cepat-cepat dia mengembalikan hawa murni ke perut dan pelan-pelan membuyarkan hawa murni itu. Dia tahu dia tidak bisa meneruskannya karena dia merasa paru-parunya seakan-akan membengkak kesakitan seperti hendak meledak makanya buru-buru dia mengikuti saran Aswin untuk tidak memaksakan diri. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Lalu Basri mulai merasakan hal yang sama ketika hawa murni itu didiamkan sesaat pada paru-paru sebelum dihembuskan keluar dalam bentuk siulan. Segera dia merasakan pergolakan darahnya seakan-akan bergerak dengan derasnya mengaliri seluruh tubuhnya dan itu terasa menghantam jantungnya terus menerus sehingga sakitnya bukan kepalang dan segera dia menghentikan penyaluran hawa murni ke paru-parunya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kahar, Masnan dan Bumi masih bisa bertahan, kemudian giliran Bumi yang merasa matanya berkunang-kunang dan gelombang mual yang terus menerus membuat dadanya berdenyut sakit sekali. Seperti kedua temannya, diapun menarik kembali hawa murninya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah beberapa saat mulai Kahar dan Masnan memajukan mulutnya untuk bersiul mengikuti Aswin, mula-mula terasa biasa saja karena pelan-pelan mereka melakukannya, lalu ketika nadanya semakin cepat dan tinggi, segera terlihat di wajah Kahar dan Masnan keringat deras turun dan muka mereka menjadi merah seolah-olah mereka berada di ruangan yang sangat panas sekali. Kedua tubuh mereka mulai bergetar, Kahar yang tenaga dalamnya lebih baik setingkat dari Masnan kelihatan getarannya tidak sehebat getaran tubuh Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Akhirnya Masnan tidak sanggup melanjutkannya dan segera melakukan penarikan kembali tenaga dalamnya dan mulai mengatur kembali hawa murninya supaya tidak buyar dan semua organ tubuhnya yang terasa sakit, sedikit sedikit dan pelan-pelan dialiri hawa murni itu untuk mengurangi rasa sakit yang dialaminya tadi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kaharpun mengalami hal yang sama tapi dia bisa mencapai nada tertinggi yang masih terdengar bunyi siulannya tapi begitu memasuki area siulan itu tidak bisa didengar oleh manusia, dia mulai kepayahan dan cepat dia tarik kembali hawa murninya, kalau tidak jantung dan paru-parunya akan meledak karena pergolakan di dalam tubuhnya sangat kuat sekali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sedangkan Aswin tetap dengan santainya bersiul seperti tidak mengalami apapun. Lalu dia berhenti bersiul dan memandang heran kepada kelima orang tersebut kenapa tiba-tiba bisa berhenti bersiul.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tanyanya,” Ayah, Bunda dan Paman, kenapa berhenti bersiulnya ? Katanya mau mempelajari ilmu siulku ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aswin, kami tidak bisa melakukan siulan seperti kamu, Benar yang dikatakan kakek Inal, kami merasa dada sesak dan jantung berdebar dengan kencangnya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Masak ayah merasakan seperti itu, kenapa aku tidak ?” kata Aswin bingung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aswin, kakek Inal ada bilang apa lagi tidak ke kamu mengenai ilmu siulan ini ?” tanya Masnan penasaran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aswin berusaha mengingat-ingat apa yang telah dikatakan kakek Inal mengenai ilmu siulan ini. Tiba-tiba dia teringat,” Oh yah paman, aku lupa mengatakan, kakek Inal bilang ilmu ini tidak akan bisa dipelajari oleh orang yang sudah bisa menggunakan hawa murni tubuhnya untuk menerapkan ilmu silatnya. Kalau dia tetap melakukannya maka semua tenaga dalam yang dia miliki akan musnah akibat hawa murninya yang membuyar dari dalam tubuh.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kaget bukan kepalang semua yang mendengarnya, mereka juga heran kenapa hanya sebuah ilmu siulan tapi bisa mempengaruhi seperti itu. Saking penasaran Masnan kembali bertanya,” Apa ada lagi tidak yang dikatakan oleh kakek Inal itu kepada kamu, Aswin ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Aswin berusaha mengingat apa ada lagi yang dikatakan kakek Inal kepadanya mengenai siulan ini, dia menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tidak ada lagi perkataan kakek Inal mengenai masalah ini.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Paman, seingat aku tidak ada lagi yang dikatakan kakek Inal.” kata Aswin dengan kening berkerut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Hmmm…mmm… aku rasa siulan itu merupakan sebuah ilmu tenaga dalam yang punya ciri khas tersendiri dan tidak bisa bercampur dengan tenaga dalam lain aliran.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aku juga pikir begitu, Masnan, masak cuma bersiul saja harus menggerakkan hawa murni segala.” kata wali Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Siapakah gerangan kakek Inal itu, menurut Uda Basri ?” kata Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aku juga belum bisa menerka siapa gerangan dia, jika melihat cara dia mengajari Aswin sepertinya dia mengetahui bahwa siapapun yang melihat bagaimana Aswin menangani ular itu pasti ingin mempelajarinya juga, karena itu dia bisa mengatakan kepada Aswin untuk tidak masalah mengajarkan siulan itu bahkan bisa menebak apa yang terjadi pada kita.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Uda Bumi, apa uda mengenal kakek Inal ini ? Karena kata Aswin, dia sering datang ke rumah uda, tapi sepertinya uda tidak pernah tahu akan hal ini ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ini juga mengherankan bagiku, Masnan, selama ini aku tidak pernah merasa ada orang yang datang ke rumahku tapi aku tidak mengenalnya !”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aswin, kapan biasanya kakek Inal datang menjengukmu ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Tidak tentu ayah, kadang pagi sekali, kadang siang, kadang sore, pernah juga malam.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Waktu beliau datang, apa ayah atau bunda ada di rumah, sayang.” tanya Siti penasaran.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ada Bunda, seperti kemarin siang waktu kakek datang, kan aku pamitan sama bunda mau pergi main di luar. Apa Bunda tidak melihat beliau yang berdiri di belakangku ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kemarin siang ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya, apa Bunda lupa ?, waktu itu Bunda lagi memasak obat untuk ibunya Tias, kata Bunda, aku boleh main tapi tidak boleh pulang sampai malam.” &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terlihat Siti mengerutkan keningnya untuk mengingat kembali kejadian kemarin, sambil memandang Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Mungkin karena Bunda sibuk siapkan obat, Bunda tidak perhatikan beliau ada di belakang kamu.” kata Siti sambil tetap berkerut berusaha mengingat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kalau ayah, kapan kamu pamit sama ayah mau pergi dengan beliau ?, ayah tidak pernah melihat kamu pamitan sama ayah ada kakek Inal di sekitar kamu.” kata wali Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ayah ini bagaimana pula, tadi pagi kan aku pamit sama ayah mau pergi bermain dengan kakek. Kata ayah, boleh tapi jangan main jauh-jauh.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Hah, masak ? Kapan itu, ayah tidak merasa .”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”He he he, ayah sudah pikun, aku pamit kan waktu ayah sedang bersihkan kadang si Jantan, ayah menoleh kepadaku sambil tersenyum.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Maksud kamu, kakek Inal itu kakek Nurdin ?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bukan ayah, kakek Nurdin yah kakek Nurdin, kakek Inal lain lagi orangnya.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ayah pikir kamu mau bermain dengan kakek Nurdin, memang ayah melihat kamu pergi dengan seorang tua tapi ayah tidak tahu dia bukan kakek Nurdin.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Memangnya uda Bumi tidak lihat jelas wajah orang itu?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terlihat wali Bumi memegang dagunya sambil berpikir,”setelah aku pikir-pikir sepertinya memang aku tidak melihat wajah orang tua itu karena dia berdiri pas di posisi sinar matahari jadi aku hanya melihat bayangannya saja.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Apa ayah juga tidak melihat kakek sedang memegang ular, temanku itu ?, kan si Jantan jadi kaget begitu merasakan kehadiran ular itu, yah.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya juga, mungkin karena aku sibuk menenangkan si Jantan jadi aku lebih tidak perhatian lagi pada orang itu. Aku sempat bingung juga kenapa tiba-tiba si jantan seperti ketakutan begitu, berusaha melepaskan diri dengan mematuk tanganku.” kata wali bumi kepada Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kesimpulannya, kalian berdua tidak pernah melihat dia, benar kan?” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Mengapa aku merasa sepertinya dia tidak ingin kita mengenali wajahnya?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Benar juga kamu, Kahar, sepertinya dia tidak mau kita mengenalinya tapi dia tetap bertanggung jawab menyuruh Aswin minta izin sebelum pergi dengannya, bahkan dia mendampinginya tapi kenapa kalian bisa tidak memperhatikannya?”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Aku juga tidak tahu, kenapa bisa begitu?” kata wali Bumi bingung.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Bunda, aku lapar belum makan malam.” rengek Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Kamu lapar sayang, tadi sore bukannya sudah makan 2 pisang goreng, masak masih lapar, jangan-jangan perut kamu bukan cacing isinya tapi naga….” kata Siti menggoda Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Ah Bunda, masak perut Aswin isinya naga, nanti perut Aswin bisa gendut kayak mamak Gapuak…iiiihhhh… serem ?” kata Aswin manja sambil menyenderkan kepalanya ke dada Siti.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Yang lain di luar wali Bumi mendengarkan canda bocah itu tersenyum-senyum, dalam hati mereka tahu watak bocah ini pasti anak periang dan galetek (jahil) sekali.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Uda Bumi, lebih baik sekarang kita sudahi dulu pembicaraan ini, nanti setelah makan kita ngobrol lagi. Aswin, hayo bantu Bunda, biar ayah dan paman bisa makan bersama kita.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Segera Aswin turun dari pangkuan Siti dan menarik tangannya untuk pergi ke belakang membantu menyiapkan hidangan makan malam.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah mereka pergi, terlihat Basri masih termenung berpikir mengenai masalah ini, katanya,”Uda Bumi, kita lupa menanyakan kepada Aswin ciri-ciri kakek Inal itu, nanti begitu ada waktu kita jangan lupa tanyakan kepada dia, aku masih penasaran setelah berpikir dari tadi kenapa aku tidak bisa menebak siapakah gerangan dia.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Basri berbicara begini karena dia merasa mempunyai pergaulan yang luas maklum pedagang jadi tidak terbatas teman-temannya baik di dunia persilatan maupun di pemerintahan dan cukup mengenal banyak tokoh-tokoh berilmu tinggi tapi kenapa dia tidak bisa memikirkan siapa kakek Inal tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Iya, aku juga penasaran sekali, apalagi dia bisa punya ilmu menaklukan ula sirah ameh itu, tidak sembarangan orang yang bisa melakukan hal itu. Belum pernah aku mendengar ada orang yang bisa menaklukan ular itu dalam keadaan hidup, bahkan bisa mengajari Aswin menaklukan ula sirah ameh itu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Uda Bumi, apa uda mengenal semua penduduk yang tinggal di nagari ini ?” kata Kahar.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Cukup banyak aku mengenal penduduk nagari ini, boleh dibilang hampir seluruhnya aku kenal, tapi kenapa aku tidak bisa memikirkan siapa sebenarnya kakek Inal ini, karena setahu aku penduduk nagari ini tidak ada yang bernama Inal.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Sudahlah sampai botak kita pikirkan siapa dia, pasti tidak akan bisa kita menebaknya karena dia memang tidak ingin kita mengenalinya, pada waktunya pasti dia memperkenalkan diri pada kita.” Kata Masnan.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;“Kenapa kamu berpikir begitu, Uda Masnan.” kata Basri.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Entahlah firasatku mengatakan begitu, karena kalau dia tidak mau mengenalkan diri, pasti dia akan menyuruh Aswin merahasiakan pertemuan mereka, tapi pada kenyataannya kan tidak, jadi aku menarik kesimpulan dia belum mau memperkenalkan dirinya saat ini, tapi suatu saat nanti pasti dia akan bertemu dengan uda Bumi.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Benar juga katamu, aku merasa begitu juga.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Terlihat Aswin berlari-lari memasuki kamar kembali, ”Ayah, paman, makan malamnya sudah tersedia, hayo kita makan.” kata Aswin sambil menarik tangan ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;”Hayo, teman-teman, kita makan dulu nanti kita lanjuti pembicaraan ini, siapa tahu dengan perut kenyang kita bisa berpikir siapa gerangan kakek Inal itu.”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Segera mereka beranjak ke ruang makan untuk menyantap makan malam, Aswin dengan lincahnya berjalan sambil meloncar-loncat di samping ayahnya. Sedangkan Masnan terlihat memandang bocah ini dengan mulut tersenyum, Basri berjalan masih dengan kening berkerut memikirkan siapa gerangan kakek Inal itu, dan Kahar berjalan dengan kepala agak ditundukan karena takut orang akan melihat jantung didadanya sedang berdebar-debar keras sekali. Semuanya berjalan ke ruang makan dengan otak yang penuh dengan teka teki kejadian tadi dan pemikiran masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Siapakah gerangan kakek Inal yang disebut-sebut Aswin ? Akan menjadi murid siapakah Aswin nantinya ? Ada apa antara Kahar dan Siti ? Nantikan kelanjutan cerita ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2728266448404398223-2697564705032620324?l=julaicersil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julaicersil.blogspot.com/feeds/2697564705032620324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/2010/03/bab-ii-ula-sirah-ameh.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default/2697564705032620324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default/2697564705032620324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/2010/03/bab-ii-ula-sirah-ameh.html' title='Bab II : Ula Sirah Ameh'/><author><name>sieklie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17612761808487395655</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2728266448404398223.post-456347832915748904</id><published>2010-03-11T20:47:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T20:47:39.801-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerita silat'/><title type='text'>Bagian Pertama : Masa Lalu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: blue; font-size: x-large;"&gt;&lt;strong&gt;Prakata&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita ini menceritakan tentang petualangan lima orang pemuda yang mewarisi sebuah ilmu silat yang sangat terkenal di kalangan masyarakat Sumatera sampai saat ini yaitu ilmu harimau jadi-jadian, ilmu ini memang memiliki unsur mistiknya. Di jaman pemerintahan raja Adityawarman pada abad 14, beberapa tokoh terkemuka di pemerintahannya mewarisi ilmu ini, di dalam sejarah hal ini memang tidak diungkapkan karena ilmu ini sangat dirahasiakan oleh para pewarisnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang mewarisi ilmu ini memiliki ciri khas tersendiri, jika ilmu ini di dapat dari pengajaran seseorang maka di dalam kegelapan kadang-kadang yang mewarisinya memiliki mata yang mengeluarkan sinar kehijau-hijauan seperti mata kucing, dan jika ilmu ini didapat dari keturunan maka pewaris tersebut akan bisa dilihat cirinya dengan jelas yaitu tidak mempunyai belahan di bawah hidung/bibir atas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konon katanya sampai sekarang ilmu ini dan pewarisnya masih ada dan hidup di dalam masyarakat kita, bahkan ada yang bilang mereka hidup dalam sebuah komunitas di hutan yang terletak di kaki gunung Kerinci, tapi benar tidaknya belum ada yang terungkap. Semuanya tetap merupakan misteri dalam kehidupan masyarakat Sumatera dan binatang Harimau tetap di hormati sebagai lambang ilmu silat sakti dari Sumatera.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="background-color: #cccccc; color: lime; font-size: large;"&gt;&lt;strong&gt;Jilid I : Nagari Batang Kapeh&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah ini bermula di daerah Ranah Minang, yang sekarang dinamakan Sumatera Barat, di masa pemerintahan Rajo Adityawarman yang pusat kerajaannya berada di Pagaruyuang. Lebih tepatnya di daerah Painan, Pesisir Selatan, nagari Batang Kapeh ( desa Batang Kapas). Nagari Batang Kapeh ini luas dan dekat dengan laut sehingga kebanyakan dari penduduk di daerah ini mempunyai mata pencaharian sebagai nelayan. Setiap nagari yang ada di wilayah Minangkabau ini diatur oleh seorang wali nagari (lurah) yang membawahi beberapa kepala jorong (ketua RT jaman sekarang) dan mempunyai penasehat yang dinamakan Tungku Tigo Sajarangan yang terdiri dari tokoh agama nagari, cadiak pandai (kaum intelek) dan ninik mamak, mereka inilah yang disebut dengan Karapatan Nagari, keputusan-keputusan nagari selalu merupakan hasil musyawarah dari Karapatan Nagari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap senja menjelang terasa sekali daerah ini sangat indah dengan disirami cahaya matahari yang akan kembali peraduannya di balik laut yang begitu tenang. Suasana damai dan penuh keindahan ini tiba-tiba pecah dengan teriakan-teriakan para nelayan tersebut. Segera saja wali nagari dari nagari (desa) nelayan ini memburu datang ke tempat teriakan-teriakan itu. Ternyata sesampai di sana terlihat banyak orang mengerumuni 2 orang pria yang sedang bergumul di pantai saling tinju meninju dan gigit mengigit, terlihat para pemuda yang lain saling memberi semangat kepada temannya sehingga perkelahian ini menjadi lebih seru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat hal ini sang wali nagari langsung menjadi naik pitam dan berteriak untuk menghentikan kehebohan yang sedang berlangsung tersebut. Teriakan sang wali nagari ini membahana di setiap telinga orang yang ada di sekitar perkelahian tersebut, terlihat secepatnya orang-orang tersebut mengangkat tangan untuk melindungi telinganya dari bentakan sang wali nagari. Dan kedua pemuda yang sedang berkelahi juga otomatis menghentikan perkelahiannya serta buru-buru menutup telinga mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa orang yang ada di sekitar perkelahian tersebut cepat-cepat berusaha menyingkir dan menjauhi arena, walau tetap tidak meninggalkannya. Mereka tahu sebentar lagi mereka akan menjadi saksi kemarahan dari sang wali nagari yang terkenal dengan kegalakannya dan keanehannya dalam menyelesaikan setiap persoalan yang terjadi serta ilmu silatnya yang tinggi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan yang masih berani tetap tinggal di luar arena tidak berapa jauh dari kedua pemuda yang berkelahi tadi dan sekarang sedang berusaha berdiri dengan susah payah akibat di sekujur badan terdapat luka dan lembam. Begitu kedua pemuda itu melihat sang wali nagari yang sedang berdiri berkacak pinggang dengan pandangan mata yang dingin memiriskan hati langsung mereka tundukkan kepala dan mata mereka memandang pasir pantai. Sang wali nagari yang terus memandang mereka berdua dengan gemas dan jengkel sekali di dalam hati, karena kejadian perkelahian kedua pemuda ini sudah merupakan yang ke lima kalinya terjadi dalam minggu ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Persoalan mereka sebenarnya dibilang sepele memang sepele bagi orang lain, tapi bagi pihak terkait merupakan persoalan yang rumit dan menuntut harus ada penyelesaiannya segera. Sambil memandang mereka dengan bengis, sang wali nagari yang bernama Sutan Manenggang Bumi ini atau biasa dipanggil oleh warganya Wali nagari Bumi, memikirkan bagaimana cara yang terbaik menyelesaikannya dan membuat kedua pemuda ini jadi kapok berkelahi lagi. Suasana di sekitar arena menjadi hening tidak ada yang berani membuka suara dan sepertinya semua orang sedang menunggu hukuman mati dari sang wali nagari tersebut. Kedua pemuda itu semakin lama semakin tambah payah kondisinya karena seluruh tubuh terasa sakit dan lutut terasa seperti tahu akibat kelelahan tapi tetap mereka tidak berani beranjak dari posisi mereka karena mereka takut hukuman mereka akan semakin parah jika mereka berani bergerak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keadaan di tepi pantai tersebut semakin gelap seiring dengan masuknya sang surya ke dalam peraduannya dan buru-buru beberapa nelayan yang ada di sekitar situ membawa lampu-lampu minyak tanah untuk menerangi tempat perkelahian tersebut. Tiba-tiba terdengar sang wali nagari berkata dengan tegasnya ” Kalian sekarang ikut aku ke rumah.” hanya satu kalimat tersebut yang dikeluarkan oleh sang wali nagari lalu dia berbalik pulang menuju ke rumahnya. Tapi bagi kedua pemuda itu akan terasa seperti siksaan kesakitan yang berkepanjangan karena perjalanan dari tepi pantai ke rumah wali nagari mereka itu cukup jauh jika ditempuh dengan jalan kaki dalam kondisi seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orang mencoba membantu kedua pemuda tersebut, tapi langsung dibentak oleh sang wali nagari, ” Berhenti !!!”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Siapa yang berani membantu mereka akan menerima hukuman yang sama dengan mereka!!!”, langsung semua orang yang mencoba membantu berjalan menjauh dari kedua pemuda tersebut, mereka tahu apa yang dikatakan oleh sang wali nagari akan benar-benar dilaksanakan dan selalu membuat mereka jera untuk melanggar peringatan dari wali nagari Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entah kerasukan apa kedua pemuda ini yang bernama Sapar dan Keling sampai berani berkali-kali melanggar perintah dari wali nagari Bumi, padahal mereka tahu hukuman yang mereka terima nantinya akan membuat mereka tidak bisa makan dan tidur enak selama beberapa hari tapi tetap saja mereka melanggarnya. Dan hari ini mereka berdua tahu hukuman yang akan diterima akan semakin parah dari sebelumnya dan entah mereka bisa melewatinya dengan baik atau malah membuat mereka tidak bisa bangun dari tempat tidur selama sebulan hanya bisa berbaring dengan menahan sakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka tahu hukuman yang paling berat yang pernah diberikan wali nagari Bumi kepada salah satu teman mereka yang secara kurang ajar dan sadis memukuli ibunya sampai muntah darah dikarenakan sang ibu telat memasak makan malam mereka. Ketika hal ini diketahui oleh sang wali nagari, langsung dia menjemput anak kurang ajar tersebut dari rumahnya dan membawa pergi entah ke mana selama 3 hari, dan pulang-pulang sekujur tubuh anak tersebut penuh dengan luka dan lebam yang parah serta beberapa tulang yang patah setelah itu sang wali nagari melemparkan tubuh anak itu ke dalam rumah dan meninggalkan uang serta obat buatan iparnya, Siti, kepada keluarganya untuk merawat anak tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teman mereka tersebut selama sebulan tersiksa dengan rasa sakit dan selalu menangis kesakitan, tapi setiap orang bertanya kepadanya apa yang dilakukan oleh wali nagari Bumi, anak itu hanya menjawab sambil menangis pilu ”Memang aku yang salah telah menjadi anak durhaka sehingga pantas dihukum seperti ini, wali nagari Bumi sudah berbaik hati untuk mengingatkan aku atas dosa-dosaku” Berulang kali anak tersebut bicara seperti itu sehingga orang-orang tidak berani lagi mempermasalahkan hal ini pada sang wali nagari, dan hal ini juga menjadi pembicaraan orang-orang di sekitar daerah tersebut, membuat para anak-anak tidak berani lagi kurang ajar pada orang tua mereka. Dan sang pemuda yang durhaka tadi berubah menjadi anak yang patuh dan berbakti pada orang tua, ini semakin membuat penduduk tidak berani mempertanyakan apa sebenarnya hukuman yang diberikan oleh wali nagari Bumi kepada pemuda tersebut, sehingga dia berubah begitu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kali ini hati Sapar dan Keling semakin keder dan ketakutan, keringat dingin mengucur dengan derasnya seakan-akan udara malam terasa panas padahal di daerah pantai semakin malam udara semakin dingin. Dengan tertatih-tatih mereka berusaha berjalan mengikuti wali nagari Bumi yang sudah berjalan dengan santainya di depan mereka. Tiba-tiba Sapar terjatuh karena kakinya sudah terasa lemas dan orang yang ada di sekitarnya bergerak hendak maju menolong kemudian terdengar suara dengusan di hidung, langsung mereka mundur dan tidak berani lagi maju.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sapar berusaha berdiri tegak agar bisa berjalan lagi, dengan susah payah akhirnya dia berhasil berdiri dan melanjutkan perjalanan. Tidak lama giliran Keling yang jatuh seperti Sapar, dan kembali tiada orang yang berani membantu dia berdiri. Dengan susah payah dia berusaha bangkit berdiri tapi tidak seperti Sapar yang bisa berdiri lagi dengan sekali usaha, Keling harus berkali-kali untuk bisa berdiri, akhirnya dia bisa berdiri juga dengan lutut yang mulai gemetar, tapi untuk melanjutkan perjalanan dia lebih membutuhkan waktu dan tenaga agar bisa melangkah dengan perlahan-lahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali keheningan menyelimuti rombongan tersebut, setelah Keling mulai melanjuti perjalanannya. Tiba-tiba terdengar wali nagari Bumi berkata ”Jika kamu laki-laki berani berbuat berani tanggung jawab, musuh pantang dicari tapi kalau datang pantang dielakkan. Jadi laki-laki harus bisa membusungkan dada, tidak takut mati untuk kebenaran.”. Orang yang mendengar perkataan tersebut ada yang kebingungan, ada yang manggut-manggut tidak jelas mengerti atau tidak, ada yang tidak perduli, ada yang menjadi merenung, dan ada pula yang tersenyum-senyum seperti orang sinting. Tapi efek perkataan itu bagi kedua pemuda itu berdampak lain, terlihat di wajah mereka berdua berubah memancarkan kekerasan hati dan tekat untuk melanjuti perjalanan ini dengan semangat dan berusaha melupakan kesakitan yang diderita oleh tubuh masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan yang biasanya dilakukan oleh orang yang tidak sakit bisa ditempuh dalam waktu sebentar terasa menjadi lebih lama dikarenakan di sepanjang jalan kedua pemuda tersebut bergantian jatuh. Hampir mendekati rumah sang wali nagari, tiba-tiba mereka mendengar suara anak kecil laki-laki tertawa cekikikan, beberapa orang dalam rombongan langsung celingukan melihat sekeliling siapakah gerangan anak kecil yang tertawa itu. Dan kemudian mereka mendengar dia berkata, ” Lucu yah kedua uda (sebutan abang dalam bahasa Minang) ini sudah jelas sakit dan sempoyongan jalannya tapi masih saja paksa dirinya jalan dengan susah payah. Ayahkan hanya melarang orang membantu kalian tapi kan tidak melarang kalian memakai tongkat untuk bantu kalian berjalan.” kata anak kecil tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terdengar gumaman penduduk, ” Benar juga, wali nagari Bumi tidak melarang mereka memakai tongkat.” Sekarang penduduk tahu siapa anak kecil yang tertawa itu, dia bernama Aswin merupakan anak tunggal dari wali nagari Bumi dan baru berusia 7 tahun. Seorang anak laki-laki yang cerdik, lincah dan jenaka serta berani, semua penduduk sangat menyukai anak nakal ini, tidak ada yang dia takuti termasuk ayahnya, semua tidak bisa berbantahan dengan dia karena kecerdikannya, bahkan sang ayahpun sering dibikin pusing tujuh keliling karena kelakuannya. Tapi selama ini dia tidak pernah melakukan hal-hal yang merugikan atau menyusahkan orang lain sampai parah, paling karena kenakalan dan keisengannya mereka hanya berteriak-teriak saja, dan dia akan berlari-lari sambil tertawa-tawa melihat hasil keisengannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sapar dan Keling seperti tersadar dari mimpi, buru-buru mereka melihat sekeliling mereka untuk mencari kayu yang bisa bantu mereka berjalan. Tapi setelah lihat sana sini tidak kelihatan kayu apapun ada di sekitar tempat mereka berjalan. Kembali mereka merasa putus asa akibat terlalu lelah, letih dan sakit, tapi berhubung malu dengan teman-teman, mereka terpaksa harus berjalan lagi dengan susah payah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali bocah bandel tersebut tertawa-tawa katanya,”Kasihan juga melihat uda berdua, baiklah aku akan bantu kalian.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru selesai dia bicara, ternyata orangnya sudah berdiri di tengah-tengah kedua pemuda tersebut dan tangannya langsung mengangsurkan masing-masing sebuah tongkat, supaya bisa dipakai. Kedua pemuda itu sebelum menerima tongkat tersebut memandang ke depan ke arah wali nagari Bumi untuk melihat apakah beliau melarang tapi wali nagari Bumi tetap berjalan santai di depan sambil berbicara dengan ninik mamak (para tetua) daerah, Tetua Nurdin, Tetua Kanir dan Tetua Jasman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Melihat keadaan ini Aswin berkata,’ Ayo uda, ambil saja tongkat ini ayah tidak akan marah, ayahkan manusia juga tahu bagaimana parahnya keadaan uda, jangan sungkan pakai saja kalau ayah marah nanti aku yang tanggung jawab.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sambil saling melirik kedua pemuda ini malu-malu dan menggumamkan ucapan terima kasih, mereka menerima tongkat dari Aswin, dan pelan-pelan menyesuaikan diri supaya bisa berjalan menggunakan tongkat, dengan menghembus nafas lega mereka mulai berjalan dengan menggunakan tongkat yang terasa sangat membantu sekali untuk melanjuti perjalanan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hati mereka sangat berterima kasih kepada Aswin, dan malu hati karena dibantu oleh anak kecil, sedangkan orang-orang yang ada di dalam rombongan tersenyum senang memandang Aswin. Memang anak ini sangat nakal dan usil tapi juga anak yang baik suka membantu orang lain dalam kesusahan, pintar menghibur dengan saluangnya (sejenis alat musik tiup). Setiap orang yang mendengar suara tawanya, hati yang sedang susahpun terasa lebih ringan karena tawanya sungguh keluar dari hati yang bersih dan tulus. Selain itu Aswin juga merupakan seorang anak yang rupawan dengan satu dekik di pipi dan dagu serta sinar mata yang jenaka dan cemerlang membuat semua orang jatuh sayang padanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekarang Aswin mengikuti rombongan ini sambil bersiul-siul dan tersenyum ceria, penduduk yang ada dalam rombongan ini memandang dengan tersenyum melihat tingkah bocah ini. Tidak lama sampailah mereka di halaman rumah wali nagari Bumi, di halaman depan rumah ada 2 bangunan kecil seperti rumah utama tapi masing-masing hanya mempunyai 1 ruangan. Yang sebelah kiri merupakan lumbung penyimpanan padi desa, sebelah kanan merupakan penyimpanan peralatan mata pencaharian penduduk seperti layar, jala, alat pancing, dll yang sengaja disimpan wali nagari untuk kepentingan penduduk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke rumah bagonjong (rumah Panggung) dengan atap yang berbentuk tanduk kerbau dan berdinding ukiran khas Minang menjadikan rumah ini terlihat indah dan bersih. Rumah ini lumayan besar bagi ukuran penduduk di sini, mempunyai banyak ruangan dan kamar yang mempunyai fungsi masing-masing. Rombongan mengikuti wali nagari menaiki tangga kayu menuju ke dalam rumah, sampai di dalam wali nagari berbelok ke kanan menuju sebuah ruangan besar dan luas yang biasanya memang digunakan untuk kepentingan pertemuan bulanan tidak resmi wali nagari dengan tigo tungku sajarangan dan masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang ada tempat pertemuan resmi nagari yang dinamakan Balairung Sari Nagari atau Balai Adat, tetapi tempat itu jarang sekali dipakai dikarenakan terkesan resmi dan terasa kaku menjadikan orang merasa tidak leluasa untuk mengeluarkan pendapat secara santai. Sehingga Balai Adat ini digunakan untuk acara-acara resmi seperti menerima tamu-tamu dari pemerintahan pusat, pertemuan resmi dengan kepala-kepala jorong (ketua RT jaman sekarang) beserta tigo tungku sajarangan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi wali nagari Bumi dan penduduknya lebih menyukai menggunakan ruangan besar yang ada di rumahnya, lebih terasa akrab dan leluasa untuk menyampaikan sesuatu diantara mereka. Semua orang yang datang mulai mengambil tempat untuk duduk di atas permadani yang sudah digelar tuan rumah, dan terlihat kesibukan orang rumah ini untuk melayani yang hadir, wali nagari Bumi juga meminta kepada pelayan rumah untuk mengambilkan obat-obatan untuk kedua pemuda tersebut. Setelah kedua pemuda diobati dan para tamu sudah mendapatkan minuman pelepas dahaga, suasana menjadi tenang, dan pelayan rumah segera keluar ruangan dan menutup pintu agar tidak mengganggu pertemuan yang diadakan di dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertemuan ini dihadiri sekitar 20 orang termasuk tigo tungku sajarangan, orang yang bertugas menjaga keamanan desa, pengurus kewali nagarian, sedangkan penduduk yang lain sebagian pulang ke rumah, sebagian lagi berada di luar rumah duduk di bale-bale yang berada di halaman samping rumah sambil berbincang-bincang, menunggu hasil pertemuan di dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah suasana hening sejenak, terdengar wali nagari Bumi berbicara dengan lantang,”Marilah kita mulai pertemuan ini, seperti yang saudara-saudara ketahui kedua pemuda nagari kita ini berkelahi di tempat umum sehingga mengganggu ketertiban umum. Perkelahian ini sudah terjadi 5 kali dalam minggu ini, dan sudah berkali-kali saya memperingati mereka untuk menyelesaikan masalah mereka dengan baik-baik. Tapi sepertinya perkataan saya tidak ada artinya bagi mereka, oleh karena itu melalui pertemuan ini saya minta bantuan dari para sesepuh sekalian dengan cara bagaimana kita menyelesaikan kasus ini?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Sebenarnya apa yang terjadi?” kata tetua Nurdin kepada kedua pemuda itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mereka tidak menjawab, hanya tertunduk malu karena sekarang mereka merasa perkelahian mereka itu tidak ada artinya bagi para tetua dan ini membuat mereka semakin merasa malu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Sapar, kamu jawab mamak (paman), sebenarnya ada apa kamu terus saja berkelahi dengan Keling, jawab dengan jujur!” kata tetua Hamid yang merupakan paman tertua Sapar dari pihak ibunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semakin Sapar terdiam dan menundukan kepala, Sapar sangat takut pada mamaknya ini karena beliau sangat keras terhadap kemenakan-kemenakannya yang melakukan kesalahan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Eh, Sapar, dengar tidak pertanyaan mamak?”, terlihat Sapar menganggukkan kepala, ”Lalu kenapa sampai sekarang kamu belum menjawab?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena tidak juga terdengar jawaban dari Sapar, mulai mamaknya naik darah kepada kemenakannya sebelum sang mamak melampiaskan kemarahannya, sang wali nagari sudah mengangkat tangannya kepada tetua Hamid.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Biar saya saja yang menjawabnya, tetua. Persoalannya sebenarnya sederhana saja dari soal ejek mengejek terus meluas ke urusan naksir menaksir perempuan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Seperti kita semua ketahui saya memang memberikan latihan ilmu silat kepada semua pemuda kita yang berminat untuk menjaga keamanan nagari kita ini. Dan ilmu silat ini diberikan untuk tujuan yang baik bukan menjadi ajang saling menonjolkan diri. Tiga hari lagi saya mengadakan ujian untuk kenaikan tingkat dalam belajar ilmu silat, dan untuk tingkatan dasar yang paling menonjol saat ini adalah Sapar dan Keling.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lanjut wali nagari Bumi,”Mereka berdua ini selalu saja berusaha menjadi yang terbaik agar bisa menjadi pimpinan di tingkatan mereka, tapi karena kekuatan mereka berimbang maka pimpinan atas tingkatan dasar ini tidak pernah ada. Saya sangat menghargai ambisi mereka untuk menjadi yang terbaik, tapi ini bukan berarti harus saling mencelakai sesama teman……”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Dduuuuuaaaarrrrrr.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiba-tiba terdengar ledakan yang dahsyat sekali sehingga semua orang di dalam ruangan melompat dari duduknya saking terkejutnya akibat sedang serius mendengarkan wali nagari. Dengan cepat berhamburan keluar wali nagari, disusul petugas keamanan dan yang lain ke luar untuk melihat apa yang sedang terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata ledakan itu merupakan kerjaan jahil Aswin untuk mengagetkan orang yang sedang tidur-tiduran di pos keamanan yang kira-kira 10 tombak dari halaman depan rumah arah timur laut. Ledakan itu keras sekali bunyinya dikarenakan mercon yang digunakan oleh Aswin terlalu banyak dan digulung menjadi sebuah gulungan mercon yang sangat besar, jadi bila diledakan akan terdengar keras sekali karena mercon itu meletus bersamaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bocah nakal tertawa-tawa terpingkal-pingkal sambil bergulingan di atas tanah melihat wajah-wajah pemuda yang tadinya tiduran di pos keamanan tersebut. Orang yang punya rumah agak berjauhan dari lokasi kejadian bisa mendengar ledakan tersebut dengan keras, apalagi bagi orang yang mempunyai rumah dekat tempat itu, secepat kilat mereka berlarian keluar untuk melihat apa yang telah terjadi. Bisa dibayangkan bagaimana terkejutnya para penduduk sampai mereka perlu menenangkan jantung mereka sebelum mereka bisa bicara apapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekejab mata sampailah wali nagari Bumi di tempat kejadian, dan tidak lama tempat itu penuh dengan penduduk yang keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi. Sukar dilukiskan betapa murkanya wali nagari Bumi ketika mengetahui bahwa itu semua merupakan kerjaan anaknya yang bandel itu. Dengan muka yang merah menahan marah pelan-pelan wali nagari Bumi bergerak ke arah Aswin yang masih saja memegangi perutnya karena sakit, kebanyakan tertawa, para penduduk tahu bahwa anak nakal ini sebentar lagi pasti dihukum berat oleh ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebetulan Bunda Siti yang biasa membela anak ini sedang tidak ada di rumah, sudah beberapa hari beliau pergi dengan Kahar ke nagari tetangga yang cukup jauh letaknya dari nagari mereka untuk menolong mengobati penduduk yang kena wabah penyakit di sana. Jadi sekali ini tidak ada yang akan membela lagi bocah nakal ini dari amarah sang ayah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memikirkan hal itu beberapa penduduk yang memang sangat menyayangi bocah ini merasa kasihan, segera mereka bergegas ke arah bocah ini untuk melindunginya termasuk tetua Nurdin yang memang sangat menyayangi anak nakal ini karena tetua Nurdin melihat anak nakal ini seperti almarhum cucu kesayangannya yang meninggal akibat sakit yang pernah mewabah di nagari mereka yang juga menewaskan semua keluarganya yang lain.. Dan Aswin, anak itu sangat mengerti disayang oleh tetua Nurdin, dengan pintar dia mengambil hati sang kakek dengan memanggil kakekku dan selalu menghibur sang kakek supaya tidak kesepian dengan tiupan saluangnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kali ini tetua Nurdin tahu anak ini akan dapat masalah besar dengan kenakalannya seperti itu. Memikirkan itu segera tetua Nurdin menghadang wali nagari Bumi untuk mendekati Aswin, katanya,” Tunggu Bumi, jangan emosi dulu, bertanya yang baik-baik pada dia, apa yang terjadi, jangan kamu marah-marah dulu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan beberapa penduduk juga segera mendukung perkataan tetua Nurdin. Terlihat wajah wali nagari Bumi bertambah merah menahan geram melihat anaknya yang sekarang tiba-tiba sudah berdiri bersembunyi di belakang isteri tetua Jasman yang juga termasuk orang yang sangat menyayangi bocah nakal ini, berdiri berdampingan dengan beberapa perempuan lain untuk melindungi Aswin. Sepertinya hampir semua perempuan yang hadir di sana baik tua maupun muda bergerak ke depan untuk melindungi Aswin dari amukan ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini tidak mengherankan bagi yang melihat karena memang bocah bandel ini sangat disayangi oleh perempuan-perempuan ini dikarenakan wajah rupawannya, kata-kata manisnya dan perbuatan-perbuatannya yang menyentuh perasaan perempuan-perempuan ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari kecil sudah kelihatan bakat bocah ini menaklukan hati perempuan, seperti terhadap isteri tetua Jasman, Piah, ketika itu Piah sedang bersedih hati akibat suaminya yang melaut sudah beberapa hari tidak pulang sehingga dia kuatir sekali dan sering duduk di depan jendela rumah memandang ke laut dengan merenung mengharapkan suaminya segera pulang. Aswin yang sering lewat depan rumah itu melihat Piah murung begitu, merasa ingin membantu menghilangkan kesedihan Piah. Semenjak saat itu setiap Aswin melewati rumah itu dia selalu memberikan bunga hutan untuk Piah agar tidak murung lagi. Bunga hutan yang diberikan Aswin sangat indah dan bermacam-macam warna sehingga Piah yang memang menyukai bunga merasa senang sekali dengan hadiah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap Aswin memberikan bunga kepada Piah, dia hanya berkata,”Bibi, bunga ini kasihan sekali membutuhkan teman seperti bibi untuk menemaninya melewati hari.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selama seminggu penuh Aswin memberikan bunga-bunga itu, oleh Piah, bunga itu ditaruh di pot-pot, diberi pupuk, disirami sehingga menjadi tambah berkembang, sekarang setiap sore Piah sibuk mengurusi bunga-bunga pemberian Aswin. Sedikit demi sedikit kemurungannya berkurang, sampai saat suaminya pulang dia menceritakan kebaikan hati Aswin kepadanya. Setelah suaminya pulang, Aswin tidak pernah lagi memberikan bunga kepada Piah, tapi setiap lewat di depan rumah Piah, dia selalu memanggil Piah dengan tersenyum dan melambaikan tangannya saja, atau kadang-kadang dengan lucu dia berkata ,’ Bibi, bagaimana kabar bunga kita, aku harap dia bisa mendapat banyak teman di samping bibi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak saat itu bocah bandel itu sudah menempati tempat yang khusus di hati Piah, ini juga terjadi pada beberapa perempuan penduduk nagari ini, jadi bisa dimengerti sekarang mengapa mereka membelanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sang ayah yang tahu sifat anaknya yang nakal ini langsung berkata,’Aswin, kamu anak laki-laki atau bukan, kenapa kamu berlindung di belakang perempuan, apa tidak malu ?, ayah kan sudah bilang pada kamu jadi laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab bukannya bersembunyi seperti seorang pengecut.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang perkataan itu sangat ampuh, segera saja Aswin bergerak ke depan ayahnya untuk menerima hukuman karena dia tahu sudah berbuat salah sehingga menyebabkan ayahnya marah seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan cepat dia berkata,” Ayah, Aswin salah, maafkan Aswin.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Apa kamu tahu salah kamu ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aswin menganggukkan kepalanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Karena itu kamu pantas dihukum bukan?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Iya, ayah.” kata Aswin dengan tegas sambil menatap sang ayah. Memang anak ini bernyali besar, tidak takut mengakui kesalahannya dan keras hati, serta bertanggung jawab.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bumi mengirimkan ilmu suara kepada anaknya supaya tidak didengar oleh orang lain, katanya,”Aswin, ingat kamu sudah bersalah sehingga mengganggu orang lain. Oleh karena itu ayah ingin kamu tidak menggunakan tenaga dalammu untuk menerima hukuman apapun itu. Jadi kamu pikirkanlah sebaik-baiknya hukuman apa yang pantas buat kamu karena telah membuat orang lain terganggu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlihat Aswin merenung sejenak, dan orang-orang di sekitar mereka menunggu dengan gelisah sekali, karena mereka tahu sekali Aswin bilang hukumannya maka dia akan melaksanakannya walaupun itu menyakitkan bagi dia tapi tidak pernah dia mengeluh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Hukuman pukul pantat 20 kali.” kata Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langsung saja penduduk protes keras kepada wali nagari untuk tidak memberikan hukuman ini kepada Aswin karena hukuman ini terlalu berat bagi anak seumuran Aswin. Wali nagari Bumi mengangkat tangannya untuk meminta penduduk diam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Teman-temanku yang tercinta, aku berterima kasih kepada kalian atas perhatian dan limpahan kasih sayang kepada anakku, tapi anak nakal ini jangan kalian manjakan, bagaimana nanti dia besar ? apakah dia akan lolos dari setiap kesalahan yang dia perbuat ? akan jadi apa dia besar kelak?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa penduduk manggut-manggut mendengarkan perkataan wali nagari Bumi, tetapi tetap saja para perempuan itu protes dengan hukuman seberat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Apa tidak bisa diberikan hukuman yang lebih ringan?”,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Apa harus hukuman pukul pantat itu?”,&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Apa memang harus 20 kali pukulan?” kata tetua Nurdin lagi..&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wali nagari Bumi sambil geleng-geleng kepala dan menghela nafas berkata,”Ayah mana sih yang senang menghukum anaknya sendiri, tapi aku mengharapkan dia bisa menjadi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa, membela kebenaran, bertindak adil, dan arif bijaksana. Sekarang kalian terlalu melindungi dia, sehingga aku kuatir nanti dia akan menjadi orang yang tidak berguna dan pengecut menjalani kehidupannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Dan lagi bukan aku yang memberikan hukuman itu kepada dia, Aswin sendiri yang mengatakan hukuman apa yang pantas untuk kenakalan dia.” &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera para perempuan ini membujuk Aswin untuk merubah hukuman bagi dirinya sendiri, tapi Aswin menggeleng-geleng kepala dengan tersenyum dan berkata,”Terima kasih kepada paman dan bibi serta kakek dan nenek atas kasih sayangnya untuk Aswin, tapi yang dikatakan ayah benar kalau jadi laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Tapi Aswin, kamu masih kecil 20 kali pukulan itu berat sekali.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Jangan kuatir, paman Amin, hukuman ini memang pantas untuk Aswin, percayalah Aswin masih sanggup menerimanya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Kalian dengar sendirikan, Aswin akan menerima hukumannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Tapi Wali nagari Bumi,….”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Wali nagari Bumi, …..” kata Tetua Nurdin dengan emosi yang mulai naik…&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Apa tidak bisa…..”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wali nagari Bumi mengangkat kembali tangannya untuk menenangkan penduduk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Begini sajalah, supaya kalian tidak berpikir aku ayah yang kejam, maka hukuman Aswin kita laksanakan di sini agar kalian bisa melihat sendiri.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika melihat penduduk diam walau dengan wajah yang tidak puas terutama tetua Nurdin yang sepertinya sebentar lagi akan meledak emosinya, dengan cepat wali nagari bumi memanggil Andi dan Eri sebelum para penduduk protes lagi, untuk mengambil pentungan dan kursi duduk yang ada di pos keamanan itu. Kedua pemuda ini segera bergerak mengambil barang yang diminta oleh wali nagari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat mereka tiba dengan barang-barang tersebut, mulai para perempuan protes setelah melihat pentungan besar yang dibawa Eri, begitu sampai segera kepala Eri dijitak tetua Nurdin. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aduh, …”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan marah beliau berkata,”Eri, kamu ini benar-benar orang yang tidak punya perasaan, mengapa bawa pentungan yang besar ini apa sudah tidak ada yang lebih kecil ? Apa kamu buta tidak lihat sebesar apa si Aswin itu ?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Maaf guru, ini pentungan yang paling kecil yang ada di pos keamanan.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Masak tidak ada yang lebih kecil lagi.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Benar guru, ini yang paling kecil.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Sudah, sudah, tetua Nurdin, memang ini pentungan yang paling kecil karena kalo lebih kecil lagi bukan pentungan namanya tapi ranting.” kata wali nagari Bumi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Aswin ke sini, terima hukuman kamu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera Aswin berjalan ke arah bangku yang sudah disiapkan dan meletakkan telapak tangannya di bangku serta menggeser kedua kakinya ke belakang sehingga posisinya membentuk segitiga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata wali nagari Bumi,”Tetua Nurdin, karena bapak sangat menyayangi anak ini, bagaimana kalau hukuman ini bapak yang laksanakan ? Semua kuatir, kalau aku yang memukul, anak ini bisa jadi cacat nantinya. Tapi bukan berarti bapak menjadi main-main memberikan hukuman pada anak nakal ini, aku percaya bapak mengerti perasaan dan keinginanku terhadap anak ini.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetua Nurdin terdiam sesaat, tidak tahu harus berkata apa, tapi setelah dipertimbangkan memang lebih baik dia saja yang memukul anak ini, biar bagaimanapun dia tahu kekuatannya jadi lebih merasa tenang daripada sang wali nagari sendiri yang memukul Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera Eri memberikan pentungan itu kepada tetua Nurdin, dengan perlahan dia berjalan menuju tempat Aswin sedang menunggu. Sesampainya di situ, tetua Nurdin terdiam dan terlihat merenung, seakan tidak tega memukul Aswin. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Kakekku yang baik, Aswin percaya pada kakek.” sambil dengan tenang dia memandang tetua Nurdin bahkan memberikan senyuman manisnya pada sang kakek.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetua Nurdin segera mengambil sikap untuk mulai melaksanakan hukuman ini, penduduk yang tadinya merapat di sekitar Aswin mulai bergerak agak menjauh tapi tidak jauh-jauh karena kuatir Aswin akan kesakitan atau terjatuh akibat pukulan tersebut dan mereka cukup dekat untuk siap-siap menolongnya. Tapi wali nagari Bumi tetap menyuruh mereka mundur lagi sehingga tempat itu menjadi sedikit lebih luas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak lama terdengar, buk…, pukulan pertama sudah mendarat dengan mulus di pantat Aswin, menyusul bunyi buk lagi, buk…, buk…, dan seterusnya.. Anak bandel ini diam menerima hukuman tidak ada keluar dari mulutnya keluhan sakit, hanya keringatnya turun dengan derasnya dan wajahnya mengerenyit menahan sakit. Sempat pada pukulan yang ke sebelas dia jatuh berlutut karena lututnya lemas menahan sakit, tapi dengan cepat dia berdiri lagi agar hukuman ini cepat selesai. Dia melakukan permintaan ayahnya untuk tidak menggunakan tenaga dalamnya, jadi murni dia menerima hukuman itu menghajar pantatnya, sakitnya tidak bisa dikatakan tapi karena dia memang anak yang keras dan bertanggung jawab dia merasa ini hukuman yang pantas untuknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau saja dia menggunakan tenaga dalamnya, bukan saja dia bisa melindungi pantatnya dari hajaran tongkat itu, tapi juga bisa membuat tongkat itu patah. Tenaga dalam dia sudah termasuk dalam kategori tinggi, bisa disamai dengan pesilat tingkat 4 dalam sebuah perguruan besar. Selain mematuhi perintah ayahnya, sebenarnya dia juga sudah dilarang keras oleh gurunya untuk tidak menonjolkan diri kepada orang lain jika memang tidak dalam keadaan terpaksa. Gurunya tidak mau dia meyombongkan diri dan berlaku seenaknya saja mentang-mentang dia lebih dari orang lain. Aswin mematuhi larangan ini, karena dia tahu hukuman yang bakalan diterima dari gurunya lebih menyakitkan lagi, walaupun dia menggunakan tenaga dalamnya tetap saja tidak ada gunanya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Menurut kamu, hukuman apa yang pantas ayah berikan kepada kamu?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hukuman pukul pantat 20 kali.” kata Aswin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langsung saja penduduk protes keras kepada wali nagari untuk tidak memberikan hukuman ini kepada Aswin karena hukuman ini terlalu berat bagi anak seumuran Aswin. Wali nagari Bumi mengangkat tangannya untuk meminta penduduk diam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Teman-temanku yang tercinta, aku berterima kasih kepada kalian atas perhatian dan limpahan kasih sayang kepada anakku, tapi anak nakal ini jangan kalian manjakan, bagaimana nanti dia besar ? apakah dia akan lolos dari setiap kesalahan yang dia perbuat ? akan jadi apa dia besar kelak?”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa penduduk manggut-manggut mendengarkan perkataan wali nagari Bumi, tetapi tetap saja para perempuan itu protes dengan hukuman seberat ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Apa tidak bisa diberikan hukuman yang lebih ringan?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa harus hukuman pukul pantat itu?”,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa memang harus 20 kali pukulan?” kata tetua Nurdin lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wali nagari Bumi sambil geleng-geleng kepala dan menghela nafas berkata,”Ayah mana sih yang senang menghukum anaknya sendiri, tapi aku mengharapkan dia bisa menjadi pemuda yang berguna bagi nusa dan bangsa, membela kebenaran, bertindak adil, dan arif bijaksana. Sekarang kalian terlalu melindungi dia, sehingga aku kuatir nanti dia akan menjadi orang yang tidak berguna dan pengecut menjalani kehidupannya.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Dan lagi bukan aku yang memberikan hukuman itu kepada dia, Aswin sendiri yang mengatakan hukuman apa yang pantas untuk kenakalan dia.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera para perempuan ini membujuk Aswin untuk merubah hukuman bagi dirinya sendiri, tapi Aswin menggeleng-geleng kepala dengan tersenyum dan berkata,”Terima kasih kepada paman dan bibi serta kakek dan nenek atas kasih sayangnya untuk Aswin, tapi yang dikatakan ayah benar kalau jadi laki-laki berani berbuat berani bertanggung jawab.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;”Tapi Aswin, kamu masih kecil 20 kali pukulan itu berat sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan kuatir, paman Amin, hukuman ini memang pantas untuk Aswin, percayalah Aswin masih sanggup menerimanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kalian dengar sendirikan, Aswin akan menerima hukumannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi Wali nagari Bumi,….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wali nagari Bumi, …..” kata Tetua Nurdin dengan emosi yang mulai naik…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa tidak bisa…..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wali nagari Bumi mengangkat kembali tangannya untuk menenangkan penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Begini sajalah, supaya kalian tidak berpikir aku ayah yang kejam, maka hukuman Aswin kita laksanakan di sini agar kalian bisa melihat sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika melihat penduduk diam walau dengan wajah yang tidak puas terutama tetua Nurdin yang sepertinya sebentar lagi akan meledak emosinya, dengan cepat wali nagari bumi memanggil Andi dan Eri sebelum para penduduk protes lagi, untuk mengambil pentungan dan kursi duduk yang ada di pos keamanan itu. Kedua pemuda ini segera bergerak mengambil barang yang diminta oleh wali nagari.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat mereka tiba dengan barang-barang tersebut, mulai para perempuan protes setelah melihat pentungan besar yang dibawa Eri, begitu sampai segera kepala Eri dijitak tetua Nurdin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aduh, …”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan marah beliau berkata,”Eri, kamu ini benar-benar orang yang tidak punya perasaan, mengapa bawa pentungan yang besar ini apa sudah tidak ada yang lebih kecil ? Apa kamu buta tidak lihat sebesar apa si Aswin itu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maaf guru, ini pentungan yang paling kecil yang ada di pos keamanan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Masak tidak ada yang lebih kecil lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Benar guru, ini yang paling kecil.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sudah, sudah, tetua Nurdin, memang ini pentungan yang paling kecil karena kalo lebih kecil lagi bukan pentungan namanya tapi ranting.” kata wali nagari Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Aswin ke sini, terima hukuman kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Aswin berjalan ke arah bangku yang sudah disiapkan dan meletakkan telapak tangannya di bangku serta menggeser kedua kakinya ke belakang sehingga posisinya membentuk segitiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata wali nagari Bumi,”Tetua Nurdin, karena bapak sangat menyayangi anak ini, bagaimana kalau hukuman ini bapak yang laksanakan ? Semua kuatir, kalau aku yang memukul, anak ini bisa jadi cacat nantinya. Tapi bukan berarti bapak menjadi main-main memberikan hukuman pada anak nakal ini, aku percaya bapak mengerti perasaan dan keinginanku terhadap anak ini.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetua Nurdin terdiam sesaat, tidak tahu harus berkata apa, tapi setelah dipertimbangkan memang lebih baik dia saja yang memukul anak ini, biar bagaimanapun dia tahu kekuatannya jadi lebih merasa tenang daripada sang wali nagari sendiri yang memukul Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Segera Eri memberikan pentungan itu kepada tetua Nurdin, dengan perlahan dia berjalan menuju tempat Aswin sedang menunggu. Sesampainya di situ, tetua Nurdin terdiam dan terlihat merenung, seakan tidak tega memukul Aswin.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kakekku yang baik, Aswin percaya pada kakek.” sambil dengan tenang dia memandang tetua Nurdin bahkan memberikan senyuman manisnya pada sang kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetua Nurdin segera mengambil sikap untuk mulai melaksanakan hukuman ini, penduduk yang tadinya merapat di sekitar Aswin mulai bergerak agak menjauh tapi tidak jauh-jauh karena kuatir Aswin akan kesakitan atau terjatuh akibat pukulan tersebut dan mereka cukup dekat untuk siap-siap menolongnya. Tapi wali nagari Bumi tetap menyuruh mereka mundur lagi sehingga tempat itu menjadi sedikit lebih luas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tak lama terdengar, buk…, pukulan pertama sudah mendarat dengan mulus di pantat Aswin, menyusul bunyi buk lagi, buk…, buk…, dan seterusnya.. Anak bandel ini diam menerima hukuman tidak ada keluar dari mulutnya keluhan sakit, hanya keringatnya turun dengan derasnya dan wajahnya mengerenyit menahan sakit. Sempat pada pukulan yang ke sebelas dia jatuh berlutut karena lututnya lemas menahan sakit, tapi dengan cepat dia berdiri lagi agar hukuman ini cepat selesai. Dia melakukan permintaan ayahnya untuk tidak menggunakan tenaga dalamnya, jadi murni dia menerima hukuman itu menghajar pantatnya, sakitnya tidak bisa dikatakan tapi karena dia memang anak yang keras dan bertanggung jawab dia merasa ini hukuman yang pantas untuknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau saja dia menggunakan tenaga dalamnya, bukan saja dia bisa melindungi pantatnya dari hajaran tongkat itu, tapi juga bisa membuat tongkat itu patah. Tenaga dalam dia sudah termasuk dalam kategori tinggi, bisa disamai dengan pesilat tingkat 4 dalam sebuah perguruan besar. Selain mematuhi perintah ayahnya, sebenarnya dia juga sudah dilarang keras oleh gurunya untuk tidak menonjolkan diri kepada orang lain jika memang tidak dalam keadaan terpaksa. Gurunya tidak mau dia meyombongkan diri dan berlaku seenaknya saja mentang-mentang dia lebih dari orang lain. Aswin mematuhi larangan ini, karena dia tahu hukuman yang bakalan diterima dari gurunya lebih menyakitkan lagi, walaupun dia menggunakan tenaga dalamnya tetap saja tidak ada gunanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya hukuman itu selesai, langsung tetua Nurdin membuang pentungan itu jauh-jauh dan bergerak ke arah Aswin untuk menolongnya serta membopongnya, penduduk yang tadinya menjauhkan diri juga langsung mendekati mereka. Beberapa perempuan itu bahkan sudah memegang obat-obatan untuk mengobati Aswin, baju ganti karena bajunya sekarang sudah basah kuyuh karena keringat, entah sejak kapan mereka menyiapkan itu&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan sigap mereka menukar baju dan mengobati pantat Aswin sudah bertambah besar dua kali lipat dari biasa dan sudah berubah warna menjadi hitam keungu-unguan. Melihat hal ini beberapa perempuan itu menitikan air mata, dan tetua Nurdin terlihat menghela nafas dalam-dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Maafkan kakek yah Aswin, kakek terpaksa melakukan ini.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan lemah dan tersenyum, Aswin menjawab,” Kakekku jangan sedih, tidak lama lagi akan sembuh, terima kasih yah kakekku tidak memukul Aswin keras-keras.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hati tetua Nurdin semakin terenyuh mendengar kata-kata Aswin.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Lain kali kamu tidak boleh lagi berbuat nakal seperti itu, tidak selamanya kakek bisa melindungi kamu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;”Ya kakekku.” kata Aswin dengan senyum lemah dan mata yang masih bersinar jenaka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Wali nagari Bumi yang melihat hal ini hanya bisa menarik nafas panjang dan mengurut-urut dada melihat tingkah laku anaknya. Dia mengerti sekali bagaimana hormat dan sayangnya penduduk kepada dirinya dan keluarga, tapi yang tidak pernah dia duga selama ini ternyata para penduduk sedemikian besar cinta mereka pada Aswin. Dalam hati dia bertanya, apakah ini merupakan karunia atau musibah bagi sifat Aswin kelak, karena begitu banyak orang yang bersedia berkorban untuk dia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesudah itu wali nagari Bumi mendekati kerumunan penduduk dan Aswin, dia bermaksud menggendong anaknya untuk dibawa pulang, sehingga bisa dirawat dengan baik serta meneruskan pertemuan tadi yang tertunda. Tapi tetua Nurdin menolak wali nagari Bumi mengambil Aswin dari tangannya, kakek tua yang masih kelihatan segar dan kuat itu berkeras ingin menggendong dan membawa bocah bandel ini pulang ke rumah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya wali nagari Bumi mengalah, dan berkata kepada penduduk,” Terima kasih aku ucapkan kepada kalian yang telah begitu menyayangi anakku. Sekarang kita lanjutkan pertemuan tadi yang sempat tertunda.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti tersadar penduduk, bahwa ada masalah yang harus diselesaikan lagi, segera mereka semua berjalan, ada yang menuju rumah wali nagari, ada yang pulang ke rumah, ada yang kembali ke pos keamanan untuk berjaga-jaga sudah tidak berani tidur lagi akibat perestiwa tadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesampai di rumah dan Aswin sudah dibaringkan tengkurap di tempat tidurnya tidak lama sudah tertidur pulas karena keletihan, setelah memastikan Aswin baik-baik saja maka wali nagari Bumi dan tetua Nurdin keluar kamar Aswin dan berjalan ke ruangan pertemuan untuk melanjutkan pertemuan tadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah semua orang berkumpul, kembali pertemuan dilanjutkan. Akhirnya diketahui bahwa perkelahian ini dimulai dari perebutan kedudukan sebagai ketua kelompok dan berlanjut sampai pada perempuan yang sama-sama mereka sukai. Dari saling ejek mengejek sampai hina menghina yang berakhir dengan saling baku hantam. Kedua pemuda ini diberikan kesempatan membela diri dan hampir pula baku hantam kembali karena emosi mendengar pembelaan masing-masing pihak. Ini tambah membuat wali nagari Bumi marah, alhasil terlepas dari siapa yang salah tetap karapatan nagari memberi hukuman kepada kedua pemuda ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukuman yang diberikan berdasarkan perguruan silat, mereka tidak diperbolehkan ikut ujian kenaikan tingkat dan ketua tingkat serta tidak diperbolehkan ikut latihan silat lagi kecuali jika selama 1 tahun mereka bisa menunjukan maksud baik mereka untuk memperbaiki diri dengan menolong sesama yang membutuhkan pertolongan. Secara masyarakat, mereka diharuskan merantau selama 1 tahun untuk mencari pengalaman sehingga bisa membantu membentuk sifat mereka nantinya. Mendengar keputusan ini kedua pemuda itu terpaksa menerima, mereka menyesali diri karena hukuman ini membuat mereka tidak bisa belajar ilmu silat lagi dan menjauhkan mereka dari gadis pujaan mereka. Tapi di sisi lain mereka merasa lega juga karena hukuman ini lebih ringan dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Merantau merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Minang dari dahulu kala sehingga hukuman merantau bagi kedua pemuda ini dan keluarganya bukanlah merupakan hal yang terlalu memberatkan, karena kebetulan juga kedua pemuda ini sudah cukup umur untuk diperbolehkan merantau oleh keluarganya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hampir tengah malam baru pertemuan ini selesai, semua orang puas dengan hasil keputusan bersama itu, dan kedua pemuda tersebut sudah bersedia menerima hukumannya. Disepakati seminggu setelah hari ini, kedua pemuda itu harus meninggalkan nagari (kampung) untuk memulai perantauannya. Sang wali nagari menutup pertemuan tersebut, dan mulai orang-orang meninggalkan ruang pertemuan untuk pulang menuju rumah masing-masing. Sapar dan Keling dibantu keluarganya pulang ke rumahnya dengan dipapah, sempat sebelum pulang mereka membungkukan badan kepada wali nagari sebagai guru silat mereka untuk meminta maaf karena telah mengecewakan beliau.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya rumah wali nagari sudah sepi dari tamu-tamu, yang tertinggal para pelayan yang sedang membersihkan sisa-sisa sampah yang ditinggalkan dan merapikan kembali ruang pertemuan tersebut. Setelah selesai semuanya wali nagari menyuruh mereka untuk beristirahat dan dia sendiri sebelum masuk kamarnya, menyempatkan diri masuk ke kamar Aswin untuk melihat keadaan anaknya. Dia memandang anaknya yang pulas itu dengan mata yang memancarkan sayang yang mendalam, biarpun anak ini nakal dan sering buat dia pusing kepala tetapi tetap merupakan buah cinta kasih dari mendiang isterinya, yang harus dijaga dengan baik-baik sesuai amanah sang isteri. Setelah puas memandangi sang anak, dia keluar dan menutup pintu kamar anaknya dan kembali ke kamarnya untuk beristirahat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jauh malam menjelang subuh dan semua penghuni rumah sudah tertidur pulas, tampak sebuah bayangan memasuki kamar Aswin, bayangan itu memandang Aswin yang tertidur pulas, dan bergerak menuju ke arahnya, pelan-pelan bayangan itu membuka celana Aswin untuk melihat kerusakan di pantat Aswin. Sambil menghela nafas dan geleng-geleng kepala bayangan itu tersenyum kecil melihat pantat bocah itu yang sudah berubah warna matang keungu-unguan. Pelan-pelan bayangan itu merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah botol dan menuangkan isi cairan botol itu ke telapak tangannya dan mengusapkan ke pantat bocah itu. Segera terlihat reaksinya pelan-pelan warna keunguan itu berubah memudar menjadi agak kemerah-merahan gelap dan terus memudar menjadi agak kuning pucat lama kelamaan warna itu sudah tidak ada di pantat bocah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu bayangan itu kembali mengeluarkan botol lain dan menuangkan 1 butir obat ke tangannya, lalu perlahan-lahan memegang wajah Aswin dan membuka mulutnya, kemudian mendorong obat itu ke dalam mulut terus menutupnya, obat itu langsung cair begitu kena air liur Aswin dan secara tidak sadar Aswin menelan cairan tersebut, anehnya Aswin tidak merasakan apapun di mulutnya sehingga bocah ini tidak terbangun dari tidurnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlahan bayangan tersebut meraba-raba sekujur tubuh Aswin, dia ternyata memeriksa sekujur tubuh Aswin dan dengan menggunakan tenaga dalamnya mengurut beberapa syaraf penting dalam tubuh Aswin untuk memperlancar aliran darahnya yang tersumbat akibat memar di pantatnya serta membantu obat yang diminum Aswin untuk segera bergerak ke arah beberapa pembuluh darahnya yang pecah akibat pukulan pentungan itu dan mengobatinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah puas dengan hasil pemeriksaannya, pelan-pelan dia menaikan kembali celana tidur Aswin. Masih dengan tersenyum kecil bayangan itu membelai rambut Aswin, terdengar dia menggumam,” Anak nakal, ada saja tingkah lakumu, entah bagaimana kamu besar nanti, aku tidak bisa membayangkan apa yang bisa kamu lakukan untuk membuat semua orang pusing karena perbuatan kamu.”&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sambil kembali tersenyum simpul, bayangan itu membayangkan kenakalan apa yang dilakukan bocah ini suatu saat nanti bila dia besar, karena memang menurut ramalan yang telah dia hitung dari susunan bintang di langit, anak ini akan menggemparkan dunia persilatan dan kerajaan Pagaruyung dengan sepak terjangnya dan akan menjadi orang kepercayaan raja Adityawarman kelak. Oleh karena itu anak ini harus dibimbing sebaik-baiknya ke arah kebaikan karena dia juga sudah melihat dalam ramalannya jika anak ini tidak dibimbing dengan baik, dia akan menjadi orang yang paling jahat yang pernah dilahirkan di dunia ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa saat sebelum anak ini dilahirkan, dia mendapat wangsit dari kakek gurunya, Datuak Jangek Kuniang (Datuk Kulit Kuning), untuk pergi ke nagari Batang Kapeh, karena di sana akan dilahirkan anak yang luar biasa yang akan menjadi pewaris utama ilmu perguruan mereka. Dia ditugaskan kakek gurunya untuk melindungi dan membimbing anak ini sampai dia bisa menguasai ilmu perguruan mereka dengan baik dan membimbing akhlaknya untuk menjadi orang yang lurus hatinya. Memang ilmu perguruan mereka sangat sulit sekali untuk dikuasai karena banyak perubahan dari setiap jurus yang ada bahkan dia saja hanya bisa menguasai 5 jurus utama dari ilmu itu, sedangkan ilmu itu sendiri ada 9 jurus utama dengan beragam variasi gerakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena seiring dengan kelahiran anak ini, juga akan lahir anak iblis yang akan menjadi momok bagi manusia, jika anak ini menjadi sesat maka akan ada 2 iblis yang haus darah yang akan menghancurkan prikehidupan umat manusia dengan tindakan-tindakan kejam dan sadis mereka. Makanya kakek gurunya menugaskan dia untuk membuat keseimbangan alam tidak terganggu dengan membimbing anak yang dilahirkan di nagari Batang Kapeh itu untuk melawan iblis yang akan dilahirkan menjadi musuh abadinya kelak.Mengenai kelahiran anak iblis itu, kakek gurunya tidak mengatakan apapun padanya, jadi walaupun dia penasaran seperti apa anak itu kelak, tetapi dia tidak berani menanyakan kepada kakek gurunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kakek gurunya hanya berpesan untuk mendidik, mengawasi dan menjaga anak ini sampai akan datang orang hebat luar biasa untuk melanjutkan membimbing anak ini, dan dia harus melaksanakannya dengan baik karena kehidupan manusia kelak tergantung di tangannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat dia sampai di nagari Batang Kapeh bertepatan dengan hari kelahiran dari Aswin, dia melihat adanya perubahan alam yang hanya bisa dilihat oleh mata batin, di mana hawa kegelapan bergerak sama kuatnya dengan hawa terang, mengitari tempat kelahiran anak ini, dan aliran energi di sekitar rumah itu terasa penuh muatan kekuatan gaib mengelilingi seluruh rumah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika akhirnya anak ini lahir, energi yang ada di sekitar rumah tiba-tiba buyar seperti ditelan sebuah kekuatan yang lebih besar lagi yang keluar dari dalam rumah. Dan hawa kegelapan dan hawa terang secara bersamaan seperti tersedot ke dalam rumah seiring dengan tangisan bayi yang semakin keras memecah kegelapan malam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bersamaan dengan itu nun jauh di sebelah selatan di balik bukit dia juga melihat adanya pusaran hawa kegelapan yang pekat bergulung-gulung membentuk kerucut dan bergerak ke bawah dan terus menghilang di balik bukit. Hatinya berdebar keras sekali melihat keadaan alam seperti itu, kekuatan batinnya dapat merasakan lahirnya sang pembawa bencana bagi manusia dan ini membuat dia semakin bertekat untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh kakek gurunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu dia memutuskan untuk menetap di nagari Batang Kapeh ini agar bisa mengawasi anak ini, dia hidup membaur dengan penduduk nagari Batang Kapeh, tidak ada yang menyangka bahwa salah satu dari penduduk tersebut merupakan pendekar sakti yang paling mumpuni di ranah Minang ini. Dia merasa beruntung karena tidak ada penduduk yang mencurigai tindak tanduknya, penduduk hanya tahu bahwa dia merupakan pendatang yang ingin menetap di nagari ini setelah kematian seluruh keluarganya akibat wabah penyakit.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehidupan dia di nagari ini memberikan perasaan aman damai, tidak seperti dulu ketika dia masih berkecimpung di dunia persilatan, dia merasa hidupnya selalu saja ada masalah dan penuh keruwetan sehingga membuat dia jarang bisa tersenyum dan tertawa, tetapi sejak dia tinggal di sini kehidupannya benar-benar berubah dia bisa menikmati hidup seperti orang umumnya dan bahkan mendapat hiburan dengan kehadiran Aswin yang selalu meramaikan kehidupan di nagari ini dengan kenakalan-kenakalannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hari semakin menjelang pagi, sekali lagi dia memastikan anak ini tidak apa-apa, kemudian dia melangkah keluar dari kamar Aswin, sesampai di luar kamar, bayangan itu langsung berkelabat menghilang seperti gumpalan asap yang memudar kena tiupan angin. Kembali kesunyian menyelimuti keadaan rumah ini, tidak ada yang tahu bahwa sesaat lalu ada orang yang datang menjenguk Aswin tanpa setahu mereka semua bahkan wali Bumi yang berkepandaian tinggi sekalipun tidak dapat mendengar kedatangan bayangan ini. Dapat dibayangkan betapa hebat ilmu bayangan tersebut dan tidak ada orang yang dapat menduga siapa gerangan bayangan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;bersambung&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2728266448404398223-456347832915748904?l=julaicersil.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://julaicersil.blogspot.com/feeds/456347832915748904/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/2010/03/bagian-pertama-masa-lalu.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default/456347832915748904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2728266448404398223/posts/default/456347832915748904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://julaicersil.blogspot.com/2010/03/bagian-pertama-masa-lalu.html' title='Bagian Pertama : Masa Lalu'/><author><name>sieklie</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17612761808487395655</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
